Reinkarnasi Kedunia Novel Hunter

Reinkarnasi Kedunia Novel Hunter
Eps 28. Menyembunyikan


__ADS_3

Tiba-tiba semua barang-barang yang ada disana langsung melayang-layang diatas karna kekuatan angin milik Nava. Kemudian barang-barang itu langsung diletakan ditempatnya masing-masing.


Kakek itu langsung terheran-heran sampai membuat mulutnya terkuba lebar. Nava yang melihat itu langsung tersenyum.


Kakek itu pun langsung bertepuk tangan.


Prok prok prok “sangat luar biasa, kau ditrima”. Kakek itu langsung berubah pikiran saat melihat kekuatan Nava.


“Te ri ma ka sih”. Ucap Nava membanggakan dirinya.


Nava mulai dengan bersih-bersih bar. Dia mengepel lantai dan membersihkan meja-meja.


Piring-piring kotor atas meja satu persatu melayang dan kemudian menuju ketempat cuci piring.


Setelah selesai mengepel, Nava membuka jendela dan pintu-pintu agar cahaya matahari bisa masuk kedalam ruangan itu.


Saat Nava sedang membersihkan bar, kakek sedang memasak untuk membuat sarapan karna ada banyak orang yang menginap disana jadi otomatis mereka akan membeli sarapan disana juga.


Saat lonceng jam 7 berbunyi, sudah ada beberapa orang yang bagun dari tidur mereka kemudian langsung menuju kebar untuk membeli sarapan.


“Kakek, aku mau membangunkan adik ku dulu untuk makan”. Ujar Nava yang sudah selesai membersihkan bar dan dapur.


“Tidak perlu, kau panggil ambil saja bola komunikasi diatas meja dekat jam dan tekan no 23 dibola itu, nanti otomatis akan tersambung dibola komunikasi kamar 23”. Balas kakek itu yang masih memasak.


Nava pun pergi ketempat yang ditunjukan oleh kakek itu” woa, bolanya seperti berlian. Emm tekan no 23, oke sudah”.


Tiiiiiit tiiit


“ ini sih sama seperti telepon, benar-benar luar biasa”.


....


Dikamar Ava.


Grrggggggrrrrrr grrrrgg


Bunyi dari bola dalam ruangan Mereka. “Emm bunyi apa itu”.


“Hallo, Ava ini kakak”.


“Kakak?! Kakak dimana?”


“Pokoknya kamu turun aja, kakak lagi dibawah. Kita mau sarapan”.

__ADS_1


“Baiklah, aku akan segera turun”.


Avapun langsung mengenakan bajunya dan pergi turun, dia melihat kakaknya yang sedang membawa-bawa makanan untuk orang-orang yang berada disana.


“Kakak” teriak Ava gembira yang kemudian langsung memeluk kakaknya yang masih memegang pesanan dari pelanggan.


“Ava hati-hati nanti makanannya jatuh”.


“Baiklah”.


Nava pun membawa makanan kemeja pelanggan tapi Ava tidak ingin melepaskan pelukannya jadi Nava harus berjalan sambil menyeret-nyeret Ava.


Tapi itu tidak membebani Nava sama sekali karna Nava biasa membawa sesuatu yang berat seprti beruang contohnya.


Orang-orang yang berada disanapun tidak merasa risih tapi malah merasa kalau perilaku Ava dan Nava sangat imut.


“Ini makanan anda tuan” ucap Nava meletakan piring yang berisikan makanan pesanan pelanggan.


Setelah memberikan makanan dan minuman pada pelanggan Nava langsung mendudukan Ava dikursi dekat jendela dan mengambilkan makanan untuk mereka berdua.


“Kakek, kami mau makan dulu”.


“Baiklah”.


“Terima kasih nona cantik, silahkan duduk juga”. Ucap Ava yang langsung berdiri dan menarik kursi Nava agar Nava bisa duduk.


“Ohh terimakasih”


Saat mereka duduk, mereka saling menatap dan tertawa senang. Karna ini adalah hari yang sangat tenang tanpa kekacauan sedikitpun.


Mereka berduapun makan bersama-sama dan bercerita dengan hati yang sangat senang.


“Kak, kenapa kakak bersih-bersih dan membantu kakek itu”. Tanya Ava


“Kakak sekarang bekerja disini untuk membantu kakek, tapi nanti kakak juga akan bekerja ditempat lain. Seperti yang kemarin”. Jawab Nava.


