Reinkarnasi Kedunia Novel Hunter

Reinkarnasi Kedunia Novel Hunter
Eps 33. Tenanglah


__ADS_3

Begitu pula dengan Ava, sebelum insiden dikapa, dia nampak selalu ceria dan sangat ingin menjadi kuat tapi setelah kejadian itu, Ava menjadi penakut.


...


Nava tersenyum licik sambil melihat ayahnya yang berada dibawahnya dengan matanya yang berwarna biru pekat.


Suasana disana menjadi sangat aneh, seakan-akan Nava yang berada disana bukanlah Nava.


“Tenanglah hanya beberapa kali ayunan cambuk”. Kata Nava merendahkan tubuhnya lalu mengangkat dagu ayahnya.


Ayah Nava terlihat begitu ketakutan. “Manusia sinting”. Umpatnya didalam hati. “Aku harus pergi dari sini”. Tiba-tiba langsung terlintas dalam pikirannya untuk kabur. Matanya melihat kesegala arah yang membuat dirinya terlihat seakan-akan mencari celah agar dia bisa lari dari tempat itu.


Dia melihat Nava seperti tidak mencurigai hal itu, membuat dia merasa senang. Setela melihat ada cela, dia langsung berlari sekuat tenaga agar bisa kabur dari sana.


Dia berlari kearah pintu dengan harapan bisa terbebas dari anak ya sendiri. Dia sudah merasa senang karna pintu keluar sudah didepan matanya. “Akhirnya aku bisa bebas”. Pikirnya senang.


“Ppftt”. Nava tertawa saat melihat hal itu kemudian tanpa basa basi, dia langsung mengayunan tangannya yang membuat sebuah kurungan dari kekuatan angin dan kurungan itupun bentuknya sangat mirip dengan kurungan yang pernah mengurungnya sewaktu dikapal.


“Apa ini”. Pikir ayah Nava yang kemudian langsung melihat kebelakang. “Na-Nava to-tolong maafkan ayahmu ini”. Lanjutnya yang kemudian langsung berlutut melihat kearah anaknya sambil memohon-mohon.


Nava tidak mendengarkan apa yang ayahnya katakan dan kemudian langsung mendekat kearahnya sambil membawa cambuk dari kekuatan anginnya yang kini melayang-lanyang diudara.


“Aku akan membalasmu dengan apa yang telah kau lakukan pada kami”. Ucap Nava yang kemudian langsung mengayunkan cambuknya.


Plak plak plak


“Kumohon hentikan, agrhh


Kumohon”. Air mata pria itu perlahan keluar. Hal yang selalu dia lakukan kepada keluarganya kini berbalik kepada dirinya sendiri.


Rasa sakit yang ia alami membuat dirinya sangat tersiksa. “Aku mohon...”.


Belum sempat satu menit berlalu, pria itu sudah seperti akan mati tapi Nava masih saja mengayunkan dan mencambuknya dengan begitu kuat.


Plak plak


“Tolong\~”.


Darah mulai bercucuran dilantai dan ayah Nava sudah kehilangan kesadaran. Walaupun dalam keadaan pingsan, tubuh ayahnya masih gemetar sampai terkencing-kencing dicelana. Badannya penuh dengan luka-luka parah.


Nava melihat kearah ayahnya dengan tatapan datar tapi air matanya perlahan keluar dari matanya yang berwarna biru itu. “Ini yang aku inginkan”. Ucapnya sambil menutupi sebagian dari wajahnya.

__ADS_1


Perlahan Nava mundur hingga kedinding. “I-ini bukan salah ku, yah ini bukan salah ku jadi aku tidak perlu memikirkan hal ini”. Ucapnya yang masih tetap mengeluarkan air mata sambil tersenyum.


Nava kemudian menyembuhkan ayahnya dengan sekali ayunan tangan. “Tapi semua ini tidak akan terjadi padaku kalau aku tidak datang kedunia sialan ini”. Ucapnya lagi.


“Tapi ini kesalahanku........ bukan, ini bukan kesalahanku”. Nava mulai menggugit kuku jari tanganya. Keringatnya mulai keluar sangat banyak, matanya menunjukan kegelisahan.


Nava terlihat seperti sedang bertarung dengan dirinya sendiri. Tapi saat Nava sedang hanyut dalam pikirannya, seseorang mendekat kearah Nava.


Yang tidak lain dia adalah Soka. Dia terus mengikuti Nava dimanapun Nava pergi pasti Soka juga berada disana.


