
Malam yang sama saat Nava bertarung dijalanan. Disebuah ruangan yang mewah berwarna putih dengan barang-barang antik yang begitu indah terpajanb rapih didinding dan penuh dengan kertas-kertas yang menumpuk diatas meja.
“Apa?! Kita kehilangan jejak kedua anak itu?”. Ucap Adolf Brown raja hunter kepada Alma dan Yami yang tengah berdiri didepan meja kerjanya.
“Maafkan saya yang mulia, orang yang saya tunjuk untuk memata matai kedua anak itu tiba-tiba menghilang. Tapi saya sudah mengirim bawahan saya yang lain agar bisa mencari tau keberadaan kedua anak itu lagi”. Ucap Alma sambil berlutut kepada raja hunter yang sedang duduk didepan tumpukan berkas-berkas yang begitu banyak sampai-sampai wajah Adolf sang Raja Hunter tak nampak.
Saat itu mereka tidak tau penyebab hilangnya anak buah Alma adalah karna Soka yang telah membunuh anak buah Alma.
“Aku akan memaafkan kesalahan mu kali ini, tapi tak akan ada kesempatan ketiga sebab dua hari lagi kita akan melakukan persidangan untuk anggota kelompok tato snake dan kedua anak itu harus datang untuk menjadi saksi”. Ucap Adolf sambil memegang dahinya dengan satu tangan. Tapi Yami yang mendengarkan perkataan itu menjadi terkejut.
“Tapi yang mulia, anda telah berjaji kepada mereka untuk tidak membocorkan identitas mereka”. Ucap Yami sambil mengerutkan dahinya.
“Tenanglah, aku tidak akan membongkar identitas mereka karna yang akan dipengadilan itu hanyalah Raja Valcke”.
Semua hal itu dilakukan untuk menenangkan hati para bangsawan yang tengah resah akan kelompok teror*s tati snake.
Negara Valcke memiliki dua Raja yaitu Raja negara Valcke yaitu dan raja hunter yaitu Raja Adolf Brown.
Raja Valcke Bancroft Banks adalah raja yang memerintah seluruh negara sedangkan Raja hunter Adolf Brown adalah raja yang otoritasnya hanya untuk para hunter saja
“Dan Alma, setelah menemukan keberadaan kedua anak itu, kau pergilah ketempat mereka dan bujuk kedua anak itu”. Ucap Raja Adolf lagi.
“Baiklah...”. Jawab Alma yang kemudian langsung dipotong oleh Yami.
“Tunggu dulu, biar aku saja yang pergi”. Yami yang selalu tidak peduli dengan apapun kini bersikeras dengan ekspresi serius ingin pergi ketempat Nava. Hal itu membuat Alma dan Rajanya bingung dengan sikap Yami.
“Pfft”. Sampai-sampai Alma hampir kelepasan tertawa sebab dia tidak pernah melihat wajah Yami yang terlihat serius. Yami yang selalu nampak dimata Alma yaitu Yami yang berantakan, tidak pernah mengurus diri, walaupun baru berumur 20 tahun tapi terlihat seperti 30 tahun dengan kumisnya yang jarang dicukur dan tidak pernah serius akan sesuatu.
Raja Adolf yang mendengarkan perkataan Yami langsung menghela napasnya hingga terdengar ditelinga mereka berdua. “Kau akan tersesat jika disuruh mencari orang”. Ucap Raja Adolf langsung keintinya.
“Yang mulia biarkan saya pergi”. Yami masih saja bersikeras.
Karna Raja Adolf tidak ingin disibukan dengan yang lain karna pekerjaannya saja sangat banyak jadi dia langsung mengiakan apa yang dikatakan Yami.
__ADS_1
“Baiklah, dan pergilah”.
Mendengar ucapan Rajanya, Yami langsung pergi dari tempat itu dengan wajah biasa saja tapi didalam hatinya dia merasa senang karna bisa bertemu dengan Nava.
Masih kurang jelas apa yang dipikirkan Yami tentang Nava tapi yang pasti Yami sangat ingin bertemu dengannya.
Saat tengah malam datanglah kabar bahwa Nava berada didalam suatu penginapan yang berada dipinggiran kota dekat sungai monster.
Yami pun langsung bergegas pergi kesana pada pagi-pagi buta tanpa membawa apapun karna dia percaya diri bahwa dia akan sampai disana tanpa perlu membuang waktu lama.
Tapi sampai waktu hampir menunjukan waktu makan siang dia.... “ tersesat, aku tersesat lagi cih”. Yami menjadi kesal, ali-ali lebih dekat dengan tempat tujuannya, dia malah menjadi lebih jauh dari tempat yang dituju.
Dia juga tidak membawa uang dan tidak membawa sapu untuk terbang dan yang paling buruknya rokok yang dia bawa telah habis.
Tapi walaupun begitu, Yami terus bertanya kepada masyarakat disana dan pada akhirnya dia sampai ketempat Nava dengan sangat-sangat-sangat terlambat.
