
Suasana yang berubah cepat menjadi menegangkan karena ucapan Xavi kepada Raja Geraldo. Sebuah wajah yang sedikit membuat tanda tanya apakah Raja Geraldo marah atau tidak. Karena dengan wujud penyamaran Xavi. Geraldo tidak tahu kalau itu cucunya.
" Huahaha. Kau pemilik restoran yang hebat sekali. Aku bangga memiliki rakyat sepertimu. Berani menegakkan keadilan. Kau mirip seperti menantuku Faramis. Aku suka itu. Baiklah. Aku akan mengantri sesuai urutan yang ada. " Raja Geraldo teringat Faramis.
"Terimakasih atas pujian Raja Geraldo. Dan tolong bisa kami catat pesanan anda sesuai menu yang tersedia. " Xavi menjulurkan daftar menu dan selembar kertas untuk mencatat.
Haripun berlalu. Dan restoranpun sudah waktunya tutup karena sudah menunjukkan pukul 7 malam.
" Hah, cukup melelahkan hari ini. Dan terimakasih atas bantuan kalian. Dan nanti untuk bayaran kalian bisa ambil dengan Sela. " Sambil duduk nyender Xavi memegang kepalanya.
" Em, menurut saya, kami tidak perlu bayaran karena tugas kami adalah mengawal Tuan Muda Xavi. " Mikasa menghampiri Xavi.
" Ah, anggap saja ini sampingan kalian yang diberikan oleh orang yang menyewa kalian. Sudahlah, aku ingin membagi dua kelompok kalian dan bergantian tiap hari antara pekerjaan utama kalian dan sampingan ini. Bukankah jenuh jika kalian menjadi prajurit bayangan saja. " Xavi berdiri dan memberi saran.
" Iya, memang tidak ada yang salah jika Tuan kami memberi perintah seperti itu. " Mikasa sedikit ragu.
" Okeh, kita sudah tentukan, dan sekarang kau yang akan membagi regumu. Mana yang harus disini dan yang akan menjadi prajurit bayangan. Pastikan kau membaginya secara bergantian. " Xavi memberitahu Mikasa apa yang dia rencanakan.
" Baiklah, Tuan muda. " Mikasa menyetujui perintah Xavi.
Malam berbintang dan rembulan bersinar terang. Xavi malam ini pulang kerumahnya yang ditempati Vani dan Ruby. " Kau darimana saja Xavi? Anak kecil berkeliaran dimalam hari begini. Jika terjadi sesuatu padamu. Aku yang akan dibunuh Ayahmu, ayo jelaskan! " Ruby yang menghadang didepan pintu.
Xavi hanya bisa tertawa kecil dan memberikan masakan khas dari restorannya. " Ehehehe. Maaf, tadi ada restoran baru yang buka dan antriannya panjang sekali. Jadi aku terlambat pulang. "
" Hem, baiklah. Karena kau membawa makanan ini untuk permintaan maaf, jadi kumaafkan kali ini. " Ruby mempersilahkan Xavi masuk karena sudah meminta maaf.
__ADS_1
Vani yang berada dikamar dipanggil Xavi untuk mencoba makanan yang dia bawa.
" Hem, aku mencium aroma yang lezat. Apa yang kau bawa pulang Xavi? " Vani bertanya penasaran.
" Hehehe, ini adalah makanan yang enak yang perlu antri panjang untuk mendapatkannya. Jadi, kau harus berterimakasih kepadaku. " Xavi dengan wajah liciknya yang tersenyum didepan wajah Vani.
...[ Duak ... . ]...
" Aduduh, " Xavi kesakitan di perutnya karena ditendang oleh Vani.
" Hem, wajahmu terlalu dekat padaku. " Vani lalu berjalan keruang makan meninggalkan Xavi.
Mereka akhirnya berkumpul dan makan bersama.
" Hem, ini enak sekali. Ngomong-ngomong, ini masakan terbuat dari apa? " Ruby bertanya kepada Xavi sambil menggigit daging yang beraromakan lezat.
" Heh, naga tanah? " Ruby membayangkan seeokor naga tanah yang seperti kadal besar yang bersisik itu bisa menjadi enak saat diolah begini.
" Hah, ini hidangan ekstrim. Tapi, enak sekali. " Vani sudah tidak peduli dengan hidangan yang terbuat dari seekor naga tanah itu.
