
Nava adalah seorang anak perempuan yang telah meninggal pada umurnya yang ke-17, dikarenakan penyakit kanker otak yang dialaminya. Ia kemudian bereinkarnasi ke sebuah dunia novel bernama novel hunter, yang membuat dirinya berubah menjadi anak kecil berusia 7 tahun.
...
Nava telah sampai ke rumahnya dan melihat Ibu dan adiknya, Ava, yang sudah tertidur di kamar milik Ibu mereka. Nava pun perlahan pergi ke dapur untuk meletakan sayuran yang sudah dia ambil tadi siang.
Setelah itu, Nava masuk ke dalam kamarnya dan melihat kristal berwarna merah kehitaman yang terbungkus kain di dalam laci. Kristal itu muncul ketika ibu Nava sedang sakit dan memuntahkan darah.
“Apa yang harus ku lakukan sekarang?” gumam Nava sambil melihat ke arah jendela. Diluar jendela terlihat pemandangan bulan purnama yang bersinar begitu indah.
Nava mengambil secarik kertas dan pena bulu, lalu dia menulis semua yang dia ingat tentang novel hunter yang dibacanya sebelum meninggal.
Pertama, Nava menulis tentang Gin, si anak kecil yang menjadi tokoh utama dalam novel, lalu ia menulis tentang apa saja yang akan Gin lalui saat dia mengikuti tes ujian hunter, hingga tentang iblis yang akan menyerang bumi. Tapi sayangnya ada hal yang tidak diketahuinya dengan pasti, yaitu kapan semua kejadian itu terjadi.
“Jika Gin keluar dari pulau saat usianya yang ke 10 tahun, dan cerita datangnya iblis saat dia 7 tahun kemudian, jadi apakah iblis akan menyerang Gin saat dia berumur sekitar 17 tahun?" gumam Nava menongka dagunya.
Nava juga sempat memikirkan siapa karakter Nava dalam cerita ini, dan kenapa dia bisa sampai masuk ke dalam novel ini. Padahal dia tidak pernah membaca ada karakter yang memiliki nama yang sama dengannya.
“Mungkinkah ada sebuah alasan kenapa aku bisa ada di tempat ini?” kata Nava yang ragu - ragu berpikir, “Ataukah ini hanya kebetulan? Tapi kenapa perasaan yang ada dalam diriku terasa bercampur aduk?” kata Nava, lalu dia diam sejenak.
__ADS_1
“Yang aku tau, aku hanyalah Nava yang hanya bisa mengatakan iya dan bertahan hidup. Tapi ketika terjadi sesuatu yang buruk pada Ibu maupun Ava, itu membuat sesuatu yang ada dalam diriku bergerak. Apa ini perasaan Nava yang sesungguhnya? A-apakah dia terjebak di dalam tubuhnya sendiri karna aku?” Gumam Nava sambil mengerutkan dahinya untuk berpikir keras.
“Tok Tok”
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya. "Nak, Nava, apa boleh Ibu masuk?” tanya Ibu Nava dari luar pintu, kemudian Nava terkejut, dan dengan tergesah-gesah ia langsung menyimpan secarik kertas yang ia gunakan tadi ke dalam laci.
Ibu Nava kemudian masuk ke dalam kamar, dia melihat wajah Nava yang gelisah seperti menyembunyikan sesuatu, tetapi dia tidak ingin menanyakannya.
Kemudian ia mendekat dengan langkah kaki yang lembut sampai-sampai bunyi lantai kayu yang begitu rapuh hampir tak terdengar.
Nava yang melihat ibunya masuk, langsung sigap mengambil kursi untuk ibunya, sebab ibunya masih kelihatan pucat karena kekurangan darah.
Nava dan ibunya duduk di kursi yang berbeda, lalu Ibu Nava mengangkat suara, ”Sebenarnya, sejak awal Ibu tau kalau kau bukan Nava yang sesungguhnya”.
“A-aku” kata Nava gagap karna tidak tau apa yang harus dikatakan dalam situasi itu.
“Tidak apa-apa, Ibu malah merasa bersyukur dimana kamu tidak meninggalkan ibu dan adikmu, walaupun kamu sudah mengalami hal itu” Kata ibunya.
“Se-sejak kapan?” Tanya Nava ke ibunya dengan masih gagap.
__ADS_1
“Kau tau, saat ibu memelukmu ketika ayah pulang ke rumah, sejak saat itu ibu merasakan aura lain yang masuk ke dalam tubuh Nava secara tiba-tiba. Dan saat itulah ibu menyadari bahwa sepertinya Nava sudah tidak ada lagi di dunia ini” kata ibunya dengan tenang.
Nava yang mendengar itu langsung merasakan perasaan bersalah karna Nava telah mengambil alih tubuh anak dari Ibu ini.
“Ibu pasti marah bukan? Karna aku telah mengambil tubuh anak ibu yang sebenarnya?”Kata Nava langsung melihat ke arah ibu sambil menunjukkan wajah yang bersalah.
Ibu yang mendengar itu langsung memeluk Nava dengan erat, lalu katanya “Ibu tidak marah, hanya saja, mungkin Nava yang sesungguhnya memang sudah tidak mampu menahan beban ini sehingga dia telah pergi.”
Nava yang mendengar perkataan itu hampir mengeluarkan airmata, tapi dia tetap menahannya sambil menggenggam erat baju ibunya. “Ma-maafkan aku” katanya sambil menahan tangis tapi air matanya tetap keluar.
“Ini bukan salahmu. Bila kau ingin menangis, menangislah, Ibu tidak melarangmu untuk menangis” kata ibu Nava sambil mengelus-ngelus kepala Nava.
Nava pun akhirnya menangis dengan cukup lama hingga dia tertidur. Ibu yang melihat Nava hampir tertidur, langsung menaruh Nava perlahan ke tempat tidur.
Ketika Nava sudah tertidur, ibu melihat ke arah laci yang ada di kamar Nava. Lalu ia membuka laci itu kemudian mengambil kertas yang tadi Nava sembunyikan lalu membacanya.
“Sejujurnya aku juga sudah tidak mampu dengan semua ini” gumamnya sambil menaruh kembali kertas itu kedalam laci.
“Kalau kau Nava, kau harus bisa
__ADS_1
melindungi adikmu Ava” katanya lagi, lalu berjalan keluar dari kamar itu.
Malam itu, pertama kalinya bagi Nava untuk tidur dengan sangat pulas. Soalnya beberapa hari yang lalu, di setiap malam Nava selalu gelisah dengan apa yang akan terjadi pada hari besok.