Yami menanyakan keberadaan Nava tapi kakek pemilik penginapan mengatakan bahwa Nava sedang keluar dan mungkin sebentar lagi Nava akan datang.
Yami menunggu Nava ditempat duduk dekat jendela, dia hampir tertidur hingga pada akhirnya dia menyalakan lagi rokok yang hampir habis hingga pada akhirnya Nava datang.
Hingga pada akhirnya setelah Nava dan Ava berganti baju Yami mengajak mereka berdua duduk untuk membicarakan sesuatu yang penting.
“Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting”. Ujar Yami dengan serius.
“Apa itu tentang jenggot paman yang belum dicukur?”. Balas Ava yang mengira kalau hal yang akan dibicarakan Yami adalah jenggotnya sebab jenggot milik Yami terlihat makin panjang seperti orang tua yang tak terurus.
Semua yang berada di bar itu langsung tertawa terbahak-bahak setelah mendengar perkataan Ava, Tak terkecuali Nava.
Yami menghembuskan napasnya dengan wajah memerah. “Nak ini sesuatu yang sangat penting”. Ucap Yami dengan wajah kesal.
“Maafkan aku paman”. Kata Ava sambil meletakan jari telunjuknya dibibirnya.
“Aku akan membicarakan tentang, orang-orang yang waktu itu kau kalahkan diatas kapal”. Kata Yami sambil berbisik.
__ADS_1
“Beberapa dari mereka telah menjadi gila dan selalu mengatakan dewi laut, dewi laut sambil berteriak-teriak dan beberapa dari mereka hanya diam dan tidak melakukan apa-apa”. Lanjut Yami.
Mendengar hal itu Nava merasa puas tapi kenapa didalam dirinya terasa ada sesuatu yang salah. “Seharusnya aku senang”. Kata Nava dalam hatinya sambil mengerutkan dahinya.
“Dan ada beberapa bangsawan yang merasa resah dengan keberadaan orang-orang itu karna mereka adalah orang yang sangat berbahaya”. Hal itu memang benar adanya, sebab beberapa bangsawan sangat ingin agar para pnjahat itu langsung dieksekusi. Para bangsawan itu terlihat seperti sedang menyembunyikam sesuatu dari para hunter
“Oleh karna itu akan dilakukan persidangan untuk menentukan hukuman apa yang akan mereka dapatkan. Karna selagi tidak ada bukti maka hakim tidak akan memberikan hukuman yang setimpal dengan apa yang mereka lakukan. Oleh sebab itu kalian berdua harus datang dan menjadi saksi”.
“Brak”. Dikata terakhir yang diucapkan oleh Yami membuat Nava langsung memukul meja yang berada didepannya hingga membuat air dalam gelas diatas meja tumpah dan membasahi seluruh permukaan meja.
“Apa kalian tidak mengerti dengan apa yang kukatakan dirumah sakit pada kalian kalau aku tidak ingin identitasku ketahuan”. Ucap Nava yang kemudian langsung berdiri dengan kasar hingga membuat kursi yang dia duduki jatuh kelantai.
“Jika kau ingin terus bersembunyi maka kau akan menyesalinya. Dan satu hal yang akan ku katakan, orang yang menjualmu dan adikmu juga sudah ditangkap dan akan datang kepersidangan”. Nava yang tadinya sudah membalikan badan untuk pergi, tiba-tiba langsung menghentikan langkahnya sebab orang yang telah menjualnya yaitu ayahnya sendiri kini berada dipulau yang sama dengan dia.
Hal itu membuat Nava mengingat semua yang telah dilakukan ayahnya itu kepada ibunya, dia dan adiknya.
Penyiksaan yang seperti dineraka mulai masuk kedalam pikiran hingga membuat dia serasa ingin menghancurkan sesuatu.
“Aku akan memikirkannya”. Ucap Nava kemudian langsung pergi dari sana tanpa melihat Yami.
Malam datang menghampiri mereka, Nava yang melihat adiknya sudah tertidur kini memegang secarik kertas pemberian seorang wanita yang menawarkan pekerjaan pada mereka pada kemarin hari.
Nava kemudian langsung mengambil topeng yang pernah ia gunakan saat bertarung dijalan melawan perez.
kemudian langsung menuju ketempat yang tertulis dikertas itu .
“Akhirnya kau datang”. Ucap wanita seksi berambut merah yang bernama Queen. (Eps 25 pertarungan jalan). Wanita itulah yang melemparkan kartas itu kepada Nava.
“Diam, aku akan langsung masuk arena”. Dengan penuh amarah langsung masuk kesana tanpa melewati antrian.
Mereka berjalan masuk melewati terowongan gelap hingga sampai ke tempat yang begitu ramai dengan teriakan dan bauh alkohol yang begitu menyengat.
Tanpa berlama-lama, Nava langsung masuk kedalam arena pertarungan.
__ADS_1
“Hei anak kecil apa yang kau lakukan ditempat ini?”. Ujar pria itu meremehkan Nava.
“Tak perlu banyak bicara, aku sangat kesal hari ini”.