Soka perlahan masuk kedalam ruangan itu, Nava pun tak menghiraukan itu dan masih hanyut dalam dunianya sendiri.


Soka perlahan menarik tangan Nava yang saat ini sedang ia gigit sampai berdarah. “Tenanglah”. Ucap Soka.


“Apa yang harus aku lakukan?”. Nava masih saja tidak memperhatikan Soka yang sudah berada didepannya dengan tatapan datar.


Plak


Tiba-tiba Soka menampar Nava agar Nava bisa sadar. “Aku bilang tenanglah”. Ucap Soka sekali lagi.


Nava kemudian tersadar dan langsung memegang pipinya yang telah ditampar oleh Soka yang membuat Mata Nava langsung berkaca-kaca.


“Aku bilang tenang”. Kata Soka, tapi Nava tidak mendengarkannya.


“Ibu, Ava, aku tidak ingin disini. Aku takut”.


“Aku bilang tenang”.


“Aku takut, aku takut, aku takut”.


“AKU BILANG TENANG!!”.


“BAGAIMANA AKU BISA TENANG?!!”. Teriak Soka yang kemudian langsung dibalas Nava dengan teriakan yang lebih kencang.


“Aku hanya ingin hidup seperti orang lain”. Nava memegang dadanya yang terasa sesak seperti ada sesuatu yang menekan kuat dadanya hingga Nava sangat sulit untuk bernapas. “Apakah sesulit itu agar aku bisa hidup tenang?”.


Soka yang melihat keadaan Nava saat itu langsung memegang dahinya karna sudah tidak tau apa yang harus dilakukannya terhadap Nava yang sudah menjadi seperti ini.


Soka yang sudah sangat terdesak dengan situasi Nava yang kini hampir gila dan hal yang terlintas dalam pikirannya yaitu membuat Nava tenang. Dengan pemikiran itu, Soka langsung memukul tengkuk Nava hingga Nava pingsan.


“Kau istirahanlah dulu”.

__ADS_1


Tak


....


Soka pun menggendong Nava keluar dari sana dan membiarkan ayah Nava terbaring dilantai.


Soka melewati pintu. Disana terlihat dua orang prajurit berdiri dimasing-masing sisi pintu dan Yami yang berdiri disana sambil menggendong Ava.


“Kakak?!”. Ava yang melihat kakaknya yang pingsan langsung turun dari pelukan Yami.


“Siapa kau”. Tanya Yami yang langsung menghentikan langkah Soka. “Apa yang kau lakukan pada anak ini?”.


Soka dan Yami saling bertatapan dengan tatapan benci. Walaupun mereka baru bertemu tapi nampak dengan jelas kebencian dimata mereka.


“Kakak, kakak bangun kak”. Ava menangis melihat kakaknya yang sedang pingsan.


“Berikan anak itu, aku akan membawanya”. Ucap Yami dengan tegas.


Dengan tatapan datarnya, Soka langsung menyerahkan Nava pada Yami kemudian langsung pergi dari sana.


“Berhati-hatilah pada permintaan anak itu”. Ucap Soka berjalan pergi dari sana.


....


“Apa yang terjadi disini?”. Ucap seorang prajurit yang kaget melihat ruangan yang sangat berantakan dan banyak darah terpancar dimana-mana. Tapi yang anehnya tak ada satupun dari Nava dan ayahnya yang memiliki luka sampai membuat tempat itu terpancar oleh darah.


Yami pun bergegas pergi keruangan itu sambil menggendong Nava.”apa yang sebanarnya anak ini lakukan”. Pikir Yami terkejut sambil menatap Nava yang sedang pingsan.


Berita mengejutkan itu tersebar diseluruh tempat itu mulai dari Nava yang keluar bersama seorang pria yang entah datang dari mana, ayah Nava yang pingsan, dan ruangan yang begitu berantakan ditambah banyak sekali percikan darah.


...


Keesokan paginya dirumah sakit.


“Ughh kepalaku sakit lagi”. Gumam Nava yang perlahan membuka matanya.


Dia melihat langit-langit berwarna abu-abu yang terlihat asing “dimana aku?!”. Nava yang merasa ada yang aneh dengan tempat itu, kemudian langsung bangun dari posisi berbaringnya.


Dia melihat Ava yang tertidur dikursi samping tempat tidurnya.


Jangan lupa like and commentnya

__ADS_1


__ADS_2