
“A-anak ku, dia telah kembali”. Ucap seorang raja laut yang mencoba untuk duduk ditempat tidurnya sambil mengeluarkan air mata.
“Yang mulia, anda masih dalam keadaan sakit jadi saya mohon untuk tidak banyak bergerak”. Ucap Barnad yang adalah seorang penasihat raja laut sambil mencoba membaringkan rajanya kembali.
Tapi raja itu tidak mendengarkan apa yang dikatakan penasehatnya dan hanya melihat kearah kedua tangannya sambil mengeluarkan air mata. “Aku telah mengutuk anak ku sendiri dengan kedua tangan ku ini. Sudah bertahun-tahun aku tidak melihatnya dan sekarang aku bisa melihatnya lagi”. Ucapnya merasa senang. Dia tidak tau kalau anaknya itu telah mati dengan cara menggatung diri.
Dia telah lupa kalau dia telah memberikan kutukan pada putrinya sendiri agar putrinya Isabella tidak bisa lepas dari suaminya kecuali mati dan jika dia melarikan diri dari suaminya maka Isabella akan mati dengan sangat tersiksa.
Penasihat yang melihat itu langsung merasa sedih dan memaklumi perilaku yang dilakukan oleh rajanya itu kemudian langsung memanggil seseorang untuk mencari tau tentang apa yang telah terjadi. “Kau, cari tau apa yang telah terjadi disana dan langsung hubungi aku kembali jika sudah mendapatkan informasi”. Ucapnya dengan tegas tapi sebenarnya penasehat itu memang sudah tau kalau aura yang mereka rasakan tadi bukanlah milik Isabella.
“Baik”.
Seluruh orang-orang yang tinggal didalam laut itu memiliki ciri yang sama yaitu memiliki mata biru dan rambut putih dan darah mereka bisa berubah menjadi kristal merah.
....
Kembali saat Nava dimata-matai oleh orang dari bawah laut. “ tidak salah lagi, mereka berdua adalah anak dari putri Isabella. Walaupun wujud mereka tidak sama dengan putri, tapi bau darah dari putri Isabella masih tercium dari tubuh mereka”. Ucapnya pelan, tapi ketika dia sedang melihat kearah Nava dan Ava, seseorang telah berdiri dibelakangnya.
“Kalian sangat merepotkan yah, padahal aku mau membiarkan targetku berkembang sampai kepuncak, tapi kalian sangat ingin mengincarnya”. Ucap pria berambut merah yang tidak lagi dia adalah Soka Borchen.
Hal itu membuat pria itu terkejut, tapi saat dia ingin melihat kearah Soka, tubuhnya sudah tidak bisa bergerak.
“Tadi aku baru saja membun*h salah satu orang dari pasukan hunter yang mencoba memata-matai anak itu dan sekarang giliran mu untuk ku bunuh”. Ucap Soka yang perlahan menusukan kukunya yang begitu panjang keleher pria itu yang membuat darah mulai keluar dari lehernya.
Tetes demi tetes darah jatuh ketanah dan langsung berubah menjadi sebuah kristal.
“Gawat, aku harus pergi sekarang. Orang ini sangat berbahaya.” Katanya dalam hati kemudian langsung mengubah dirinya menjadi air dan masuk kedalam tanah.
Soka pun terkejut dengan apa yang dia lihat. Tapi saat dia melihat ketanah, sebuah kristal merah menyilaukan matanya. Dia pun langsung mengambil kristal itu “hoo, sangat menarik”.
....
__ADS_1
Berpindah adegan ke Nava yang sudah menangkap kartu yang diberikan wanita itu. “Bukankah tempat ini adalah tempat dimana Gin akan menyelamatkan seorang anak laki-laki yang akan menjadi teman seperjuangannya dimasa depan? Kalau tidak salah anak laki-laki yang akan diselamatkan oleh Gin adalah anak yang telah menjadi budak dan dipaksa untuk bertarung”. Pikit Nava dengan serius karna sudah sulit untuk mengingat apa yang pernah ia baca dikehidupannya yang sebelumnya.
“Kak ada apa? Kenapa wajah kakak seperti itu?”. Tanya Ava bingung sambil mencoba untuk melihat kartu yang Nava pegang.
“Ohh, ma-maaf kakak lagi mikirin sesuatu”. Ucap Nava sambil memperlihatkan kartu itu.
“Se be lah u ta ra, bar 21, ka ta san di 1221”. Ucap Ava yang masih terbata-bata karna belum lancar membaca. “Kak, maksudnya ini dimana”. Tanya Ava sambil menunjuk kearah kartu.