" Ehehe, baiklah. Untuk hari ini cukup. Eh, Cid dimana ya? Aku berhutang budi padanya karena sudah menggantikan keberadaanku disini selagi aku pergi menjadi petualang. Ah, akan kucari dia. " Dalam hati Xavi. Dia memikirkan Cid yang memiliki jasa pengganti dirinya.
Disebuah pohon yang cukup rindang. Seekor Wolf hitam yang sedang ada diatasnya melihat kearah kota. Tiba-tiba dikagetkan oleh Xavi yang tiba-tiba datang.
" Oh, Tuan Muda Xavi. Kenapa anda disini? " Seekor Wolf Hitam yang ternyata Cid langsung turun dari atas pohon.
__ADS_1
" Oh, Hai Cid. Kau mau daging naga tanah? " Xavi mengulurkan daging naga tanah pada Cid.
" Oh, apa tidak apa-apa? Aku juga dapat bagian? " Cid yang merasa bahwa dirinya cuma seekor Monster panggilan Xavi apakah berhak menerima sesuatu dari Xavi.
" Iyah, tidak apa-apa. Makan saja! Masih ada banyak kok. Nanti kalau kurang akan kuambilkan lagi. " Xavi memberikan pada Cid dengan menaruhnya diatas batu supaya Cid tidak perlu memakannya di bawah yang beralaskan tanah.
Cid yang baru pertama kali ini mencicipinyapun terlihat menikmati sekali. " Hoah ... ini adalah makanan yang sangat lezat tuanku. Hem, aku tidak menyangka kalau ini terbuat dari seekor naga tanah. "
Sambil mengunyah dan memakan habis daging naga tanah yang dibawakan Xavi. Cid terlihat senang sekali.
Wajah Xavi yang melihat kearah bulan yang bersinar dimalam ini ditemani Cid disampingnya yang telah selesai makan daging yang dibawakan Xavi tadi. Xavi terlihat seolah bertanya-tanya. Cid pun melihat ekspresi wajah Xavi yang demikianpun bertanya.
" Hei tuan. Apa yang sedang tuanku pikirkan? " Cid melihat kearah Xavi yang duduk menyender dipohon.
" Oh, tidak apa-apa Cid. Aku beberapa hari ini merasa sedikit hampa saja. Entah, mungkin ada beberapa hal yang sedikit mempengaruhi. Tapi, aku mencoba sesegera mungkin kembali ke kehidupanku lagi. Hem, aku merasa ada seorang yang aku rindukan. Tapi, aku sendiri tidak tahu siapa itu. Mungkin agak janggal ya? Tapi, begitulah aku merasakan hidupku. " Xavi yang melihat bulan dimalam hari pun memejamkan matanya hanya untuk sekedar menikmati suasana malam yang sunyi dengan deburan angin malam yang sejuk.
" Hem, entahlah tuan. Aku tidak terlalu mengerti dengan apa yang diucapkan oleh tuan. Andai aku bisa lebih pintar dan memahami itu. " Cid menunduk karena tidak tahu apa-apa.
" Hei, jangan bersedih begitu. Kau tidak perlu memikirkannya. Sekarang ini bukanlah dirimu yang salah. Hanya saja, aku sendiri yang seharusnya lebih bisa memahami diriku. Hem, baiklah. Aku akan mencoba kembali kepada kehidupanku dan menjalaninya dengan sungguh-sungguh kali ini. Aku tidak mau kalah dari rasa yang entah apa itu dalam diriku yang selalu mengusikku. Aku tidak akan kalah. Kali ini aku akan melakukannya. Walaupun itu takdir. Akan kuhancurkan takdir itu dan menyusunnya kembali menjadi apa yang kuinginkan. " Xavi berdiri dan melihat kearah bulan yang sedikit berawan.
" Hem, baiklah tuan. Aku tidak begitu mengerti. Tapi, aku akan selalu di belakang Tuan Xavi. " Cid yang setia dengan tuannya memberi dukungan pada Xavi.
" Hihihi. Hembusan angin malam ini membuatku menggigil. Aku akan kembali kedalam rumah. Kau ikut Cid? " Xavi menggigil kedinginan. Dan berjalan kembali ke rumah.
Cid yang mengikuti Xavi dari belakang berlari pelan. " Tunggu aku tuan! "
__ADS_1
Mereka kembali kerumah dan untuk pertama kalinya mereka semua tidur bersama. Atau bisa dikatakan ketiduran diruang tengah. Baik itu Ruby, Vani bahkan Cid yang kekenyanganpun ketiduran. Xavi yang juga ikut tidur dan memilih tempat ditengah-tengah dari ketiganya.