Ava yang mendengarkan kakaknya akan bekerja lagi seperti pekerjaan kemarin pun langsung merasa sedih.


“Aku akan membantu kakak mengerjakan pekerjaan disini agar kita bisa dapat uang, tapi jangan pergi bertarung lagi. Aku takut kakak terluka”. Ucap Ava dengan ekspresi sedih.


Nava langsung mengelus-elus kepala Ava “tidak apa-apa, kakak berjanji kakak tidak akan terluka dan jika kakak terluka kakak akan segera berhenti dari sana. Ava pun bisa ikut lihat supaya Ava percaya”. Balas Nava untuk meyakinkan adiknya bahwa dia tidak akan terluka hanya karna pertarungan seperti itu.


“Emm baiklah, tapi hati-hati jangan berlebihan”. Kata Ava dengan ekspresi sedih.

__ADS_1


“Nanti sebentar siang kita berdua sama-sama latihan, supaya kalau nanti kakak dipukul orang, nanti Ava yang nolongin kakak, oke?”.


“Benarkah aku bisa melindungi kakak?”. Tanya Ava penasaran.


“Tentu, karna Ava sangat kuat”.


“Tapi, kalau aku latihan sama kakak, nanti aku bisa melukai kakak. Aku takut nanti kakak sakit sama seperti kakak Gin melukai kakak”.


“Tidak apa-apa, kan kakak juga bisa menyembuhkan diri kakak sendiri”.


“Baiklah, aku akan berusaha tidak melukai kakak”. Ucap Ava dengan tegas.


Nava yang melihat perilaku Nava membuat dirinya tersenyum.


....


Nava lah yang sangat mengetahui pentingnya berlatih karna dia tau banyak hal yang menakutkan yang akan terjadi pada dunia ini, jadi jika dia tidak bersiap maka yang akan menunggu mereka hanya kematian.


Nava pun berpikir jika dia tidak bersama dengan adiknya dan adiknya mengalami kesulitan, dia sudah tidak akan terlalu cemas karna dia tau adiknya bisa menjaga dirinya sendiri.


Dan Nava juga mengetahui bahwa kekuatan Ava sangat luar biasa setera dengan kekuatan ibu mereka tapi kekuatan Nava hanya setengah dari kekuatan ibunya.


Walaupun kekuatan Ava adalah kekuatan angin bukan kekuatan air tapi jumlah mana yang dimiliki Ava sangat luar biasa. Itu lah yang dirasakan oleh Nava.


Oleh sebab itu Nava harus melatih adiknya untuk mengendalikan dan menekan auranya agar tidak terlalu mencolok seperti yang Nava lakukan.


....


Siangnya didekat sungai tidak jauh dari tempat penginapan. Disana tak terlihat seorangpun yang lewat, hal itu membuat Nava curiga tapi juga diuntungkan karna tidak akan ada orang yang akan melihat dia berlatih mengendalikan air.


Nava membuka bajunya dan hanya menyisakan kaus dalam, yang membuat seluruh luka ditubuhnya terlihat. Tapi bagi mereka berdua luka-luka itu hanyalah sesuatu yang tidak perlu dipikirkan.


“Baiklah pertama-tama kita berdua akan latihan mengendalika aura”.


Nava mengajari Ava cara mengendalikan auranya agar Ava tidak kehilangan kendali saat bertarung.


Walaupun Ava terlihat agak kesulitas saat melatih kekuatan anginnya tapi dia terus mencoba dan terus mencoba.


Kekuatan angin yang luar biasa keluar dari tubuh Ava yang membuat sekeliling mereka menjadi berantakan. Semua tanaman maupun bebatuan terangkat kelangit-langits sampai-sampai Nava pun hampir terbang karna kekuatan milik Ava.


Tapi karna Nava mengajari Ava dengan baik, perlahan-lahan Ava dapat mengendalikan kekuatannya.


Saat Nava merasa adiknya sudah bisa mengendalikan kekuatannya, maka Nava langsung mengejarkan satu jurus yang bisa Ava gunakan. Jurus itu juga sedang Nava pelajari, karna Nava tidak bisa selalu menggunakan kekuatan angin untuk membekukan air miliknya menjadi es, sebab es yang dibuat dari kekuatan angin sangat lah lemah. Jadi Nava harus membuat jurus baru dari kekuatan angin.

__ADS_1


Hal itu dilakukan, karna Nava harus menyembunyikan kekuatan air miliknya sebab dia merasa akan menjadi bencana jika dia menunjukan kekuatannya itu.


__ADS_2