Reinkarnasi Bos Mafia Ke Dunia Sihir

Reinkarnasi Bos Mafia Ke Dunia Sihir
Keputusan Xavi Dan Vani Serta Rencana Faramis


__ADS_3

Sebuah rasa yang berdegup dari lubuk hati yang memiliki arti sebuah argumen tentang adanya jarak yang membentang. Faramis dan kedua istrinya sampai dirumah.


" Hah, Ayah sudah pulang. Ibu juga, selamat datang kembali ... ."


Bentangan kehangatan seorang ayah yang siap mendekap kedua anaknya yang berlari-lari diantara rumput yang terpotong rapi di halaman rumah Faramis.


Faramis memeluk Xavi dan Vani. " Kalian sehat kan? Dan kalian tidak nakal saat kami tinggal? Atau kalian nakal terhadap tante Ruby? "


" Tidak kok ayah, kami selalu jadi anak baik. Iya kan, tante Ruby? " Dengan wajah polosnya Xavi memandang Ruby.


" Ah, iya. Mereka menjadi anak yang baik selama kalian tidak berada disini. " Sedikit memalingkan pandangan keatas Ruby tidak mau mengatakan yang sebenarnya terjadi.


" Kalau begitu, kalian nanti bisa ceritakan. Apa yang kalian lalui tiga hari ini bersama tante Ruby. " Faramis mengelus kepala kedua anaknya.


" Eh-hehe. Iya ayah. " Sambil memegang pipinya, Xavi sedikit bingung mau menceritakan yang mana.


Jamuan teh hangat yang menuansakan rasa kekeluargaan yang erat disajikan dengan penuh rasa mentari pagi.


" Oh iya Ruby, Apa aku bisa minta tolong kekamu lagi? " Faramis menyeruput teh dan melihat ke Ruby.


" Hem, memangnya apa yang harus aku lakukan? " Sambil memakan cemilan yang manis dan lembut dan berlapiskan coklat yang kental, Ruby memiringkan kepalanya.


" Jadi begini. Tujuanku ke Ibukota kemarin adalah untuk mendaftarkan Xavi dan Vani di Akademi sihir kerajaan. Dan kita tahu mereka masih kecil dan belum bisa mengurus semuanya sendiri. Jadi apa kau bisa menjadi wali mereka selama di Ibukota kerajaan? Masalahnya aku sendiri ada pekerjaan di desa Arcyd ini. Jadi tidak bisa ditinggalkan. " Faramis mencoba menerangkan apa yang akan dilakukan Ruby.


" Iya Ruby, ini akan mengajari mereka cara untuk mandiri. Meski begitu harus ada wali bagi mereka. Karena mereka masih kecil dan belum bisa melakukan apa yang orang dewasa bisa lakukan. Jadi aku mohon kamu bisa menjadi Wali mereka. Tentu saja kami akan membayar upahnya atas kerja kerasmu itu. " Marsa menambahi tentang apa yang diinginkan Faramis.

__ADS_1


Sambil menikmati manisnya kue buatan Silvana yang terurai didalam mulut dan bersamaan dengan seduhan daun teh yang hangat yang candu sekali. Ruby memutuskan. " Tentu saja, aku akan menjaga mereka selama di Ibukota Kerajaan nanti. Tapi bagaimana dengan tempat tinggal kita? Apakah kita akan berada di Istana Kerajaan? "


Faramis melirik kearah Marsa." Maksud dari keinginanku kali ini adalah supaya Xavi dan Vani bisa mandiri. Jadi kamu tidak akan berada di Istana Kerajaan. Melainkan kami menyewa sebuah Rumah di pinggiran kota yang cukup layak ditempati kalian bertiga. Kalau mereka berada di Istana Kerajaan nanti mereka malah akan terlalu dimanja oleh Kakeknya Geraldo. Jadi maaf soal itu. "


" Ah, tentu saja tidak apa-apa. Aku malah bersyukur karena aku sendiri tidak biasa tinggal di Istana Kerajaan. Akan lebih nyaman kalau tinggal sendiri. " Ruby mengiyakan keinginan Faramis.


" Baguslah kalau begitu. Dan satu hal lagi. Identitas Xavi dan Vani sebagai seorang keturunan Kerajaan di sembunyikan. Dan kami ingin kamu bisa menjaga rahasia ini! " Faramis mencoba menerangkan rencananya.


" Baiklah, aku tahu apa maksudmu dari semua itu. Kalian bisa mengandalkanku. " Ruby tersenyum karena mendapatkan pekerjaan baru yang menyenangkan.


