
Sebuah hembusan angin yang menerpa dihari yang sedikit berawan ini, latih tanding pun dimulai.
Sebuah serangan dari para murid ke Xavi dengan berbagai elemen langsung diarahkan ke Xavi.
Vani yang cemas sontak langsung berteriak. " Xavi ... . "
Sementara itu Iyanero mencoba menghentikan dengan berlari dari luar arena. Meski tidak sempat dan masing-masing murid sudah menembakkan berbagai elemen sihir ke Xavi.
... [ Bruell ... . ]...
Dengan suara yang sangat keras karena semua hantaman itu mengarah ke satu titik bersamaan. Lalu dari balik debu-debu yang beterbangan sisa dari serangan itu mulai menghilang, memperlihatkan Xavi yang masih berdiri tanpa sedikitpun bergeser dari posisinya semula.
Ternyata Xavi membuat sebuah penghalang dengan sihirnya. " Hem, aku rasa ini elemen yang cukup bisa diandalkan untuk menagkis serangan kalian semua. "
Sebuah barier hitam yang menyelimuti sekeliling Xavi yang tidak bisa ditembus oleh berbagai elemen yang ditembakkan langsung kearanya.
" Kekuatan macam apa ini? Dia bisa menangkis semua serangan yang diarahkan kepadanya. " Aspha terlihat jengkel karena serangan yang dia susun tidak berhasil melukai Xavi sedikitpun.
Barier hitam yang menyelimuti Xavi adalah barier sihir hitam yang dia pelajari dari buku Faramis yang dia pinjam. Barier dari sihir hitam bisa menyerap semua serang dari elemen sihir yang diarahkan kepadanya.
Barier itu kemudian menghilang dan Xavi pun bergerak. Gerakannya tidak bisa dilihat oleh mereka semua.
Dalam sekejap Xavi sudah membuat pingsan lima orang. Kemudian mereka menyerang Xavi dengan bersamaan. Tidak memakai sihir. Tapi, dengan penguatan tubuh. Karena sihir tidak berefek terhadap Xavi.
" Bahkan dengan penguatan tubuh, dia masih unggul diantara kami. Aku tidak bisa membiarkannya seperti ini terus. " Aspha yang terlihat sedang membuat sebuah sihir yang terlihat seperti sihir pemanggilan.
Xavi yang menghadapi enam orang langsung dengan penguatan tubuh, Xavi masih berada di atas angin. Mereka semua kelelahan bertarung langsung dengan Xavi. Lalu, Xavi membuat sebuah rapalan sihir di atas mereka. Sebuah hujan batu turun dan menghantam tepat dibagian belakang kepala mereka semua dan membuat semuanya tidak sadarkan diri.
Aspha sepertinya sudah selesai dengan sihirnya. Sebuah pedang dengan tampilan memiliki daya yang cukup kuat berhasil dipanggilnya.
Xavi yang melihat itu terlihat sedikit mengerutkan bibirnya karena dia merasa ini bukanlah ajang pamer pedang yang bagus.
" Hahaha, apa kau takut sekarang. Ha? " Aspha yang terlihat begitu yakin dengan kekuatan pedangnya menjadi sombong.
__ADS_1
" Hah, ini sudah kelewatan. Aku harus menghentikannya. " Iyanero yang akan menghentikannya. Tiba-tiba disuruh Xavi supaya tidak menghentikan ini.
" Hei, kau memiliki pedang yang bagus ya? " Xavi basa-basi.
" Hahaha, kau tahu juga ya? Ini adalah pedang yang sudah kubeli dengan harga yang tinggi. Tentu saja ini adalah pedang yang bagus untuk membuatmu menyerah dan segera membiarkanku bersama Vani. " Aspha yang mengira dengan pedang itu pasti bisa mengalahkan Xavi, dia terlihat senang sekali.
" Hem, memang pedangmu mahal. Tapi, jika kau yang menggunakannya. Itu hanyalah sebuah pedang yang akan patah dan kehilangan harga jualnya. " Xavi membuat sihir dimensi. Dia menarik sebuah pedang dari dalam sihir dimensi itu.
Sebuah pedang yang sangat kuat yang dia dapatkan dari Morgan. Yaitu pedang salinan dari pedang ayahnya.
Sebuah pedang katana yang memiliki warna hitam dan elegan ini sekarang berada ditangan Xavi.
" Pedang itu bukanlah pedang yang biasa. Bahkan tidak bisa dibeli dengan harga tertentu. Dia mendapatkan pedang itu darimana? " Iyanero yang menyadarinya tiba-tiba bengong.
" Hah, itukan pedang yang sama digunakan Ayah. " Vani dalam hati menyadari kalau pedang yang dibawa Xavi sama dengan pedang yang dibawa ayah mereka. Seorang legenda perang Kerajaan Arcane, Faramis.
Lalu sebuah serangan langsung dilancarkan Aspha kepada Xavi.
...[ Duar ... . ]...
...[ Wuss ... . ]...
