
Chap 8
Tetapi saat mereka sedang bersenang senang, terdengar suara dari seseorang yang memanggil nama Nava.
“Nava, apa yang?!”. Suara itu tiba-tiba terpotong, melihat reaksi dari Nava yang kaget.
Nava yang mendengar namanya dipanggil, seketika membuatnya terkejut dan semua air yang dia kendalikan itu langsung jatuh.
Nava perlahan menengok kebelakang, saat itu juga ia ditambah kaget dengan melihat sesosok Gin yang tengah terdiam, karna merasa terkejut dengan apa yang ia lihat. Sebab kekuatan air adalah kekuatan yang hanya untuk menyembuhkan, dan bukan kekuatan untuk mengendalikan air disekitar pemilik kekuatan tersebut.
“Kak, siapa itu?” Tanya Ava sedikit penasaran
Nava langsung tersadar dari keterkejutan tadi, ia melirik ke arah Adiknya itu. "Ahh, dia teman Kakak, sini Kakak kenalin”. Ucap Nava sedikit salah tingkah.
“Ehm ehm, Ava ini Gin, Gin ini adik ku Ava” ucap Nava dengan canggung.
"Kenapa jadi canggung gini yah,”. Batin Nava serasa ingin menangis.
Ava yang pada saat itu langsung melirik kearah Gin, merasa sedikit terpukau dengan kakaknya, sebab jarang ada teman kakaknya yang menurut nya Gin itu terlihat tampan. "Apa kamu pacar kakak ku?”. Tanya nya spontan.
Nava dan Gin yang mendengar kalimat itu seketika langsung membuang muka, takut ketahuan jika wajah mereka memerah.
“Bu-bukan kok, ini teman kakak”. Ucap Nava salah tingkah, dan segera memperbaiki kesalah pahaman itu.
Gin yang sudah sadar dari kejadian tadi, langsung melirik kearah Nava dan hendak menariknya pergi dari situ.
“Ava, saya pinjam kakak mu sebentar boleh yahh?”. Tanya Gin meminta izin.
“Baiklah, tapi jangan dibawa pulang kerumah kak Gin.”. Jawab Ava, dengan tatapan menggoda ke arah kakaknya. Nava yang menyadari tatapan itu hanya memutar kedua bola matanya dengan malas.
"Anak ini, bisa-bisanya dia berkata begitu" batin Nava yang sedikit kesal dan malu dengan kelakuan adiknya
Tanpa menunggu lama, Gin langsung menarik tangan Nava dan membawa nya pergi tidak jauh dari situ. Merasa jika tempat yang ia pilih tidak akan terdengar oleh Ava.
“Hei, apa yang sedang coba kau lakukan Gin?”. Tanya Nava yang tangan nya masih ditarik oleh Gin.
Gin langsung berhenti ketika mendengarkan pertanyaan Nava.
”Seharusnya aku yang bertanya kepada mu. Yang aku tau kekuatan mu itu es dan air, dan kekuatan air yang aku baca dalam buku hanya bisa digunakan untuk pengobatan dan tidak bisa digunakan untuk mengendalikan air disekitar”. Ucap Gin dengan menatap serius ke arah Nava.
“Cuaca hari ini cerah yah?". Kata Nava mencoba mengalihkan pembicaraan
“Jangan coba allihkan pembicaraan Nava”. Gin menyadari itu, Nava yang sedang menjauhi pertanyaan nya.
“Baiklah baiklah aku akan mengatakannya. Tapi sebelum itu ayo duduk dulu, aku sudah cukup lelah kau biarkan berdiri.". Sinis Nava. "Owh ia aku juga tidak bisa meninggalkan adik ku terlalu lama sendirian disana karna dia masih kecil”. Sambung nya lagi
Nava dan Gin pun pergi dari situ untuk menjemput Ava yang tengah bermain air. Kemudian mereka duduk dibawah pohon untuk membicarakan hal ini.
__ADS_1
Ava yang merasa bosan hanya disuruh duduk, lantas pergi bermain istana pasir sendiri yang letak tempatnya tidak jauh dari situ.
“Sebenarnya kekuatanku angin dan air". Penjelasan pertama yang keluar dari Nava.
“Lalu es datang dari mana?”. Tidak puas dengan jawaban yang diberikan Nava, Gin bertanya dengan wajah yang tampak bingung.
