
Didalam kamar yang ditempati Ava, tampak seperti angin topam yang ditengah-tengah pusaran topam itu Ava melayang-lanyang didalamnya dengan posisi berdiri tapi tidak sadarkan diri.
Nava terkejut melihat pemandangan itu, seluruh barang-barang yang berada disana semuanya terbang dan saling menabrak satu sama lain.
“A-Ava!” Dengan panik Nava mencoba masuk kedalam tapi sayangnya dia langsung terhempas keluar karna angin yang begitu kuat seakan-akan tak mengijinkan siapa pun masuk ke tempat itu.
“Nak apa kau baik-baik saja?”. Tanya Yami yang bergesan kearah Nava yang sudah terduduk dilantai. Dokter yang tadi pun bersama mereka langsung cepat-cepat kearah Nava karna khawatir.
“Adik ku, adik ku dia kesakitan. A-aku harus menolongnya”. Wajah Nava nampak seperti seorang yang sudah kehilangan kewarasannya.
“Nak tenanglah dulu”. Ucap Yami untuk menenangkan Nava.
“BAGAI MANA AKU BISA TENANG?!! A-adik ku sedang kesakitan disana”. Teriak Nava yang langsung menarik kerah Yami dan menatapnya dengan tatapan tajam.
Tiba-tiba Nava langsung tersadar saat Yami menatap Nava dengan tatapan sedih sambil mengerutkam dahinya.
“Aku harus pergi ketempat adik ku”. Ucap Nava lagi yang langsung melepaskan cengkramannya dari baju Yami.
Nava kemudian langsung mencoba masuk kedalam ruangan itu lagi, tapi sayangnya dia selalu terhempas berulang-ulang kali hingga beberapa bagian ditubuhnya langsung dipenuhi dengan luka-luka.
Yami yang sudah tidak tahan dengan perilaku Nava pun, langsung menariknya dan memegang kedua pundak Nava agar Nava bisa terfokus pada apa yang akan dikatakan oleh Yami.
“Tenang lah nak, kau tidak akan bisa masuk kedalam sana dengan keadaan yang seperti ini”. Yami menekukan kaki yang satunya kelantai agar bisa menyamakan tingginya dengan Nava, kemudian dia mulai berbicara pada Nava dengan tatapan yang begitu serius. “Pertama kau harus tenang”.
Nava yang menatap Yami kemudian langsung mengeluarkan air mata karna Nava sadar akan dirinya yang tidak bisa melakukan apa pun saat ini. “A-adik ku hiks, Avaaaaa!”. Nava mulai merengek selayaknya anak kecil yang tidak diberikan hal yang diinginkan.
Yami langsung memeluk Nava dengan erat. “Tenang lah, aku akan menolong adik mu, tenang lah”. Suara Yami berubah menjadi begitu lembut yang membuat Nava menjadi tenang.
Ketika Yami sudah merasa kalau Nava sudah tenang, dia pun perlahan melepaskan pelukanya dari Nava kemudian langsung berjalan dan mendekati pintu dari ruangan Ava.
“Kekuatan anak ini sangat hebat, mungkin jika dia melatih kekuatannya dengan giat maka dia pasti akan menjadi salah-satu orang yang memiliki kekuatan terhebat didunia”. Pikir Yami sambil melihat kearah Ava yang berada didalam pusaran topan didalam ruangan itu.
Yami mengeluarkan pedangnya yang berwarna hitam lalu mengambil posisi bersiap untuk melakukan aksinya.
Shaaas\~
__ADS_1
Seketika saat Yami mengayunkan pedangnya, angin topan yang berada disana terbelah menjadi dua.
Yami kemudian masuk kedalam ruangan itu, dia melewati sela yang telah dibuat dengan tebasan pedangnya dan langsung mengambil Ava dan langsung memberikannya kepada Nava. “Ini adik mu”.
Nava langsung memeluk adiknya dengan begitu erat, dia menangis tersedu- seduh karna merasa begitu senang sebab bisa memeluk adiknya dengan perasaan tenang.
Nava yang menangis begitu kencang pun langsung tertidur ditempat itu.
“Aku akan membawa mereka kedalam dan kau harus menjelaskan semua ini”. Ujar Yami bersiap untuk menggendong Nava dan Ava sambil menatap tajam kearah dokter dengan ujung matanya.
Saat itu aura milik Yami keluar hingga membuat dokter yang berada dibelakangnya menjadi begitu tertekan dan ketakutan.
Yami pun membawa Nava dan Ava kesebuah ruangan pasien yang normal.
....
“Kak akhirnya kakak bangun”. Ucap Ava sambil memegang tangan kakaknya yang terbaring ditempat tidur.
Nava membuka matanya perlahan, dia melihat adiknya berada disebelah nya sambil memegang tanganya dengan begitu erat.
Tiba-tiba seseorang masuk kedalam ruangan itu. “Akhirnya kau sadar”. Seorang kakek tua berambut dan berjenggot panjang berwarna putih datang masuk kedalam ruangan itu, di belakang kakek itu nampak dua orang yang salah satunya adalah Yami dan seorangnya lagi terlihat seorang perempuan tomboy yang berpakaian serba merah dengan warna rambut berwarna kuning cerah.
Nava langsung terkejut dengan keberadaan mereka bertiga, sebab biasanya Nava dapat mengetahui dengan mudah jika seseorang datang mendekati dia. “Apa yang kalian inginkan?”. Tanya Nava yang langsung duduk.