" Apa-apaan ini? Benturan mereka sungguh dahsyat sampai menciptakan fenomena yang seperti ini. " Iyanero kaget dengan keadaan yang tidak diperkirakannya akan menjadi seperti ini.
" Xavi ... . " Vani yang masih mencemaskan Xavi, melihat samar antara Xavi dan Aspha yang saling berbenturan serangan.
" Hahaha, apa kau hanya bisa bertahan saja Xavi? Mana kehebatanmu yang tadi? Kau sekarang menjadi lemah atau bagaimana? " Aspha yang merasa sudah memojokkan Xavi terlihat begitu senang.
Xavi yang sedari tadi cuma bertahan karena jika dia membalas serangan Aspha, bisa saja Aspha malah terkena dampak yang cukup parah.
" Xavi terlihat terpojokkan sekarang ini. Eh, tunggu dulu. Kenapa ada yang aneh. Hah, pedang Aspha yang sedari tadi dibuat menyerang malah terlihat rusak parah. Sementara pedang Xavi tidak terlihat dampak dari serangan yang Aspha lakukan. Hei ... Aspha tunggu dulu. Kau bisa merusak pedangmu dan berbahaya sekali ... . " Iyanero berteriak dan tidak berani menghentikan pertarungan ini, jika dia salah langkah maka dia sendiri yang akan mati terkena serangan mereka berdua.
Setelah Iyanero memperingatkan Aspha. Pedang Aspha yang sudah terlihat rusak akhirnya patah.
__ADS_1
...[ Cring ... tring ... . ]...
" Apa yang terjadi? Bukankah dari tadi aku yang menyerang. Kenapa malah pedangku yang patah? " Alpha terlihat begitu kaget.
Dengan rasa yang kaget tersebut. Aspha berhenti dan bertekuk lutut. Lalu, Xavi yang masih berdiripun mengacungkan pedangnnya kepada Aspha. Lalu berkata. " Tadi, sudah kubilang kan. Meski pedangmu bagus, tapi jika kau menggunakannya asal-asalan. Maka, dia juga akan patah. Intinya bukan pedang itu bagus atau tidak, tapi orang yang menggunakan lah yang akan mempengaruhi seberapa berhargnya sebauh pedang. "
Setelah semua dianggap selesai. Xavi menyimpan pedangnya di sihir dimensi. Dan kemudian menghampiri Vani.
" Xavi ... . " Dengan lirih Vani memanggil Xavi.
Vani langsung berlari dan memeluk Xavi.
" Ehehe, apa-apaan ini, kenapa kau menangis Vani? " Xavi yang kaget karena tiba-tiba Vani berlari dan memeluknya.
" Huhuhu, diam kau Xavi. Aku khawatir tahu. Kau ini, huhuhu. " Vani malah memarahi Xavi.
" Eh, kok malah marah kepadaku? " Xavi jadi bingung.
" Sudah, kalau kau berani melakukan hal yang nekat begini lagi. Aku tidak akan memaafkanmu. " Vani menggerutu.
" Hadeh, tapi sekarang kau satu kelompok denganku kan? " Xavi mengelus kepala Vani.
" Huahaha ... . " Vani malah menangis semakin kencang.
" Hueh, kenapa malah semakin keras menangis nya. Aduh-duh. Cengkraman nya juga semakin kuat. " Vani semakin memeluk Xavi dengan erat seolah dia sangat mengkhawatirkannya.
Lalu setelah beberapa waktu sampai Vani berhasil ditenangkan oleh Xavi. Mereka pun diijinkan pulang lebih dulu oleh Iyanero.
" Hei, Vani. matamu merah itu ... nanti aku yang dimarahi tante Ruby kalau kau kelihatan seperti itu. " Xavi membuat Vani kesal.
" Hem ... ini kan memang salahmu. Biarkan nanti tante Ruby menyabitmu dengan sabitnya. Aku tidak peduli. " Vani kesal dan berharap semoga tante Ruby memarahi Xavi.
" Ehehe, lalu nanti kau akan menangisiku lagi seperti tadi kan? " Xavi membuat Vani merasa semakin kesal dan akhirnya dia lari.
__ADS_1
" Heh, tunggu Xavi ! Awas kau ya. " Vani mengejar Xavi yang berlari pulang.
Dua orang anak yang masih saudara ini terlihat kadang bertengkar kadang juga terlihat dekat seperti sekarang. Mereka yang di pisahkan oleh dua rahim dari ibu mereka masing-masing tapi masih sedarah karena ayah mereka sama. Lalu kali ini mereka akan melaksanakan tugas bersama. Akankah dimana mereka selalu bersama seperti saat mereka masih kecil akan kembali terulang karena sudah beberapa waktu mereka jarang bersama meski satu rumah karena kegiatan Xavi yang menjadi seorang petualang dengan penyamarannya dan menggantikan sosok dirinya yang didekat Vani dengan Cid yang meski Vani sendiri tahu kalau itu bukan Xavi tapi Cid si srigala peliharaan mereka.