Reinkarnasi Kedunia Novel Hunter

Reinkarnasi Kedunia Novel Hunter
Eps 29. Penakluk moster ikan raksasa.


__ADS_3

Nava mulai mengembangkan dua jurus terbaru yaitu wall of water dan wind sword.


Jurus wall of water adalah salah satu jurus yang dikembangkang oleh Nava untuk bartahan dan melindungi sedangkan wind sword akan dugunakan untuk pertarungan jarak dekat.


Dan jurus yang akan Nava beritahukan pada Ava yaitu wind sword sebab kekuatan Ava adalah angin.


Tapi saat mereka sedang berlatih, tiba-tiba buih-buih raksasa mulai muncul kepermukaan air. Hal itu membuat Nava waspada.


“Apa yang?!” Pikir Nava menatap tajam kearah sungai tersebut.


sungai yang kira-kira lebarnya sekitar 15 meter nampak mulai mengeluarkan arus yang begitu kuat ditempat yang keluar buih-buih tadi.


Karna merasa akan terjadi bahaya, Nava menyuruh adiknya untuk mundur dan jangan terlalu dekat dengan sungai.


Ava pun mengikuti apa yang diperintahkan oleh kakaknya, saat mereka menatap dengan penuh ketegangan didalam sungai, tiba-tiba muncul ikan raksasa yang panjangnya kira-kira 7 meter memompat dari sungai itu.


Cahaya matahari yang begitu terang menyinari sisik ikan yang berwarna hijau yang membuat sisik itu bersinar begitu indah, air-air yang ikut terngkat bersamaan dengan ikan pun nampak berkilawan karna pancaran sinar matahari.


Nava dan Ava tidak berhenti memandangi ikan yang begitu indah itu. “Woaah”


Saat ikan itu masuk kedalam air, Nava dan Ava saling memandang dengan ekspresi yang masih terkejut.


“Ingin menangkapnya?”. Tanya Nava.


Ava menganggukan kepala pelan dengan mulut yang masih terbuka.


Mereka perlahan melihat keair disungai kemudian langsung melompat kedalamnya.


“Kyaa ha ha”


“Ayo kak, dia disana”.


“Ava, kamu tahan dia disana”.


“Awas ikanya mau lepas”.


Tanpa waktu yang lama mereka berdua tertawa gembira karna keseruan menangkap ikan yang besar.


“Dia berenang dikaki kakak”.


“Ha ha ha”.


Sampai setengah jam berlalu mereka berhasil menangkap ikan yang begitu besar itu.

__ADS_1


Dengan pakaian yang basah, mereka berdua mengangkat ikan yang tadi mereka tangkap. Nava pun yang tadi melepas bajunya kini langsung memakainya walaupun badannya akan membasahi baju miliknya.


Mereka berjalan dengan santainya seperti tidak ada apa-apa, semua orang yang mereka lewati terlihat begitu terkejut. Semua pandangan tertuju pada mereka berdua hingga mereka sampai didepan bar penginapan.


Nava mencoba memasukan ikan yang besarnya sekitar 2 meret setengah dengan panjang 7 meter, tapi tidak bisa masuk kedalam. Semua orang yang berada didalam bar semuanya menatap mereka dengan kebingungan.


“Kak ikangnya gk bisa masuk” tanya Ava.


“Apa kita potong aja supaya bisa masuk?”. Nava bingung harus melakukan apa.


“Tapi kan kita mau kasih ke kakek yang masih utuh”. Balas Ava dengan wajah gelisah.


Saat Nava dan Ava kibungungan dengan bagaimana cara memasukan ikan itu kedalam bar, seseorang berteriak.


“Ahhhh itu, itu, itu bukannya monster ikan yang sangat sulit ditangkap?”. Teriak seorang pria sambil menunjuk-nunjuk kearah Nava dan Ava.


“Ia benar, bukannya itu monster ikan yang berada disungai. Ikan itu kan sangat sulit untuk ditangkap?”. Balas yang lain.


“Wah benar”


“Bagaimana bisa dua anak kecil menangkap ikan itu?”


“Tapi kan bagus kalau ikan itu sudah tidak ada, kita sudah bisa bebas dari masalah disungai”.


Semua orang disana menjadi begitu ribut dan Nava yang mendengar itu semua langsung panik. “Bagaimana ini? Apa aku sudah melakukan kesalahan?”.


Ava hanya kebingungan melihat kakaknya yang sedang panik.


“Kenapa disini sangat ribut-ribut”. Ujar kakek pemilik bar yang keluar dari dalam bar. Tapi saat dia membuka pintu, dia melihat ikan yang sangat besar tergeletak didepan barnya dan kedua anak kecil yang dipekerjakannya ada didekat ikan itu dengan kondisi basah.


