
Nava melemparkan sebuah pertanyaan pada ibunya. “Ibu, bagaimana jika kita hanyalah karakter dari sebuah buku dongeng?”Ibu Nava agak terkejut ketika mendengar pertanyaan Nava.
Lalu ia menjawab:“Mungkin ibu tidak akan merasa marah atau kesal karna ibu tau bahwa ibu telah melakukan peran ibu dengan baik”.Nava yang mendengar jawaban itu langsung merasa tenang dan langsung menutup matanya untuk tidur.
“Nava, ada satu hal yang ingin ibu katakan kepadamu, ini adalah rahasia yang tidak pernah diketahui oleh orang lain, selain ayahmu" ucap ibunya.
Nava membuka matanya lagi, lalu bertanya, "Apa itu, ibu?"
"Jangan pernah memberi tau siapapun kalau kau adalah anak dari seorang putri laut”Nava berpikir sejenak. “Baiklah, aku takkan mengatakannya pada siapapun, bu” ucap Nava mulai menutup matanya kembali.
...
“Ibu, Ava, hari ini aku mau mencari sayuran sekaligus ingin berlatih lebih” kata Nava kepada ibunya dan Ava.
“Baiklah, nak, tapi kamu harus hati-hati juga ya" kata ibu Nava.
“Iya bu, Kalau begitu aku pergi dulu” kata Nava pamit.
Sebenarnya alasan Nava pergi bukan hanya untuk berlatih dan mencari sayur, tetapi untuk bertemu Gin, seorang anak laki-laki yang ditemuinya kemarin. Nava sudah berjanji pada anak laki-laki bernama Gin itu untuk bertemu.
Sambil menunggu Gin datang, Nava mencari sayuran di sekitar tempat itu.
“Nava" panggil seseorang
“Gin, ternyata itu kamu” balas Nava.
“Akhirnya kamu datang, aku hampir berpikir kalo kamu tidak akan datang” Kata Gin senang.
Nava hanya menunjukkan wajah tanpa ekspresinya, tetapi Gin tidak terlalu memedulikan itu dan langsung menarik tangan Nava untuk pergi ke suatu tempat.
“Aku akan menunjukan tempat yang
bagus untuk bermain” katanya dengan senyum lebar yang ditunjukkan kepada Nava.
Nava yang melihat itu merasa senang karna ini pertama kalinya dia bermain dengan teman sebayanya, karna di kehidupan sebelumnya Nava tidak pernah diajak bermain oleh siapapun.
Nava mengikuti Gin begitu saja hingga mereka tiba di pantai. Walaupun tempat itu terlihat sangat indah tapi tak tampak seorang pun disana. Pantai yang sepi dan wangi air garam yang sangat pekat membuat Nava merasa tenang.
“Karna aku tidak tau caranya bermain seperti anak kecil pada umumnya, jadi kita duel kekuatan saja, bagaimana?” kata Gin sambil menunjukan raut wajah yang serius sambil meletakan kedua tangannya di pinggang.
__ADS_1
Nava yang melihat raut wajah Gin yang serius membuatnya ingin tertawa.
“Pfft” Nava berusaha menahan tawanya sampai membuat Gin merasa malu.
“Baiklah ayo kita duel!” kata Nava sembari melepaskan tas yang ia gendong sedari tadi.
“Aku akan sedikit menahan diri karna kau perempuan” kata Gin mengambil posisi untuk bertarung.
Nava terkekeh mendengar ucapan Gin, "Tak perlu menahan diri, karna aku memiliki kekuatan penyembuhan. Meskipun kau sekarat, aku akan menyembuhkanmu” ucap Nava dengan suara yang sombong sambil mengeluarkan pedang es miliknya.
"Apa kau yakin?" tanya Gin untuk memastikan.
"Ya, tentu saja!" jawab Nava.
"Baiklah, kalau begitu" ujar Gin.
“Ayo kita mulai!" ucap mereka bersamaan.
Gin memulainya duluan dengan kecepatan yang hampir tak bisa dilihat oleh Nava. Tanpa Nava sadari Gin sudah berada didepannya untuk memukul wajah Nava. Tapi Nava tidak diam saja, Nava langsung menahan pukulan dari Gin menggukan pedang bagian pinggirnya.
“Kau kuat juga” ucap Nava pada Gin.
