Reinkarnasi Bos Mafia Ke Dunia Sihir

Reinkarnasi Bos Mafia Ke Dunia Sihir
Kedatangan Ruby Dan Cerita Srigala Putih


__ADS_3

" Aaaauuuu ... . "


Malam yang gelap diselimuti awan hitam tipis yang membawa bebarapa kubik air didalamnya mengitari langit desa Arcyd tempat Faramis dan keluarganya tinggal.


Dibalik pintu sebuah ruangan yang cukup gelap dan hanya diterangi oleh lilin kecil yang setenah terbakar yang mengorbankan dirinya untuk bisa menerangi seisi ruangan dengan cahaya redupnya yang perlahan tersenggol oleh hembusan angin bau yang keluar dari mulut para bandit.


" Huah, hei. Kalian tahu tidak tentang pemilik tanah di desa ini. Katanya dia adalah seorang Pahlawan perang yang memimpin Kerajaan ini pada sekitar lima tahun yang lalu. " Seorang Ketua bandit bernama Cobold sedang berdiskusi dengan para anak buahnya.


" Hah, kabar itu ternyata benar adanya. Lalu memangnya kenapa bos? " Salah seorang anak buahnya mencoba mempertanyakan apa hubungan keberadaan Faramis dengan itu semua.


... [ Plak . ]...


Kepala bandit itu di seblak oleh ketuanya. " Kau bodoh sekali, tentu saja dia memiliki harta benda dan kekayaan dari Raja Arcane. Dan kalian tahu kan keberadaan kita itu untuk apa? "


" Huehehe, tentu saja bos, keberadaan kita adalah untuk membabat habis harta benda miliknya. " Salah satu anak buah yang sedikit pintar menyauti omongan Bos bandit.


" Haha, kau cukup pintar untuk mengerti jalan pikiranku. " Cobold tertawa memikirkan harta benda yang mungkin dia jarah dari rumah Faramis.


" Lalu, bagaimana kita akan menjarah rumah itu? Bukankah kekuatan seorang pahlawan itu sendiri seperti monster yang sangat berbahaya buat kita. " Ada beberapa anak buah dari bandit ini. Tapi yang sedikit pintar dan sepemikiran dengan Cobold hanya typo saja.


" Kau benar tentang itu typo. Tapi menurut informasi yang aku dapatkan. Mereka semua akan pergi dua hari lagi menuju Ibukota Kerajaan Arcane. Dan kau tahu kan, rumah itu akan kosong tanpa penghuni. Kita bisa leluasa memanen disana. Huahaha. " Cobold dengan rencana yang sudah tersusun rapi karena informan yang dia utus untuk mengawasi keluarga Faramis.


Sementara itu di rumah Faramis. " Hoe, kenapa kalian tidak ikut ke Ibukota Kerajaan? "


Faramis sedang bertanya kepada anak-anaknya yang tidak mau ikut ke Ibukota Kerajaan.


" Ah, Ayah. Aku malas saat ketemu kakek. Dia selalu tidak membiarkanku pergi dari istana saat ada disana. Aku kan juga ingin keluar dari istana saat ada di Ibukota Kerajaan. " Xavi yang mengeluh karena kakeknya sangat khawatir sampai-sampai kalau Xavi dan Vani keluar istana harus dikawa limapuluh prajurit Kerajaan. Itu bagi Xavi dan Vani tidak bisa bebas bermain.


" Iya, itu ada benarnya. Masalahnya aku, Silvana dan Marsa tidak bisa mengawasinya karena ada urusan yang harus kamu selesaikan disana. " Faramis berfikir dan menemukan sebuah ide.


" Baiklah, jika kalian tidak mau ikut kesana. Aku akan meminta tante Ruby untuk menjaga kalian. Aku akan mengiriminya pesan untuk datang kesini. Mungkin dia bisa menjaga kalian. " Faramis segera menulis surat dan menerbangkannya dengan merpati surat yang dia punya.

__ADS_1


Waktu berlalu, sudah dua hari setelah malam itu. Dan dipagi hari ini saat Faramis dan kedua Istrinya akan berangkat ke Kerajaan. Mereka menunggu kedatangan Ruby untuk menjaga kedua anaknya. Dari kejauhan ada sebuah kereta kuda yang membawa penumpang yang tidak asing lagi bagi mereka. Ruby sampai sebelum Faramis pergi ke Ibukota Kerajaan.


"Huoo ... akhirnya, aku sampai disini. Sudah lama sekali aku tidak menginjakkan kakiku disini. " Ruby meloncat dari kereta kuda itu.


Tanpa basa-basi. Dia langsung memeluk Xavi dan Vina.