Mata Nava langsung berbinar dan senang. “Disana adalah tempat kita akan mendapatkan banyak uang”. Ucap Nava.
Dibagian utara bar ke 21 adalah tempat dimana terjadinya pertarungan ilegal atau bisa dibilang tempat para bangsawan untuk mencari tontonan yang seru.
Menurut Novel yang Nava baca saat dia masih hidup dikehidupan sebelumnya, tempat itu adalah tempat dimana pemeran utama atau bisa disebut Gin, akan menyelamatkan seseorang yang akan menjadi temannya.
Walaupun suatu hari nanti tempat itu akan ditutup karna kasus perjudian ilegal tapi Nava merasa hal ini tidak boleh dilewatkan.
“Siapa juga yang peduli dengan teman pemeran utama, lebih baik aku mencari uang disana dengan cara bertarung sebelum tempat itu ditutup”. Pikir Nava seperti sedang membanggakan dirinya sendiri karna sudah menemukan sesuatu yang luar biasa.
“Kakak, kakak gk apa-apa? Kenapa ketawa sendiri kayak gitu? Aku jadi takut”.
“Eh? Emmm, maaf kakak kelepasan ha ha”.
....
Nava dan Ava berjalan menjauh dari tempat pertarungan yang tadi, setelah Nava merasa sudah jauh, Nava langsung masuk kesebuah lorong dan melepaskan topeng miliknya dan adiknya.
“Nahh sekarang kita sudah bisa buka topeng, ayo kita hitung dulu uang yang kita dapatkan”. Ucap Nava sambil menyuruh adiknya untuk duduk kemudian mereka menghitung uang didalam lorong yang terlihat gelap dimana tidak ada orang yang lewat disana.
Didalam Novel yang Nava baca, mata uang yang mereka gunakan yaitu mulai dari koin perak, uang kertas, dan koin emas.
10 perak berjumlahkan 1 sin uang kertas dan 1000 sin uang kertas sama dengan 1 koin emas.
__ADS_1
“Wahh kak, uangnya banyak sekali”. Ucap Ava senang.
Tapi Nava berpikir bahwa uang yang mereka dapatkan masih kurang. “57 sin 100 perak. Berarti ada sekitar 67 sin”. Gumam Nava sambil menghitung hitung uang mereka.
Nava berpikir mungkin uang yang dia dapatkan bisa bertahan hingga 4 sampai 5 hari saja, itupun jika mereka berhemat.
“Kalau begitu, ayo kita pergi berbelanja”. Ucap Nava berdiri sambil menyeka celananya yang kotor akibat duduk ditanah. “Kita juga akan mencari tempat untuk tidur.”
“Yey, ayo pergi” ucap Ava sambil memasukan kedua topeng itu kedalam tas kain yang dibeli Nava tadi untuk memasukan benda-benda penting.
Nava dan Ava pun pergi berbelanja makanan, mereka berkeliling-keliling pasar hingga mereka puas.
Malam pun tiba, lampu lentera menyala dengan begituh indahnya. Susana dari lampu berwarna kuning membuat perasaan menjadi tenang.
Tapi saat Nava melihat baik-baik kedalam lentera yang terpasan dipinggir jalan, dia melihat seperti ada sesuatu yang melayang-layang didalamnya.
“Cantik bukan? Lampu ini terbuat dari batu sihir cahaya lalu dipasang ditiap jalan. Energi dari batu sihir itu pun adalah matahari, jadi tidak perlu menggantinya”. Ujar seorang penjual roti dipinggir jalan. Pria itu melihat Nava yang seperti merasa kebingungan dengan lampu lentera jadi dia memberitahukan itu kepada Nava.
“Wahh, sangat keren”. Ucap Nava dan Ava secara bersamaan.
“Orang tua kalian dimana?”. Tanya pria itu
“Kami tidak punya orang tua”. Jawab Nava.
Pria itu pun merasa kasihan dengan Nava dan Ava lalu langsung memberikan roti untuk mereka masing-masing. “ini roti untuk kalian, paman kasih gratis”. Ucapnya dengan penuh senyum ketulusan.
Mata Ava dan Nava langsung berkaca-kaca saat diberikan roti, karna baru kali itu ada mereka bertemu orang sebaik itu.
“Trima kasih paman”. Ucap mereka bersamaan sambil menunduk.
Makasih udah baca cerita aku.
__ADS_1
Jangan lupa like and comment nya yah guys