“Ini baru permulaan, kau tau?” balas Gin .
“Kalau begitu aku juga” ujar Nava.
Gin langsung menyerang Nava dengan cara yang sama. “Serangan mu takkan mempan padaku untuk kedua kalinya” pikir Nava dalam hatinya.
Tapi ketika Nava bersiap untuk mengakis serangan Gin seperti tadi, tiba tiba Gin merubah arahnya dari depan menuju kesamping Nava, hal itu memuat Nava terkecoh.
Nava langsung refleks menggunakan kekuatan anginnya untuk membuat tumpukan pasir agar dapat mengahalangi pukulan Gin. Tapi sayangnya Nava tidak memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan tameng itu sehingga pukulan Gin pun mengenai wajah Nava hingga wajanya sedikit tergores dan berdarah.
Setelah memukul Nava Gin langsung mundur untuk menjaga jarak dengan Nava.
“Jadi kau sangat ingin membuat wajahku bonyok yah. Cwuii!” kata Nava sambil meludah mengeluarkan darah dari mulutnya.
“Seharusnya kau lebih waspada dengan apa yang akan dilakukan orang lain karna kau takkan tau apa yang ada dalam pikiran orang itu” ucap Gin dengan wajah yang terlihat keren.
“Baiklah kalau begitu, sekarang giliranku”ucap Nava mengambil posisinya. Nava memang tidak cepat, tapi dia memiliki otak cerdasnya untuk membuat strategi.
__ADS_1
Kemudian Nava langsung membuat tumpukan pasir yang banyak agar dapat menjadi tempat persembunyiannya untuk berpindah tempat.
Gin hanya tertawa geli karna mengira bahwa itu adalah tameng untuk melindungi Nava. Gin tidak tau bahwa itu hanya lah sebuah alat pengecoh sementara untuk dirinya.
Nava berpindah tempat dengan cepat, ketika dia sudah sekat dengan tempat Gin berada dia langsung membekukan kaki Gin agar tidal bisa bergerak.
Gin mencoba mengeluarkan kakinya dari es tersebut, tapi itu sudah terlambat.
“Sudah terlambat” kata Nava yang tanpa diketahui sudah berada di depan Gin.
Nava langsung mengubah pedangnya menjadi palu yang cukup besar dan langsung mengayunkan palu itu ke wajah Gin.
“Bukkk” bunyi pukulan yang membuat Gin terpental.
“Ha ha ha AKU LAH
PE.ME ..NA ..NG..NYA..” Tawa Nava yang dibuat buat . “Aku pemenang dan kau pecundang” Nava bernyanyi sambil bergoyang-goyang senang untuk mengejek anak laki-laki itu.
Tiba-tiba Nava langsung melirik kearah Gin yang terbaring dipasir akibat pukulan Nava tadi. Nava merasa khawatir karna Gin tidak bergerak.
Nava dengan cepat menghampiri Gin untuk menyembuhkannya. “Hei kau belum mati kan?” Tanya Nava sambil menampar pelan wajah Gin.
“Te-tentu saja aku belum mati, dan berhentilah menamparku” kata Gin sambil menatap kelangit. “Ngomong-ngomong, yang tadi itu seru sekali” katanya lagi.
Nava yang melihat ekspresi Gin langsung tertawa, dan ikut berbaring disamping Gin. “Kau lucu sekali” ucap Nava.
“kalau begitu ayo kita bertarung sekali lagi” kata Gin langsung memiringkan badanya untuk mengadap kearah Nava, Nava pun ikut memiring kan badannya “oke, ayo” ucap Nava dengan antusias.
Nava dan Gin bertarung hingga matahari hampir terbenam sampai-sampai wajah mereka babak belur.
“hei lihat wajahmu” kata Nava sambil menunjuk kearah wajah Gin.
“wajahmu juga!” balas Gin.
“Hahahahaha..” mereka berdua tertawa melihat wajah mereka masing masing.
“Hari ini sangat menyenangkan” ucap Nava duduk di atas pasir sambil melihat kearah matahari yang terbenam.
“kalau begitu, ayo kita main lagi besok”
__ADS_1
"Baiklah“
Sebelum pulang Nava menyembuhkan luka Gin dan lukanya dan mereka berpisah ditengah jalan untuk pergi kerumah masing masing.