“Sebenarnya akulah yang membuat kekuatan angin ku sendiri menjadi dingin, sehingga bisa membekukan air itu.”
“Lalu bagaimana dengan yang kau buat tadi, kamu bisa mengendalikan air laut dan bisa membentuk nya menjadi berbagai bentuk”. Tanya Gin mencoba mengikuti gerakan tangan seperti yang dilakukan Nava tadi.
Nava diam dan tak ingin memberitahu kan hal yang ditanyakan oleh Gin tersebut.
Sebab jika Nava memberitahu kan yang sebenarnya, bahwa dia bisa mengendalikan kekuatan air yang ada disekitanya, maka hal itu akan membuat dia mengingkari janjinya kepada ibunya. Ia berjanji bahwa dia tidak akan memberitau kan tentang kekuatanya itu pada siapa pun.
Walau pun Nava tau bahwa karakter Gin yang diceritakan dalam novel bukanlah karakter yang akan memberitau kan rahasia temanya, Tapi Nava tetap berhati-hati dengan orang orang yang disekitarnya, itu yang diucapkan ibunya.
“Maaf, jika pembicaraan kita kali ini membuat kamu tidak nyaman, aku juga sadar bahwa itu sudah menjadi privasi kamu.". Merasa sudah sampai sana pembicaraan mereka, lantas membuat Gin berdiri dan langsung mengulurkan tangannya hendak membantu Nava untuk berdiri.
Nava pun merasa bersalah. Tapi dia juga tersentuh dengan perkataan Gin yang seolah menghargai privasi nya, tak mau membuat Gin menunggu lama, Nava menggapai tangan yang telah diulur kan itu.
"Kalau begitu ayo kita mulai latihan nya!". Interupsi datang dari Gin.
“Baiklah”. Ucap Nava yang merasa tertantang.
Sebelum mereka mulai latihan Nava memanggil terlebih dahulu adiknya Ava untuk menonton latihan nya bersama Gin.
Ava yang semula mencoba mengusir rasa bosan nya itu, sekarang sangat antusias dengan hal tersebut, dan langsung duduk manis dipasir dekat pohon agar tidak terkena panas nya matahari.
“Kalau begitu, ayo kita mulai” ucap mereka bersama, penuh semangat.
Gin dan Nava langsung maju secara bersamaan untuk memberi pukulan.
Gin yang pertama memulai, dengan mengeluarkan kekuatan cahaya yang ada ditangannya. Kemudian menyusul Nava membungkus tangan nya sampai ke sikunya dengan es, agar bisa memberikan pukulan balik kearah Gin.
“Buughh". Bunyi pukulan datang dari Gin yang mengenai perut Nava. Tetapi sebelum terkena pukulan itu, Nava dengan cepat melindungi perutnya dengan es. Sungguh naas ternyata pukulan cahaya itu lebih kuar dari perkiraan Nava, sehingga memberikan efek yang terlalu besar, sampai membuat tubuh Nava hampir oleng.
Begitu pula dengan pukulan Nava es Nava yang ditujukan kepada Gin membuat pipi Gin sobek karna terkena es yang tajam. Darah yang mengalir dari luka sobekan itu, perlahan jatuh tetes demi tetes ke pasir.
Ava yang semula hanya mengira latihan itu adalah latihan seperti biasa yang orang lain lakukan, tetapi pemandangan di depan nya saat ini sungguh diluar pikiran nya. Ava langsung syok, hingga membawa kedua kakinya untuk berlari kearah Nava dan langsung memeluknya sambil menangis.
“Kak hiks hiks, aku tidak mau hik-s melihat kakak bertarung hiks”. Kedua tangan dan lengannya itu ia daratkan di kedua pinggang Nava, memeluk nya sangat erat.
Nava dan Gin yang melihat Ava menangis langsung terkesiap, sejenak mereka saling bertatapan dengan bingung dan sedetik kemudian melepaskan tawa mereka.
“Pfttt, ha ha ha”. Tawa mereka pecah, dan itu membuat Ava yang menangis langsung diam, bingung dengan dua orang yang sedang bertarung itu.
Karna sudah cukup lama mereka tertawa, luka pukulan yang diberikan masing-masing pun berubah menjadi sakit. “Aduh duh perutku, perut ku ngghh sakit” Nava ingin berhenti tertawa, tapi sepertinya tidak bisa.
