
Seperti sebuah hewan yang hibernasi, Ruby tidur dan susah sekali dibangunkan. Tapi ini bukan masalah hewan yang lagi hibernasi.
" Tante Ruby, kenapa sulit sekali dibangunkan? " Xavi menggoyang-goyangkan badan Ruby supaya bangun, tapi tidak bangun-bangun juga.
" Xavi, lalu apa yang harus kita lakukan? " Vani merasa ketakutan.
" Jika tante Ruby tidak bisa dibangunkan, kita akan membasmi para srigala putih itu sendiri. Vani, kau tahu kan tempat panah cadangan mama Silvana? Sekarang kita akan berburu srigala putih." Xavi yang dengan serius membuat rencana perburuan srigala putih yang sebenarnya adalah bandit.
Sementara itu. Di pihak srigala putih.
" Hoe, jangan dorong-dorong. Tunggu sebentar. " Salah satu bandit yang mencoba menaiki pagar kesulitan.
" Kenapa juga harus kau yang ada diatas? Bokongmu terlalu besar untuk aku dorong supaya bisa menaiki pagar ini. " Typo yang merupakan tangan kanan bos bandit berada diposisi bawah sebagai penopang.
Akhirnya mereka berhasil menaiki pagar dan para bandit lain segera masuk termasuk Cobold. Bos bandit.
Tiba-tiba ada seekor srigala yang ternyata adalah Cid sedang berlari dan menggigit Cobold.
" Errggghhh ... . " Cid menggerang di hadapan Cobold dan kemudian dia berlari ke belakang rumah.
" Ah, kejar anjing itu. Dan beri dia pelajaran. " Cobold marah-marah karena bokongnya digigit oleh Cid.
Typo dengan beberapa temannya mengejar Cid yang sudah berada di belakang rumah.
Saat typo berlari dia terkena jebakan Xavi. Tali yang membentang telah membuat Typo dan teman-temannya terjatuh. Segera Xavi menyerangnya dengan tembakan api dari lima sisi sekaligus.
...[ Duar - duar - duar. ]...
Xavi segera berlari karena dia tahu teman dari srigala putih akan segera datang.
" Hah, apa itu? Cepat kita lihat sedang apa typo! "
mereka berlari dan menghampiri typo. " Bukankah tidak ada orang disini bos? Mereka semua sedang pergi ke Ibukota kan? Apakah ini sebuah teror hantu? "
" Jangan takut. Ini pasti hanya jebakan. Kita harus tetap melanjutkan rencana kita. " Cobold masih bersikeras dengan rencananya.
Tiba-tiba sebuah panah melesat dari atap rumah.
__ADS_1
...[ Suet, jleb-jleb. ]...
Dua anak buah Cobold lainnya terkena anak panah yang dilesatkan oleh Vani.
" Hah, kesabaranku sudah habis. Sekarang akan kudobrak sendiri rumah ini. " Cobold yang sudah marah tidak lagi perduli apa yang akan terjadi.
Cobold memegang pintu rumah dan dia tersetrum.
Bau daging bakar yang melintasi udara membuat typo menghampiri Cobold. " Hah, ada apa bos? Kenapa kau bisa gosong seperti aku? Kau kan tidak terkena serangan api tadi? "
" Aku semakin muak dengan semua jebakan dirumah ini. " Cobold mengeluarkan tombak kampaknya yang kemudian merubuhkan pintu rumah Faramis.
...[ Gubrak ... . ]...
Pintu rumah Faramis terjatuh membuat sang debu beterbangan hinggap ditelinga Cobold.
Tanpa terduga sebuah sabit muncul dari balik pintu yang roboh. Dan bukan Ruby yang sedang memegang sabit itu. Tapi Xavi sendang berdiri dan menghunuskan sabit tersebut kepada Cobold.
" Hah, ternyata cuma anak kecil. Akan kubereskan kau segera. " Cobold dengan senyuman tengik memandang Xavi.
" Tenang saja. Kali ini, anak ini akan menerima ganjarannya. " Cobold mengeluarkan tekanan mana yang cukup kuat.
" Jika kalian ingin bermain-main diluar halamanku. Aku masih bisa terima. Tapi kalau kalian sudah menerobos masuk kerumahku. Kalian akan tahu akibatnya. " Xavi dengan wajah serius menatap Cobold.
