
Akhirnya pun Nava dan Ava mencari sebuah penginapan untuk mereka tidur malam ini. “Bisa tidak, kamu jangan mengikuti kami?”. Ujar Nava yang membuat Soka yang berada disekitar situ merasa kaget.
Tapi tiba-tiba saat Soka merasa kaget, Perez keluar dari balik air mancur yang terletak ditengah-tengah pasar tersebut.
Nava merasa sangat risih karna Perez terus mengikuti mereka dari saat mereka selesai bertarung dan Nava pun baru mengetahuinya saat Nava dan Ava keluar dari sebuah lorong yang gelap saat sedang menghitung uang.
Perez pun berjalan cepat mendekati Nava dan Ava sambil menunduk. “Bi-bisakah kau mengejari ku?”. Ucapnya malu-malu dan langsung mengangkat kepalanya.
“Silau”. Kata Nava dalam hatinya sambil menutupi wajahnya dengan kedua lengannya sebab wajah Perez yang tampan ditambah dengan wajah malu-malu miliknya membuat Nava merasa silau. “Kenapa semua remaja laki-laki didunia ini sangat tampan?”. Pikir Nava yang merasa kebingungan sendiri.
“Ka-kau sangat hebat, a-aku mau kau mengejariku”. Ucap Perez lagi yang masih malu-malu.
Nava kebingungan sambil melihat kearah kekiri dan kenan dengan jari telunjuk yang menunjuk dirinya sendiri, mungkin saja Perez berkata pada orang lain “ aku?”. Tanya Nava kebingungan.
“I-ia”. Kata Perez sambil menganggukan kepalanya.
“Kak ayo pergi, dia itu orang gila aku tidak mau disini”. Ujar Ava. Ava merasa harus membawa kakaknya pergi dari tempat itu sebelum lelaki gila itu( Perez) mempengaruhi kakaknya.
Ava berpikir begitu karna penampilan Perez yang sudah tengah malam tidak menggunakan baju, dan rabut yang terlihat berantakan bagaikan gembel tapi menurut Nava Perez itu sangat tampan.
“Dari mana anak ini mempelajari kata kasar”. Pikir Nava bingung saat mendengarkan apa yang dikatakan adiknya.
“Hoi kau otak burung, menjauh dari anak itu. Dia adalah milikku “. Ujar Soka berjalan mendekat kearah mereka.
“Soka?!” Nava kaget saat melihat Soka berjalan mendekat kearah mereka sambil tersenyum. Tapi senyum itu seperti menandakan sesuatu yang buruk akan terjadi. “Dasar kau menguntit sial*n”. Pikir Nava dengan tatapan yang begitu kesal.
Ekspresi Perez tiba-tiba berubah menjadi ekspresi kesal karna mendengarkan perkataan dari Soka tapi dia langsung mengubah wajahnya kembali saat melihat kearah Nava.
“Masalah apa lagi yang akan datang?”. Pikir Nava sambil menepuk dahinya.
Semua orang yang berada disana langsung melihat kearah mereka berempat( Nava, Ava, Perez, dan Soka).
“Kak, aku mau pergi. Disini banyak orang aneh. Kak, kak, kakak”. Ava mulai menarik-narik baju kakaknya dengan sikap yang manja.
Dan disisi lain Perez dan Soka saling bertatapan dengan tatapan penuh kebencian, yang membuat aura milik mereka keluar seperti ada dua hewan buas yang ingin menunjukan keunggulan mereka.
Ditambah orang-orang yang berada disana melihat mereka berempat dengan tatapan aneh dan saling berbisik-bisik.
Semua hal itu membuat Nava pusing. Dan tanpa pikir panjang Nava langsung mengeluarkan kekuatan angin miliknya dan menerbangkan dirinya dan adiknya keluar dari tempat itu dengan tatapan datar seperti sudah menyerah dengan situasi saat itu. “Dah lah, nasib ku memang buruk”.
....
__ADS_1
“Pak aku mau pesan satu kamar, permalannya berapa yah?”. Ujar Nava kepada seorang kakek-kakek dengan wajah menakutkan dari balik meja.
Kakek itu merasa heran dengan kehadiran anak kecil yang bertanya kamar, apalagi tempat yang dimiliki kakek itu terlihat berbahaya karna disana banyak sekali penjahat jalanan yang tinggal dan minum-minum disana.
“Nak dimana orang tua kalian”. Tanya kakek itu.
Nava mencoba meraih meja tapi hanya matanya saja yang dapat terlihat oleh kakek itu. “Kami tak punya orang tua”.