__ADS_1
“Dek Ava”. Panggilan itu datang dari Gin, yang sudah berhasil mengontrol tawanya tidak seperti Nava.
Ava yang dipanggil pun langsung menoleh kearah Gin dengan tatapan marah, karna telah melukai kakaknya. Tanpa mengerti latihan apa yang dua orang itu lakukan.
“Apa kau tau? Kemarin kakak mu ini hampir membuat tangan ku putus dengan pedangnya?". Ujar Gin bercanda, tapi hal yang dikatakannya itu bukan lah hanya bohongan semata ia bahkan menunjukan bekas luka dilengan nya itu.
Karna kejadian kemarin yang membuat Gin dan Nava bertarung hingga wajah, badan dan seluruh tubuh mereka luka. Waktu itu pun karna Nava terbawa emosi, dia mengeluarkan pedang es dan membuat tangan Gin hampir putus, Ingat hampir.
Tetapi Nava saat itu langsung menyembuhkan nya, tapi karna kekuatan Nava belum sempurna jadi bekas lukanya masih ada.
“Ta-tapi kau tetap tidak boleh menyakiti perempuan, ibu ku bilang laki laki tidak boleh menyakiti seorang perempuan”. Ujar Ava yang masih setia memeluk Nava dengan erat.
“Tak apa apa, kakak baik baik saja kok. Lihat luka milik kakak sudah sembuh”. Ujar Nava sambil menunjukkan bahwa badan nya itu tidak apa-apa. Ava tidak tahu bahwa kakaknya itu sudah menyempatkan dirinya untuk menyembuhkan luka yang tadi.
“Gin kemarilah, nanti kamu kehilangan darah. Dan maaf sudah melukai wajah mu, padahal aku tidak bisa menghilang kan bekas luka”. Ungkap Nava dengan raut wajah penuh penyesalan.
“Ngaak apa apa, nama nya juga latihan pasti tetap ada luka”. Kata Gin sambil membawa dirinya kearah Nava untuk disembuhkan.
Tapi Ava yang melihat Gin mendekat ke arah mereka berdua, lantas langsung melepaskan pelukan itu dan merentangkan kedua tangannya ke depan untuk menghalangi Gin agar tidak dekat dengan saudara nya itu.
“Ka-kamu tidak boleh dekat-dekat dengan kakak ku”. Walaupun Ava takut dia tetap menghalangi Gin tapi suaranya menjadi gagap.
Nava yang melihat itu hanya bisa membujuk Ava agar bisa mengijinkan Gin untuk diobati katanya. “Ava, kakak sudah tidak apa apa kok, nanti kalau kakak nggak sembuhin Gin nanti dia bisa mati karna kehabisan darah”.
Ava yang mendengarkan itu seketika menurunkan kedua tangan nya dan membiarkan Gin lewat.
Nava mulai menyembuhkan luka Gin. “Latihannya sampai sini saja, karna nanti adik ku jadi takut”. Ujar Nava.
“Baiklah, tapi sebagai gantinya besok kita latihan lebih lama oke?”
“Oke”
....
Mereka akhirnya memutuskan latihan mereka sudah cukup sampai disitu, dan hanya bermain dan mengikuti permainan yang dikatakan Ava seperti membuat istana pasir, bermain air dipantai dan berbagai macam permainan lainnya.
Mereka bertiga terlihat begitu senang saat bermain seperti anak kecil pada umumnya. Hingga matahari sudah mau tenggelam.
“Kalau begitu sampai jumpa besok”. Sambil melambaikan tangannya kepada Nava dan Ava. Gin akhirnya pulang
“Dadah”. Membalas lambaian itu dengan wajah penuh dengan senyum itu, membuat Ava sampai melupakan kejadian yang membuatnya marah kepada Gin.
“Seru kan mainnya?” Tanya Nava,
“Seru seru, nanti besok kita main lagi. Atau kalau perlu kita panggil dan bawa Gin kerumah yah kak, nanti kita main dirumah sama sama". Ujar Ava penuh antusias di setiap katanya.
“Siap Nyonya”. Kata Nava sambil bercanda.
__ADS_1
Nava dan Ava akhirnya pulang. Sambil bermain kejar kejaran, tapi saat mereka sampai didepan rumah Nava merasa ada yang salah karna tidak ada lilin yang dinyalakan dan hanya gelap gulita yang terlihat dari dalam rumah mereka..
Bersambung