Xavi melihat cara Cobold yang memusatkan mananya pada senjatanya. Lalu dia mencobanya.
sebuah mana hitam yang menyelimuti Xavi seperti kabut hitam menyebar dan mengalir ke sabit Ruby yang dua bawa.
" Baiklah, seperti ini ya caranya. " Xavi tersenyum karena bisa menggunakan mananya pada senjata yang dia bawa. meski ukuran tubuhnya kecil dan membawa sabit dengan tiga kali lebih besar dari tubuhnya. Dia mencoba mengayunkan sabit itu.
... [ Slash ... Brell ... ]...
Para bandit itu terhempas keluar rumah dengan sabetan dari Xavi. " Hahaha, lumayan juga kau ini, anak kecil. "
Cobold maju menyerang dan masih di hentikan oleh Xavi. beberapa hempasan dan membuat Xavi kelelahan.
" Aku tidak biasa menggunakan sabit sebesar ini. Aku lelah karena terlalu berat. " Xavi terengah-engah.
__ADS_1
Di dalam rumah Faramis yang sepi. " Hoah, kenapa diluar sedikit ribut. Dan kenapa anak-anak bermain selarut ini. Akan kuberitahu pada mereka bahwa srigala putih akan menyerang mereka kalau mereka bermain diluar waktu malam hari. "
Ruby terbangun dari tidurnya. Dan berjalan keluar. " Hoe, anak-anak. Kenapa kalian bermain diluar malam-malam begini? Heh, siapa mereka? "
Ruby segera memanggil sabitnya yang berada di genggaman Xavi. " Kenapa kau tidak membangunkanku Xavi? "
" Eeeiihh, bukannya dia sendiri yang tidak bisa dibangunkan. Hehe. " Xavi hanya tertawa kecil mengingat Ruby lah yang sangat sulit untuk dibangunkan.
" Bos, hati-hati! Dia Ruby, dia orang yang bisa menyapu ratusan orang dengan sabitnya di peperangan lima tahun lalu. " Typo mencoba memberitahu Bos bandit.
"Lalu apa masalahnya, aku akan mengalahkannya dan menjadi legenda baru di Kerajaan ini. " Cobold tidak mau mundur.
" Ah, kalau begitu, aku mundur dulu ya. " Typo segera berbalik dan akan berlari sebelum anak panah yang melesat dan mengenai kakinya.
... [ suet ... jleb ... ]...
Vani dari dalam rumah yang tidak diizinkan Xavi untuk keluar karena berbahaya pun keluar dan memanah Typo tepat di kakinya.
" Huahh, sakit kakiku. Aduh, kenapa mereka bertambah lagi. Bocah sialan bertambah lagi. Hah, ini mengerikan. Aku bisa mati disini. " Typo menggigit kuku jarinya dan kebingungan.
" Oh, Vani. Kau juga handal dalam memakai busur ya? Baiklah, kalian cukup mengejutkanku malam ini. Tapi serahkan sisanya kepadaku. Karena disini aku tidak diminta hanya untuk menonton kalian memamerkan skill kalian. Aku disini untuk melindungi kalian. " Ruby yang baru bangun mengoceh terus.
" Hehe, kenapa tidak dari tadi saja bangunnya. " Xavi tertawa kecil dan berkata dalam hati.
"apa yang lucu Xavi? Kita akan tertawa lebar, jangan hanya tertawa kecil begitu. Setelah kita menghabisi para bandit ini. Eh, mereka mamakai topeng srigala putih? Aku benci kalian, dan kalian malah menyulut emosiku yang terpendam ini. "
Ruby melesat dengan cepat kearah Cobold, sebuah tebasan dilancarkan kearah Cobolt.
... [ Bruelll ... . ]...
Sebuah penghalang level tinggi dibuat oleh bandit itu untuk melindungi dirinya.
" Ooh, sebuah penghalang ya? " Ruby menaikkan Sabitnya dipundaknya dan berfikir.
Setelah selesai berfikir, Ruby mengangkat sabitnya keatas. " Maaf anak-anak. Aku akan menunjukkan sedikit hal yang tidak baik. Jadi tutup mulut kalian."
Ruby menghilang dan sinar rembulan yang tertutupi sebuah bayangan yang ternyata Ruby berada diatas Cobold dan dengan mana yang cukup besar mengalir di sabitnya, dia mengayunkannya.
__ADS_1