" um-um, huah ... ayah ... siap tante mesum ini? " Xavi terengah kehabisan nafas dipeluk Ruby.


" Oh, dia adalah tante Ruby, dia yang akan menjaga kalian selama kami berada di Ibukota Kerajaan. Oh Ruby, kau tumbuh begitu cepat sejak terakhir kita bertemu. " Faramis yang sedang memandang Ruby yang sudah sedikit dewasa dari sebelumnya.


... [ Klotak ... . ]...


Kepala Faramis Dijitak oleh kedua istrinya. " Kau sedang memandangi pertumbuhan apa ha? "


Silvana Marah dan Marsa memelototi Faramis dengan tidak menyenangkan. " Hadeh, aku lupa ada mereka berdua. "


" Hahaha, Faramis masih seperti dulu ya ternyata. Hoe, tidak baik lo menunjukkan sifatmu yang itu didepan anakmu. " Ruby terbawa suasana dan tertawa.


" Uwo, Vani sangat imut ya. Nanti kalau dewasa pasti cantik sekali. Ayo kita mengantar ayahmu dan ibumu yang akan pergi ke Ibukota kerajaan. " Setelah Faramis pergi dan mereka kembali ke rumah.


" Gerrrr ... " Cid yang baru melihat Ruby memasang kewaspadaannya.


" Aku benci sekali kalau ada srigala di hadapanku. Akan kubunuh dengan sabitku sekarang juga. " Saat Ruby mencoba menebas Cid dan di hentikan Xavi.


" Jangan bunuh Cid ... " Xavi menahan Ruby dengan berdiri didepan Cid.


" Eh, jadi dia peliharaanmu? Kau memelihara seeor srigala? Ayahmu harus kuberi pelajaran karena mengijinkanmu memelihara hewan seperti ini. " Ruby masih ingin mengayunkan sabitnya kearah Cid.


" Hem, sebenarnya ini memang keinginanku, dan aku yang meminta itu pada ayah, meski ayah pada awalnya tidak mengizinkannya. " Xavi menunduk.


" Hah, menyebalkan saat aku harus berdampingan dengan srigala disini." Ruby memandang tajam pada srigala peliharaan Xavi.

__ADS_1


" Cid, jangan nakal ya, nanti kamu disembelih sama tante Ruby. Kalau nanti kamu jadi srigala panggang. Aku tidak tanggung jawab ya. Hehe, sudah tante Ruby. Cid tidak akan berani nakal kok. " Xavi memerintahkan Cid supaya tidak mengganggu Ruby.


" hemmp ... " Cid yang murung karena di nasehati oleh Xavi.


" Oh, Cid yang malang. sini aku peluk. " Vani yang memeluk dan mengelusnya menjadikan Cid tidak murung lagi.


Malam pun tiba, sinar rembulan yang samar-samar terlihat sedikit dari celah awan yang berjalan dilangit yang bertabur sedikit bintang.


" Hoe, apa kalian ingin mendengar cerita kampung halamanku? " Ruby yang bersama dengan anak-anak sedang berada di ruang tengah.


" hem, kami mau mendengar cerita tentang tante Ruby. " Vani yang semangat mendengar tentang Ruby yang ingin menceritakan kampung halamannya.


Disamping itu. Kawanan bandit yang sedang merencanakan penjarahan sedang memulai aksinya dengan memakai topeng srigala putih.


" Oh, jadi manusia srigala putih itu sangat kejam ya tante Ruby. "Vani yang sedang asik mendengarkan cerita Ruby tentang srigala putih yang menyerang desanya.


" Untung warna Cid tidak putih. andaikan warnanya putih nanti akan aku cat jadi warna hijau. " Xavi memandang Cid yang membuat Cid bersembunyi di balik Vani.


" Tidak, Cid tidaklah jahat. Kalau dia jahat pasti sudah kusembelih dan kujadikan Srigala guling nanti. " Ruby mengelus-elus kepala Cid.


Waktu menunjukkan pukul 09.00 Xavi dan Vani belum tidur dan Ruby sudah molor karena mengantuk dari kemarin belum tidur.


Tiba-tiba Cid berlari kearah jendela dan mengerang melihat luar jendela.


" Gerrrrhhh ... . "


Xavi menghampiri Cid. " Ada apa Cid? Malam-malam begini. "


Sambil berjalan kearah jendela. Xavi melihat orang dengan topeng srigala putih sedang berusaha masuk ke halaman rumahnya.


" Hah, srigala putih. Ini berbahaya. Apakah mereka juga yang telah menyerang desa tante Ruby. Aku harus membangunkan tante Ruby. " Xavi kembali dan mencoba membangunkan Ruby.

__ADS_1


__ADS_2