
Saat dia telah masuk bos itu melihat kearah Julian yang masih ditendang tendang oleh shine dengan sangat kuat, tapi tatapannya menunjukan ekspresi wajah datar seakan-akan hal itu yang sudah biasa baginya.
Tiba tiba bos itu berhenti dan langsung mengangkat tangannya untuk memerintahkan shine untuk berhenti. Shine yang melihat bos nya pun langsung menghentikan aksinya tersebut kemudian menunduk kearah bos nya dan langsung mundur dari situ
Kemudian bos itu langsung berjongkok dan melihat dengan seksama keadaan Julian yang sudah babak belur. “Jadi, bagaimana kau akan membayar ku?”
“To-tolong ampuni saya”Julian yang mendengarkan itu bukannya menjawab apa yang ditanyakan bos nya malahan dia lebih mementingkan keadaannya sendiri dan meminta pertolongan.
“HEIIII!!! Bos bertanya kepada mu” bentak Shine dengan perasaan geram karna tidak menjawab yang ditanyakan bosnya itu.
“Cukup” ucap bos itu dengan tenang. Kemudin dia langsung menarik rambut Julian dan bertanya sekali lagi pada Julian tapi Julian hanya menangis kesakitan karna tak mampu menahan rasa sakit itu.
Bos mereka yang sudah tak memiliki kesabaran lagi langsung menpar Julian berulang kali dengan begitu keras.
Plak plak plak plak
“To-tolong to-long, aku a-aku akan memberikan apa saja” tangis julian dengan wajah yang sudah babak belir dengan keadaan masih terikat dikursi.
Bos yang mendengar perkataan itu langsung berhenti menampar Julian. “Jadi, apa yang akan kau berikan” tanya nya dengan wajah tanpa ekspresi.
“Aku punya satu anak perempuan yang cantik dan satu anak laki laki. Aku akan memberikannya kepada bos”
Bos mereka yang mendengarkan itu merasa tidak tertarik dengan Julian dan langsung beranjak dari ruangan itu kemudian menyuruh bawahannya shine untuk membereskan Julian. “Kau bisa melakukan apapun yang kau mau” kata bos itu kepada shine yang membuatnya tersenyum.
Tapi saat bos mereka sudah mau melewati pintu, Julian mengatakan sesuatu. “Tung..gu, anakku memiliki kekuatan yang luar biasa. Di-dia yang sudah memotong tanganku, dia sangat kuat”
Bos itu langsung terhenti saat mendengarkan perkataan Julian. Julian tau bahwa bosnya itu sangat menyukai anak kecil yang kuat untuk dijual pada orang kaya atau dijadikan tontonan pertarungan.
Kelompok teror*s tato snake bukan hanya kelompok teror*s yang menyerang suatu negara saja tapi mereka adalah salah satu penjahat yang paling suka menculik anak kecil yang terlihat berpotensi tinggi.
Bos yang mendengar perkataan itu langsung membisikan kesalah satu bawahannya yang berada dibelakangnya untuk membawa julian keruangan miliknya. “Kau bawa dia keruangan ku”
“Baik bos” jawab bawahannya
Shine yang mendengar itu langsung merasa sedih tapi dia tetap mematuhi perintah bosnya itu.
Sesampainya diruangan bos mereka, Julian disuruh duduk didepan meja
“Lanjut kan apa yang kau katakan tadi” kata nya.
__ADS_1
Julian menjelaskan semuanya kepada bosnya itu tapi bukanya senang bos itu malah mengerutkan dahinya kearah Julian.
“Sekarang pergilah.”
....
Julian berlari begitu tergesah gesah dengan perasaan takut dan gelisah, tanpa dia sadar rumahnya yang kemarin malam dia tinggal kan dengan perasaan benci dan takut membuat perasaannya campur aduk.
Tapi Julian tetap berlari hingga dia masuk kedalam rumah dengan penampilan berantakan wajahnya yang babak belur, baju rumah sakit yang dia gunakan juga telah menjadi kotor karna debu dan sedikit percikan darah dari tangan kanannya yang telah putus.
Julian melihat kearah Nava dan Ava yang tengah duduk dikursi ruang tamu, kemudan langsung medekat kearah mereka.
Nava yang melihat ayahnya Julian pun langsung berdiri dan mengeluarkan pisau es dengan salah satu tangannya yang memeluk Ava.
Julian perlahan mendekat.
“Mau apa kau datang kesini?, aku sarankan kau untuk keluar jika kau ingin tetap hidup” kata Nava dengan nada bicara yang tegas agar menandakan bahwa kemukuatanya lebih tinggi dari ayahnya itu.
Julian yang mendengar itu langsung terhenti dan langsung bersujut dilantai sambil menangis.
“Anakku maafkan ayah mu ini”kata nya sambil menangis yang membuat Ava merasa kasihan dengan ayahnya itu.
“Ha?!! Kau ingin minta maaf atas semua yang telah kau lakukan? Kau berCANDAH HAAA?!!!” Nava yang sudah tak mampu menahan emosi langsung berteriak di akhir katanya.
