
“Kau coba duluan” ujar Nava yang tanpa basa basi langsung menggeser piringnya ketempat ayahnya berada. Siapa juga yang tidak curiga jika orang yang selama ini melakukan hal buruk tiba tiba langsung berubah menjadi baik.
Julian yang melihat makanan itu merasa gugup hingga wajahnya menjadi pucat dan perlahan-lahan air diwajahnya mulai turun.
Walau pun lambat tangannya mulai menggapai sendok yang berada dipiring itu, dia menelan ludahnya hingga mengeluarkan bunyi yang dapat didengar oleh Nava dan Ava. Sebelum Julian memasukan makanan itu kemulutnya, dia melihat Nava yang seolah olah sedang tersenyum licik.
Julian kemudian memasukan makanan itu kemulutnya tapi dengan mata terpejam, dia mengunya, mengunya makanan itu hingga pada akhirnya ditelan.
Suasana saat itu sangat sunyi, seakan akan seseorang menunggu sesuatu terjadi. Tapi tak ada yang terjadi.
Karna Ava sudah merasa lapar dia pun langsung mengambil makanan nya, tapi saat Ava ingin makan, kakaknya langsung menghentikannya dan menunggu lebih lama lagi apa terjadi sesuatu pada ayahnya itu atau tidak.
Lima menit telah berlalu dan Nava masih memperhatikan ayahnya, tapi tak ada apapun yang terjadi.
Lalu Nava mengambil sendok dan mengisinya dengan makanan yang ada di piring. Dia mengendus-endus makanan itu agar mengetahui apa makanan itu beracun atau tidak, tapi sayangnya tidak ada bau yang aneh dari makanan itu sehingga dia kemudian menjadikan dirinya sebagai kelinci percobaan dan langsung memakan makanan tersebut.
Karna mungkin saja ayahnya memang sudah berubah, sebab ini bukan hanya untuk dirinya tapi untuk Ava karna Ava membutuhkan sesosok orang tua untuk membimbingnya.
Nava mengunyah makanan itu dan menelannya, dia tidak merasakan apa apa dan menyuruh adiknya untuk ikut makan juga.
Tapi saat isi piring Nava sudah hampir habis, dia mulai merasa pusing, dia kemudian melihat kearah adiknya yang mulai tertidur kemudian hampir jatuh kelantai. Nava mencoba mengkap adiknya yang akan jatuh tapi karna dia juga sudah tidak memiliki tenaga dia pun ikut tergelatak dilantai.
Saat Nava tergeletak dilantai dia masih bisa membuka matanya. Dia mlihat seorang pria tinggi, menggunakan jeket hitam dengan tato ular kecil dipunggung tangannya sedang berbicara dengan Julian ayahnya.
Nava mencoba mengeluarkan kekuatannya tapi dia tidak bisa mengendalikannya hingga Nava pun tertidur dilantai bersama adiknya.
....
__ADS_1
“Aku sudah melakukannya, jadi apakah hutangku bisa dihapuskan setengahnya?”tanya Julian.
“Itu kau bisa membicarakannya dengan bos secara langsung” jawab pria itu dengan wajah datar sambil menggendong Nava dan Ava untuk dibawa pergi.
Julian yang mendengarkan jawaban itu mulai merasa gelisah tapi dia sedikit lega karna bos nya bisa merasa puas.
...
Saat Pembicaraan Julian dan bos kemarin malam diruangan bos nya.
“Lanjut kan apa yang kau katakan tadi” tanya bos nya itu sambil memangku kaki.
Julian pun menjelaskan secara rinci semua yang diketahui dan dialaminya. Dia menjelaskan tentang kekuatan Nava yang begitu hebat sampai sampai bisa memotong lengannya itu.
Bos yang mendengar hal itu mulai mengerutkan dahinya. Walaupun dia tertarik dengan Nava tapi dia juga merasa Nava itu bisa menjadi sangat berbahaya. Tapi walaupun begitu, perasaan menginginkan Nava lebih mendominasi dirinya.
