
Waktu berjalan begitu cepatnya, lima tahun setelah perang antara kerajaan Arcane dan Kerajaan Vender telah menjadi sebuah sejarah yang akan dikenang oleh semua orang.
Disuatu hutan, dua orang saudara beda ibu satu ayah yang sedang bermain, sedang mengintai seeor hewan sihir Wolf yang cukup besar.
" Hoe, Vani. Menurutmu kalau kita menangkap anjing itu. Apakah nanti kita dibolehkan Ayah untuk mempeliharanya?" Dua orang anak usia empat tahun sedang mengintai di semak-semak.
" Entahlah xavi, itu kelihatan berbahaya. " Vani merasa takut dengan Wolf yang ukurannya tiga kali lebih besar daripada tubuh mereka.
Xavi menepuk pundak vani. " Tenang saja. Aku pernah melihat Ayah menggunakan ini. "
Xavi meloncat dari semak-semak.
...[ Suet ... ]...
Sebuah rapalan mantra tidak tanggung langsung lima rapalan mantra yang dibuat Xavi. " Kau tidak akan lolos anjing manis. Kau akan kubawa pulang untuk jadi hewan peliharaan kami."
Wolf itu terkejut dengan rapalan sihir yang mengitarinya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa karena dengan cepat sebuah sambaran petir keluar dari rapalan sihir milik Xavi.
...[ Clirit - duar ... . ]...
Wolf itu langsung jatuh tak berdaya setelah tersambar petir.
" Sudah kuduga kan, ini akan berhasil. " Xavi tersenyum menyeret Wolf yang baru saja dia buru.
" Iya, kita berhasil. Tapi apakah ayah akan mengizinkan kita memeliharanya? " Vani memasang muka yang cemas.
Xavi berfikir sambil memegang janggutnya. " Entahlah. Tapi aku ingin membawanya pulang. Hehehe. "
Hari yang cukup cerah dengan awan yang mengitari langit membuat cuaca hari ini lebih teduh. Xavi dan Vani pulang membawa Wolf dengan cerianya.
" Hah, apa yang kalian bawa kerumah? " Silvana kaget dengan apa yang dibawa Xavi dan Vani.
" Ini cuma anjing yang kami temukan dijalan. Dia kasihan, makanya aku bawa pulang. " Xavi tetap ceria karena apa yang dia mau telah dia dapatkan.
__ADS_1
Marsa keluar dari dapur dan kaget. " Hah, apa yang kalian bawa kerumah? "
" Ah, itu tadi adalah dialogku. Dan aku sudah mengatakannya. " Silvana memasang muka yang suntuk.
" Oh, kamu sudah mengatakannya tadi ya. Hah, Apa yang kalian bawa kerumah? " Marsa mengulangi kata-katanya.
" Ah, sudahlah. Ini tidak akan berakhir cepat. Sekarang aku akan memanggil ayah kalian saja. "
Silvana berjalan kebelakang menemui Faramis yang sedang berada di kebun belakang rumah.
" Hah, akhirnya selesai menanam jagung. Cukup melelahkan. Sekarang Xavi dan Vina sedang bermain apa ya? " Faramis mengelap dahinya yang penuh keringat.
Silvana muncul dengan wajah yang jengkel. Kemudian menarik Faramis tanpa sepatah katapun. " Heh, apa yang kau lakukan. Kenapa menarik ku begini? "
" Sudahlah, nanti akan aku jelaskan kalau sudah berada didalam rumah. " Silvana menarik tangan Faramis dan membawanya kepada dua anaknya.
Setelah sampai di ruang tengah tempat Xavi dan Vina berada. " Uwow, kalian menangkap anjing ini? Hebat sekali kalian. Ayo kita pelihara dia. "
Faramis malah senang dengan apa yang dilakukan kedua anaknya.
...[ Duazz ... . ]...
Kedua wanita itu memukul kepala Faramis dan menghasilkan dua benjolan di kepala kanan dan kiri.
Keduanya lalu mengatakan. " Dasar Ayah yang tidak berguna. "
" Seharusnya kau memarahinya kan? Lihatlah, anak-anakmu membawa seekor Wolf liar dari hutan. " Silvana malah memarahi Faramis.
" Iya-iya, aku tahu itu. Tapi kita sebagai orang tua juga tidak boleh langsung memarahi mereka. Tanyakan dulu kenapa mereka membawanya kerumah. Dan kita juga tidak boleh sepihak memberikan mereka hukuman. Kalian sebagai ibunya juga harus paham itu. " Sisi kebijaksanaan Faramis muncul dan membuat suasana menjadi tenang.