“Kau membuat ibu jadi seperti ini, kau juga sudah menyiksa kami. Apa kau tidak mengerti dengan semua yang telah kau lakuakan” Nava mulai mengeluarkan air matanya tetes demi tetes karna dia mengingat semua yang telah terjadi pada dirinya, pada Nava yang sebelumnya, pada Ava dan pada ibu mereka yang kini telah pergi.
Julian yang melihat Nava menangis langsung mencoba memeluk mereka berdua tapi Nava malah mengatahkan dan mengatahkan pisaunya itu kearah ayahnya Julian.
“Kau, kau jangan mendekat kearah sini”kata Nava dengan ekspresi yang masih mengeluarkan air mata tapi diwajahnya terukir kemarahan yang begitu mendalam.
Julian pun yang melihat hal itu langsung bersujud kembali dan membenturkan kepalanya berulang kali dilantai dan meminta maaf kepada Nava dan Ava.
“Kak jangan menangis” Ava tidak menghiraukan ayahnya yang terus membenturkan kepala dilantai dan hanya memeluk kakaknya yang menangis. Ava pun yang melihat kakaknya menangis membuat matanya berkaca kaca.
Buk buk buk
Benturan itu sangat kuat hingga membuat kepala Julian terluka dan darahnya mulai bercucuran dilantai.
Nava mengusap air matanya dengan dengan lengan baju miliknya.” Baiklah, kau boleh disini tapi aku tidak pernah berkata bahwa aku akan memaafkan mu”.
__ADS_1
Julian yang mendengar itu langsung berhenti dan tersenyum” trimakasi-trimakasih , ayah akan melakukan apapun sampai kalian percaya pada ayah”
....
Jam sudah menunjukan pukul 9 malam dan Ava sudah tertidur tapi Nava belum tertidur sama sekali.
Nava membaringkan Ava ditempat tidur dan setelah melihat Ava yang sudah tertidur pulas Navapun langsung pergi keluar rumah dimana ayahnya berada.
“Sebenarnya apa yang kau rencanakan?” Tanya Nava yang berdiri dipintu.
Julian yang mendengar suara Nava langsung berbalik badan dan melihat kearah Nava “ayah hanya ingin meminta maaf. Setelah kepergian ibu mu, ayah menyadari betapa mengerikannya perilaku yang sudah ayah lakuakn kepada kalian”
“Tak usah menggunakan kata ayah ayah, karna itu sangat menjijikan dan sebaiknya kau katakan yang sebenarnya.” Kata Nava yang masih tidak percaya.
Julian yang mendengar perkataan itu langsung menundukan kepalanya dan berkata “ aku mengatakan yang sebenarnya bahwa aku memang sangat menyesal jadi percayalah walaupun itu hanya sedik” kata Julian dengan ekspresi wajah yang begitu sedih seperti meminta untuk dikasihani.
“Aku akan menegaskan hal ini kepada mu, jangan kau coba-coba menyetuh aku dan Ava jika tidak maka kau akan menyesali semuanya” ucap Nava dengan tegas dan langsung pergi dari tempat itu.
Ava yang berada dikamar mendengar semua percakapan mereka, dan ketika Nava kembali masuk kedalam kamar Ava pun langsung pura pura tidur kembali.
Kemudian Nava duduk ditempat tidur disebelah Ava sambil menangis tanpa suara.
Ava yang mendengar tangisan kakaknya yang ditahan tahan membuat dirinya ingin ikut menangis pula.
Tapi tanpa Nava sadari, Ava telah mengetahui segala yang sudah terjadi pada mereka selama ini.
....
Saat Nava sudah selesai menangis dia langsung mengunci pintu dan jendela dengan rapat dan terus berjaga semalaman, karna dia merasa tidak aman jika ayahnya masih berada diluar.
Tapi saat matahari akan muncul, Nava mendengar suara dari dapur seperti sessorabg sedang memasak, tapi dia tidak mau keluar dan hanya duduk dikursi untuk terus berjaga.
Saat marahari telah muncul sepenuhnya, Nava membangunkan Ava. Kemudian mereka keluar dari kamar mereka dengan hati hati, saat mereka keluar Nava melihat ayahnya sudah menyiapkan sarapan untuk mereka semua.
Julian yang melihat mereka keluar dari kamar langsung segera menghampiri Ava dan Nava. “Ayah sudah menyiapkan makanan untuk kalian berdua, jadi ayo kita makan bersama.”
Ava yang mendengar itu merasa begitu senang karna ini kali pertama ayahnya memasakan makanan untuknya. “Kak ayo kita makan”ujar Ava sambil menatap kearah kakaknya dengan mata berbinar binar.
Hati Nava langsung luluh saat diamelihat wajah adiknya yang begitu lucu. Tapi Nava tetap waspada dengan apa yang dilakuakan ayahnya itu.
__ADS_1
Nava pun duduk dikursi, Nava melihat dengan seksama makanan yang telah dimasakan oleh ayahnya itu. Sudut bibir Nava naik keatas, dia ingin mempermainkan ayahnya itu sekaligus mengecek makanan yang telah disiapkan jika makanan itu beracun atau tidak.