" Kalian akan pergi besok ke Ibukota. Semoga mereka bisa mengerti keadaan yang akan mereka alami nanti. " Faramis kaget saat ternyata Xavi dan Vani berada di belakang mengintip dan mendengarkan.


" Oh, Xavi dan Vani. Jadi kalian mendengarkan? Yasudahlah. Lagian ini kan untuk mereka jalani. Jadi sini! " Faramis memanggil Xavi dan Vani.


Perlahan kaki-kaki kecil itu bergerak menghampiri Faramis. " Jadi kami akan berpisah lagi dengan Ayah dan Ibu? "


" Xavi, kita akan baik-baik saja selama kita berdua bersama. " Dengan senyumannya Vani menenangkan Xavi.


Bocah yang lebih muda dari Xavi mencoba meyakinkannya dan ini menjadikannya ingin terlihat tegar didepan Vani.


" Tentu saja Vani, tidak ada yang bisa menghalangi kita kalau kita bersama. "


Keputusan yang di ambil dengan sebuah pertimbangan yang sangat matang dan membuat semua sesuai rencana. Xavi dan Vani akhirnya akan meninggalkan orangtua mereka dan menggali ilmu di Akademi Kerajaan, di tingkat anak-anak seusia mereka. Yang memulai sebuah pelajaran sihir dasar. Karena sebuah kemajuan di bidang sihir yang membuat Akademi Sihir Kerajaan juga membuatnya untuk anak-anak. Setelah usia mereka Empat tahun, mereka bisa memasuki Akademi tersebut.


Hari mulai berganti dan Xavi dan Vani mulai mengganti baju mereka dengan seragam Akademi Sihir.

__ADS_1


" Uwo, Xavi kelihatan keren sekali dengan seragam itu. " Vani melihat Xavi yang memakai seragam Akademi Sihir.


" Tentu saja, karena aku akan menjadi seorang penyihir yang hebat suatu saat nanti. Huehehe. "


Tenaga hewan yang menjadi sumber altenatif yang ramah lingkungan dan kekuatan yang dapat menerobos badai aral melintang. Kereta kuda yang merupakan sarana transportasi di dunia ini telah datang untuk menjemput Xavi dan Vani untuk berangkat ke Ibukota Kerajaan.


Perjalanan yang cukup cepat bisa sampai ke Ibukota kerajaan. Dengan memakai kereta kuda dan akses jalan dari desa Arcyd ke Kerajaan sudah diperbaiki sejak Faramis menjadi Tuan Tanah di desa Arcyd.


Suasana Ibukota yang ramai seperti pasar dan menyesakkan karena krumuanan orang-orang.


" Huehehe. Ini yang aku senangi dari suasana Ibukota Kerajaan. Gadis-gadis yang cantik dan huehehe. Itulah alasanku membenci kakek yang melarangku untuk bepergian sendiri di Ibukota. Tapi, sekarang aku bebas. Huehehe. " Terlihat jelas bahwa Xavi merupakan keturunan Faramis dengan otak kotornya.


" Hem, Aku tahu apa yang sedang difikirkan oleh Xavi. " Sebuah tongkat tiba-tiba menyodok dahi Xavi.


... [ Klotak. ]...


" Aduh, apa-apaan ini Vani? Dan darimana kau dapat tongkat itu. " Xavi memegang dan mengusap dahinya yang sedikit benjol terkena tongkat Vani.


" Hem, aku tahu kau sedang berfikiran jorok. Dan itu untuk menyadarkanmu akan halusinasi yang berlebihan agar kau tidak dewasa sebelum saatnya. Nikmatilah masa kecilmu. " Vani seolah-olah bersikap dewasa.


" Oh, aku jadi tahu kenapa perbedaan sifat kita. Meski kita satu ayah. " Xavi kagum dengan sifat dewasa Vani.


Tiba-tiba ada seorang petualang yang lewat tepat disebelah kereta kuda mereka. " Huah ... ganteng sekali petualang itu ... "


Vani dengan semangat keluar jendela kereta. Dan Xavi melihatnya dan menghilangkan rasa kagumnya terhadap sifat dewasa Vani tadi. " Hah, ternyata aku salah menilai."

__ADS_1


" Hahaha, kalian memang saudara yang unik sekali. Sungguh menyenangkan saat aku diberi tugas sebagai Wali kalian. " Ruby tertawa terbawa suasana yang cukup menyenangkan menurutnya karena bisa bersama dengan Xavi dan Vani.


__ADS_2