“Kenapa kalian basah? Dan apa-apan ikan besar ini?”. Ucap kakek itu kaget, tapi belum sempat Nava menjawab pertanyaan kakek itu, langsung disambung seseorang.


“Tuan Arthur, anak ini membawa monster ikan disungai.” Ujar seseorang.


“Haa?” Kakek itu merasa bingung lalu melirik kearah Nava yang sudah terlihat gelisah “Huuuuu”. Saat melihat wajah Nava yang sudah panik dan kebingung, kakek tua itu pun langsung menghela napas.


“Yang penting monsternya sudah dibunuh dan sungai sudah bisa digunakan kembali”. Ucap kakek itu sambil mengayunkan tangannya kedepan seperti menyuruh orang-orang disana pergi.


Kekak itu pun menepuk pelan pundak Nava dan Ava. “Ayo masuk, kalian punya tamu didalam”. Ucap kakek itu lagi.


“La-lalu bagaimana dengan ikan ini?”. Tanya Nava dengan suara yang gagap.


“Kami membawa ikan ini untuk kakek”. Sambung Ava.

__ADS_1


“Huu”. Kakek itu menghela naps lagi sambil tersenyum katanya.” Trimakasih, nanti kakek yang bawa masuk ikannya. Kalian cepat ganti baju”.


“Baiklah”. Ucap mereka bersamaan. Tapi saat berjalan masuk Nava melupakan sesuatu, dia lupa kalau mereka hanya punya baju itu. Baju itu pun pemberian dari suster rumah sakit untuk mereka berdua sebab baju mereka sudah rusak karna pertarungan didalam kapal.


“Eh emm, tapi kakek kami sudah tidak memiliki baju”. Nava membalikan badannya membali kearah kakek itu sambil memegang bajunya.


Kakek itupun inisiatif menuntun mereka menuju kesuatu gudang, dan menyuruh seseorang untuk membawa ikan itu untuk masuk kedalam dapur.


Didalam gudang itu nampak barang-barang tua yang terlihat indah dan disana juga nampak bersih dan teratur, tidak seperti gudang pada umumnya yang berdebu dan kotor.


Kakek itupun mengambil sebuah kotak kayu dan dibukanya. Didalam kotak itu nampak banyak sekali pakaian anak kecil yang terlipat rapih dan masih sanat bagus.


Kakek itu pun memberikan mereka baju.


“Ini untuk mu”. Kata kakek itu sambil memberikan baju petualang berwarna biru tua kepada Ava.


“Dan ini untuk mu”. Kemudian Nava diberikannya dres putih yang nampak anggun tapi dres itu memiliki lengan pendek yang membuat Nava tidak nyaman.


“Apa aku bisa memilih baju milik ku?”. Ucap Nava tidak enak.


“Baiklah kau bisa memilih pakaian yang kau inginkan”.


Nava memilih baju petualang yang biasa digunakan oleh laki-laki yang berwarna biru tua dan dipundak kanannya terdapat bulu hewan.


Nava memilih baju itu karna terlihat simpel dan bisa melindunginya.


Setelah selesai mengganti pakaian, Nava dan Ava dituntun oleh kakek itu menemui seseorang.


“Itu dia orangnya, dia mencari kalian berdua”. Mata Nava terbuka lebar, dia melihat Yami yang duduk dimeja dekat jendela sambil merokok dengan santainya.


“Paman!” Panggil Nava kepada Yami.


“Aku sudah bilang jangan panggil aku paman, umur ku masih 20 tahun”. Balas Yami yang perlahan menuju kearah Nava dan Ava.


“Kalian berdua terlihat sangat bahagia yah”. Ucap Yami tersenyum sambil mengusap kasar kepala mereka berdua. “Aku lihat kalian baru membuat kehebohan yah ha ha ha”. Ucapnya lagi sambil tertawa kemudian melihat kearah 2 orang pria dewasa yang nampak kesulitan saat mengangkat ikan yang Nava dan Ava bawa.


Wajah Nava mulai memerah saat melihat Yami yang berbicara padanya, hal itu memang wajar karna umur jiwa Nava sudah 24 tahun jadi dia pasti lebih menyukai pria dewasa.


Ava bingung melihat wajah kakaknya yang memerah. “Kak, kenapa wajah kakak menjadi merah?, kakak demam?”.


“Ti-tidak”. Jawab Nava menjadi salah tingkah.


Kakek yang melihat itu hanya tersenyum kecil kemudian pergi dari sana.

__ADS_1


Janga lupa like, comment, vote and give nya.😘 dukung selalu author agar..... agar ... emmm agar bisa lanjutin ini terus🤣.


__ADS_2