Julian yang mendengarkan itu langsung mengguk anggukan kepalanya dan bertanya tampa tau malu. “Bos jika aku memberikan anak ku, apakah hutangku bisa dipotong setengah?” Tanya Julian seperti seorang penjilat sejati.
Bos yang mendengar itu pun tertawa terbahak bahak dan mengatakan.” Jika kau melakukannya dengan baik maka aku akan memotong hutang mu.”
Julian merasa senang dengan apa yang dikatakan bos nya itu hingga wajahnya menjadi begitu sumringah.
“Sekarang pergilah” kata bos nya itu untuk menyuruhnya pergi agar bisa melakukan semua yang dipertihakan bosnya itu
.....
Dua hari kemudian setelah Nava dan Ava diberikan obat tidur dan diangkut kedalam sebuah kapal layar.
__ADS_1
“Ugghhh kepala ku” Nava memegang kepalanya, rasa sakit dikepala nya itu membuat dia begitu tersiksa.” Sakit... sakit... ugghh kenapa ini?” Nava perlahan membuka matanya, dia melihat kearah sekelilingnya tapi penglihatannya begitu buram.
Kepalanya begitu sakit sampai-sampai air matanya keluar begitu saja. “Sakit... sakit uggghhh, dimana ini?” Nava mencoba melihat kesekelilingnya lagi tapi semuanya tetap terlihat buram “Ava, dimana Ava?!” Nava tiba tiba teringat akan adiknya, Nava mulai meraba raba diarea sekelilingnya dan dia merasakan seperti sesuatu mengelingin dia, seperti sebuah penjara kecil.
Nava mulai gelisah karna tak bisa menemukan adiknya. “ Ava dimana?!” Nava mulai meraba raba sembarangan tapi tetap tidak menemukan hasil apapun.
“Aku harus tenang, tarik napas dalam dalam dan keluarkan” karna tidak dapat menemukan apapun Nava langsung menenangkan dirinya sendiri terlebih dahulu.
Nava berulang kali menarik nafasnya dalam dalam dan dia pun mulai merasa tenang, sekelilingnya mulai nampak tapi dia tetap harus lebih tenang dan lebih berkonsentrasi lagi agar dapat melihat dengan jelas.
Nava sudah merasa baik hingga dia membuka matanya perlahan lahan, tapi penampakan yang ada didepannya membuat dirinya terkejut.
Dia berada didalam sebuah kurungan besi tapi bukan hanya dia saja yang ada diruangan itu, terdapat begitu banyak anak kecil yang terkurung dikurungan mereka masing masing tapi anak anak itu berada dalam keadaan tak sadarkan diri.
“Apa apaan ini?!!” Nava begitu terkejut tapi disana dia tidak melihat adiknya Ava. Nava begitu takut jika terjadi sesuatu pada adiknya tapi dia harus tetap tenang.
Nava melihat kurungannya terkunci rapat, dia bingung harus keluar bagaimana karna jika dia membuka kurungan itu dengan paksa maka orang yang telah menculik mereka akan mengetahui bahwa dia sudah bangun.
Nava pun mengendalikan air dan memasukan air itu kedalam kunci kurungan tersebut dan langsung membekukannya agar bisa menemukan bentuk kunci dari kurungan itu.
Perlahan tapi pasti Nava membuka kurungan itu.
“Aku harus cepat mencari Ava dan keluar dari sini” Nava langsung bergegas keluar dari kurungan itu. Nava merasakan sesuatu yang aneh, dia pun mengecek kearah jendela dan dilihatnya dia berada didalam kapal.
“Aduhh kenapa harus dikapal” gumam Nava sambil memegang kepalanya.
Nava mulai berpikir jika dia sudah Ava, dia akan bersembunyi terlebih dahulu agar tidak ada yang akan mencurigai mereka dan jika sudah sampai didaratan maka Nava akan langsung turun dan menyelamatkan diri bersama adiknya itu.
__ADS_1