Faramis menghampiri Xavi dan Vina, kemudian menepuk kepala Xavi dan Vina dengan lembut. " Xavi, kenapa kau membawa Wolf ini kerumah? "
Xavi merunduk dan menjelaskan. " Aku ingin memeliharanya. Ayah. "
__ADS_1
" Lalu, Vani. Kenapa kamu tidak menghentikan Xavi saat dia mau membawanya kerumah? Ini kan hal yang berbahaya. "
" Maaf, ayah. Tapi pendirian Xavi sangat teguh untuk membawanya pulang. Jadi aku tidak bisa menghentikannya. " Vani dengan mata ingin menangis menjelaskannya kepada Faramis.
" jadi kesimpulannya adalah. Apa kalian tahu kalau Wolf adalah hewan liar dan bagaimana jika dia tidak bisa jinak setelah kalian bawa pulang? Jadi, ayah hanya akan memberitahu kalian, jika kalian ingin melmelakukan sesuatu. Kalian harus memikirkan juga nanti harus bagaimana. Jangan asal melakukan sesuatu tanpa rencana kedepannya. Jadi kalian mengerti? " Faramis menasehati Xavi dan Vani.
Kedua anak itu menganggukkan kepalanya, tanda bahwa mereka mengerti apa yang dikatakan Faramis.
" Baiklah, karena Xavi yang menangkap Wolf ini dan dia yang ingin memeliharanya. Supaya tidak menjadi hewan yang liar. Maka Xavi harus menjalin kontrak dengan hewan ini memakai sihir kontrak atau lebih sering disebut skill penjinakan. Aku melihat ada beberapa tanda penggunaan sihir disini. Jadi Xavi? Apakah kau sudah bisa menggunakan sihir tanpa sepengetahuanku? " Faramis mengintrogasi Xavi.
" Em, iya ayah. Aku meniru cara ayah menggunakan sihir setelah melihat Ayah menggunakannya. Jadi aku mempraktekkannya dan berlatih menggunakan sihir itu. " Xavi menjelaskan kenapa dia bisa menggunakan sihir, dan ternyata dia hanya dengan melihat Faramis menggunakannya beberapa kali dan dia bisa menirunya.
" Baiklah, sekarang buatlah lingkaran sihir itu dibawah Wolf ini. Dan bayangkan kalian sedang berkomunikasi dan jalin kontrak dengannya. Ayo dicoba, kau pasti bisa. " Faramis ingin Xavi mencoba Sihir penjinakan.
" Tapi, bukankah Xavi masih terlalu kecil untuk sihir semacam itu? " Marsa sedikit khawatir dengan apa yang akan dilakukan Xavi.
" Tidak apa-apa. Jika terjadi sesuatu aku akan menetralkan efek sihirnya. " Faramis mencoba menenangkan Marsa yang khawatir terhadap Xavi.
Kemudian Xavi membuat sebuah lingkaran rapalan sihir dan berhasil menjalin kontak dengan wolf yang ia tangkap dihutan.
Faramis melepaskan ikatan pada wolf tersebut. Dan wolf tersebut berjalan kearah Xavi kemudian duduk didepan Xavi. Langsung saja Xavi mengelus kepala wolf tersebut dan dia senang sekali. Wolf tersebut merunduk dan ingin Xavi menaikinya.
" E ... apa tidak apa-apa aku menaikinya? " Xavi sedikit takut.
" Tentu saja, sekarang dia sudah jinak dan tidak akan menggigitmu. " Faramis mencoba menenangkan Xavi.
Akhirnya Xavi menaiki Wolf tersebut. " Em, apa aku boleh menamainya? "
" Tentu saja, kau kan majikannya, kau bisa menamainya. " Faramis tersenyum.
Xavi berfikir dan menemukan sebuah nama yang cocok untuk wolf itu. " Baiklah, sekarang namamu adalah Cid, dan ayo Cid! Kita keluar dan menerjang badai diluaran sana. "
Xavi dan Cid keluar rumah dengan semangat yang ceria. Diikuti Vani yang berlari ingin menaiki Cid juga.
__ADS_1
" Ah, Xavi! Tunggu aku! Aku juga ingin naik ... . "
Kemudian Faramis menghampiri kedua Istrinya. "Baiklah, sekarang giliran kalian. Dari sini kita harus belajar menjadi orang tua yang mendukung dan bisa menasehati anak kita. Dan kita juga tidak boleh semena-mena langsung memarahi mereka. Kita harus tahu dulu alasan mereka. Dan kalau bisa. Kita harus memberi solusi pada mereka tentang apa yang mereka tidak bisa hadapi sendiri. "