“Ho ho ho, aku hanya ingin menanyakan beberapa pertanyaan pada mu”. Ucap kakek itu sambil mengelus-elus janggutnya yang begitu panjang sampai-sampai menyentuh perutnya.
Nava yang melihat ciri-ciri dari kakek tersebut, membuat nya langsung menyadari bahwa kakek itu adalah raja hunter dinegara ini yang bisa disebut “king of hunter”.
Walaupun Nava merasa curiga dengan kedatangan mereka saat itu tapi dia juga merasa akan mendapatkan keuntungan jika dia menjawab pertanyaan dari orang tua itu. “Baiklah aku akan menjawab pertanyaan mu, tapi kau harus mengabul kan permintaan ku”.
Kakek yang sedari tadi hanya berbicara sambil menutup mata, kini membuka mata sebelah kanannya lalu menyipitkan nya agar bisa melihat Nava dengan jelas. “Anak ini sangat pintar, jika aku melepaskannya disini maka aku yang akan rugi”. Pikir kakek itu. “Ho ho, kau sangat menarik nak, Tanpa basa-basi lagi, kakek tua ini akan memberikan pertanyaan yang gampang untuk mu”. Katanya yang masih berdiri disebelah tempat tidur Nava.
“Yang pertama, kelian berasal dari mana?”. Tanya kakek itu sambil tersenyum.
“Kami berasal dari satu pulau tetesam hujan yang tak jauh dari sini”. Ucap Nava
__ADS_1
“Yang kedua, bagaimana kalian bisa berada ditempat ini?”. Senyum kakek itu masih saja sama seperti saat dia menanyakan pertanyaan pertama.
“Kami dijual”. Nava langsung mengatakan apa yang memang terjadi dengan tatapan datar. Tapi didalam diri Nava masih begitu banyak menyimpan kebencian terhadap ayah dan orang-orang yang berada dikapal itu, hingga tanpa sadar Nava meremas kuat tangan adiknya.
Dua orang yang berada dibelakang kakek itu pun, sontak terkejut saat mendengar apa yang dikatakan oleh Nava.
“Kalau begitu ini pertanyaan yang terakhir, bagaimana bisa orang-orang yang berada dalam kapal itu hampir semuanya sudah tidak memiliki kaki dan tangan terkecuali dua orang?”. Ucap kakek itu yang tiba-tiba senyum yang sedaritadi dia tampakan kepada Nava langsung berubah menjadi tatapan curiga.
“Orang tua ini memang licik seperti yang aku baca dalam novel”. Kata Nava dalam hatinya. “Aku yang membuat mereka seperti itu”. Lagi-lagi Nava menunjukan wajah datar nya. “Sekarang giliran ku”.
Kakek yang mendengar jawaban dari Nava masih merasa kurang puas dan dia masih ingin mendengarkannya lagi, lagi, lagi dan lagi hingga dia merasa puas. Tapi karna dia tau dia tidak bisa menanyakan hal yang lebih dari itu pada Nava, jadi dia berhenti bertanya. “Ho ho, jadi apa permintaan mu nak?”. Tiba-tiba senyumnya kembali seperti tidak pernah terjadi apapun tadi.
“Aku hanya meminta satu permintaan yaitu agar setiap orang yang pernah melihat atau pun mengetahui keberadaan ku sekarang harus menutup mulut mereka. Aku hanya akan meminta itu dan jika ada yang bertanya siapa yang mengalahkan orang-orang yang berada dikapal maka katakan lah bahwa itu dari pasukan hunter”.
“Emm? Bagaimana anak ini bisa tau tentang pasukam hunter? Apa dia mengatakan ini karna sudah mengetahui identitas ku?”. Pikir kakek itu dengan perasaan terkejut dan bingung.
Yami dan wanita yang berada disebelahnya pun berpikiran sama dengan kakek itu tapi mereka tetap diam dibelakang dan tidak mengatakan apa-apa.
“Ho ho, jadi hanya itu kemauan mu? Kalau hanya itu saja kakek tua ini pasti bisa mengabulkannya ho ho dan nak, apa kamu tidak tertarik dengan pasukan hunter? Jika kau masuk kesana pasti kau akan menjadi orang yang sangat kuat”. Ucap kakek itu.
Nava hanya diam tidak ingin menjawab apa yang dikatakan oleh kakek itu tapi sebenarnya Nava memang memiliki tujuan agar bisa masuk kedalam pasukan hunter agar dapat mendapatkan informasi tentang kedatangan para iblis dari dunia bawah.
“Jika kau ingin menjadi seorang hunter maka hubungi kakek ini yah”. Ucapnya dengan wajah yang terlihat begitu ceria tapi didalam dirinya sangat ingin Nava agar bisa masuk kedalam pasukan hunter.
“Kalau begitu kakek akan pergi dulu, sampai jumpa”.
Mereka pun pergi meninggal kan Nava dan Ava didalam ruangan. “Yang mulia, bukannya pertanyaan tadi terlalu berlebihan untuk mereka apalagi mereka baru mengalami hal yang begitu buruk”. Ucap wanita berambut kuning itu dengan begitu gelisa.
Halo pembaca, udah dua hari author gk up krna kagak ada kuota. Sebenarnya hari ini juga gk bisa up krna udah lelah seharian tapi krna takut dapat pemberitahuan krna gk up selama 3 hari jadi author terpaksa up.
Rasanya seperti menjadi wonder wonder🤣🤣.
Jangan lupa like dan komennya krna smua nya tinggal di klik mwhe he he
Lope u guys 😘
__ADS_1