“Nak apa kau tidak melihat tempat ini”. Ucap kakek itu.
Nava dan Ava pun mengedarkan pandangan mereka kesetiap sudut ruangan itu dan tampak banyak sekali orang dewasa baik itu laki-laki dan perempuan sedang minum minum disana. Penampilan mereka pun tampak tak jauh berbeda dari orang-orang yang Nava lihat saat dibertarung jalanan tadi siang.
“Disini tempat yang berbahaya”. Ucapk kakek itu lagi.
“Tak apa, aku mau tidur disini karna adikku sudah sangat mengantuk”.
“Baiklah, kalau begitu uang permalamnya 5 perak”.
Nava terkejut dengan perkataan kakek itu karna tadi saat dimenbaca harga permalam ditempat ini yaitu 5 sin permalam yang berarti 50 perak.
Tapi Nava hanya tersenyum senang krana kakek ini sangat baik dan kemudian Nava memberikan 5 perak pada kakek itu.
“Jangan lupa kunci pintu saat kalian ingin tidur”. Ujar kakek itu.
“Kamar 23, kamar 23”. Gumam Nava sambil mencari kamar yang bertuliskan 23. “Ini dia”.
Nava membuka pintu kamar itu dan melihat kamar yang terlihat begitu rapih dengan dinding kayu yang dicat putih.
“Huu, malam ini aku ingin tidur dengan santai”. Uca Nava yang sudah membaringkan Ava dan kini dia ikut berbaring.
“Kunci pintu sudah, jendela juga sudah, oke aman”. Ucap Nava setelah itu dia langsung tertidur.
....
Cahaya masuk melalui sela-sela dinding kayu kamar itu.
Nava pun terbangun dan dia melihat adiknya yang masih tertidur pulas, kemudian Nava pun langsung pergi kekamar mandi dilantai bawah sekaligus membeli makanan untuk dia dan Ava sarapan. Sebab kamar mereka berada dilantai dua penginapan itu.
Penginapan tersebut juga sudah temasuk bar yang menyediakan makanan dan minum.
Saat Nava turun kebawah, dia melihat kakek tadu malam yang tengah kesulitan membersihkan dan memasak.
__ADS_1
Karna Nava bangun terlulu pagi jadi tidak ada orang disana kecuali kakek itu.
“Selamat pagi”. Ujar Nava
“Pagi”. Balas kakek itu.
“Kakek, aku mau membeli makanan untuk sarapan”.
“Ohh ia, tunggu sebentar yah”.
Trang tak trang
Saat kakek itu masuk kedapur untuk mempersiapan makanan, terdengar suara yang sangat berisik seperti suara benda benda jatuh.
Nava pun langsung berlari kearah dapur karna takut terjadi sesuatu pada kakek itu.
“Apa kakek tidak apa-apa?”. Tanya Nava yang melihat benda yang sudah tergeletak dilantai sedangkan kakek itu sedang memungut semua barang-barang yang jatuh itu.
Melihat hal itu, Nava langsung membantu kakek tersebut.
“Maaf merepotkan yah nak, kakek saat ini sedang kekurangan pekerja”. Ujar kakek itu dengan wajah meresa bersalah.
Walaupun wajah kakek itu terlihat menyeramkan tapi dia sangat baik, itulah yang Nava pikirkan.
“Kenapa kakek tidak mencari pekerja baru?”. Tanya Nava.
“Sebenarnya kebanyakan dari mereka pergi karna melihat wajah ku yang terlihat menakutkan”.
“Emmm, kalau begitu bagaiman kalau aku bekerja disini?”.
Saat mendengar hal itu, Kakek itu merasa tidak yakin karna Nava masih terlalu kecil untuk pekerjaan seperti ini.
Nava yang melihat wajah kakek tua itu yang terlihat ragu-ragu pun langsung mengangkat cerita. “Bagaimana jika aku bekerja hari ini, dan jika kakek merasa ada hal yang kurang maka aku akan langsung berhenti”.
Walaupun kakek itu masih ragu-ragu tapi dia langsung mengiakannya. “Baiklah”.
Nava pun langsung berdiri dan memetikan jarinya.
Tak
Tiba-tiba semua barang-barang yang ada disana langsung melayang-layang diatas karna kekuatan angin milik Nava. Kemudian barang-barang itu langsung diletakan ditempatnya masing-masing dengan rapi.
__ADS_1
Terimakasih udah baca, jangan lupa like and commentnya karna semua itu tinggal diklik dan diketik😘.