Reinkarnasi Kedunia Novel Hunter

Reinkarnasi Kedunia Novel Hunter
Eps 9 seharusnya kau menusuk ku dengan benar


__ADS_3

Pengumuman eps ini mengandung unsur 21+(blod/darah). Jadi diharapkan pembaca untuk bijak dalam membaca.


Nava dan Ava pulang sambil bermain kejar kejaran, tapi saat mereka sampai didepan rumah Nava merasa ada yang salah, perasaannya menjadi gelisah.


•••••


Tanpa pikir panjang Nava pun berlari masuk kedalam rumah, dengan tergesah-gesah sampai melupakan keberadaan adiknya yang ada di sampingnya.


“Ibu, ibuu”. Nava begitu gelisah, feeling nya mengatakan bahwa ada sesuatu yang buruk telah terjadi.


Ava yang melihat gerak gelisah dari kakaknya itu, langsung mengikuti masuk kedalam rumah dengan perasaan yang tidak enak.


Saat masuk, mereka berdua mulai mengecek keberadaan ibunya. Diruang tamu bahkan tidak ada orang disana, Nava mulai merasa takut jika ayahnya tadi datang kerumah dan tidak ada dirinya dan Ava.


Mereka berdua mulai mencari di tempat lain, satu persatu pintu yang ada dirumah telah dibuka, bahkan ketika membuka kamar, seprai yang di jadikan alas tempat itu, terlihat masih rapi.


Saat ini kedua kakak-adik itu menuju ke tempat terakhir, dapur.


Di depan mereka berdua, pintu dapur sudah terpampang. Nava yang semakin dibuat takut, bahkan membuka pintu itu dengan tangan yang bergetar, takut jika segala sesuatu yang buruk itu akan terjadi. 


Nyatanya semua berjalan dengan apa yang Nava pikirkan. "Nggak, nggak mungkin aku cuman salah lihat".   Tubuh Nava hampir jatuh, menahan segala beban tubuh nya yang mulai melemah, ia menopang tubuhnya dengan sandaran pintu. Bahkan sampai melupakan Ava, yang hanya diam membeku di tempatnya itu, seolah hanya Nava sendiri lah yang melihat itu .


Buliran air yang mengalir begitu deras dari kedua mata Nava seolah menjelaskan semuanya. Seluruh badannya bergetar, bahkan tangan Nava mulai memukul perlahan dadanya seolah itu sesak.   


Perasaan Nava seolah diaduk dengan penampakan mengerikan itu, dimana ibu mereka yang sangat mereka sayangi itu dalam keadaan sedang menggantung diri.


“I-ini pasti bohong kan, ibu pasti bercanda kan?. Nava bahkan sempat berpikir bahwa itu hanya prank belaka yang sedang dibuat oleh ibunya. Tapi kembali ke masa sekarang, di depan nya sudah menjelaskan semuanya.


"Bagaimana dengan ava?”. Seolah ada sesuatu yang menarik nya keluar dari segala pikiran negatifnya. Kini Ingatan nya langsung terfokus pada Ava. Menghapus sedikit air mata yang ada di pipinya ia mencari dimana letak adiknya berada.


Baru saja Nava akan membalikkan badannya ke luar pintu itu, langsung saja dikejutkan lagi dengan keberadaan Ava yang sedang berada dibelakangnya dalam keadaan membeku. Sorot mata Ava terlihat sangat sedih dengan pemandangan yang ia lihat didepannya dengan beberapa lelehan air mata yang keluar, membuat Nava tidak tega melihat itu. 


Kembali memfokuskan segala pikiran Nava terhadap adiknya itu, lantas dalam keadaan seperti itu, Nava langsung mencoba menggerakan tangannya sekuat tenaga, agar bisa menutupi mata Ava dengan tangannya agar tidak melihat pemandangan itu. Seolah tubuh dan pikiran Nava tidak sejalan, Nava yang saat itu masih dalam kondisi yang tidak stabil, sehingga membuat kedua tungkai kakinya perlahan melemas dan terduduk di lantai yang sudah basah penuh akan air mata keduanya.  


"Se-setidaknya aku harus mengeluarkan Ava dari tempat ini, hanya sedikit saja , aku mohon bergeraklah.". Batin Nava berperang, seolah berusaha sekuat tenaga mencoba menggerakkan kakinya untuk berdiri agar bisa membawa Ava keluar dari dapur.


Nava syok, melihat keadaan Ava. Kulit Ava yang berwarna putih perlahan menjadi merah karna karna begitu syok sampai sampai tak bisa bernapas dengan benar. Nava yang melihat itu langsung berusaha menggerakan kakinya dan membawa adiknya itu, tapi sayangnya kekuatan Nava hanya bisa sampai keruang tamu.

__ADS_1


Sesampainya disana Nava langsung menepuk nepuk bagian belakang Ava agar adiknya bisa bernapas kembali. Satu menit berlalu. Hening, perlahan semua kejadian dari mereka masuk sampai melihat pemandangan itu, tergambar dalam pikiran mereka berdua secara slowmo. 


"Huaaaa hiks hiks kakak hiks, aku tidak mau hiks”Suara tangisan Ava, mengakhiri kegiatan itu. Nava langsung meraih Ava dalam dekapan nya dengan erat, tapi air mata Nava pun sudah tidak dapat terbendung lagi dan keluar begitu saja.


“Kak itu bukan ibu kan?”. Tanya Ava dengan tatapan sendu, dia bahkan masih belum percaya bahwa ibunya lah yang ia lihat didapur itu.


Nava hanya menangis dan tak tau harus menjawab apa. Karena dia pun tidak mengerti dengan kalimat yang diucapkan ibu nya sebelum mereka pergi bermain tadi pagi ke pantai.


“Karna kalau Nava yang menjaganya pasti tidak akan terjadi sesuatu yang buruk” (chap 7)


Malam perlahan mulai datang. Bulan yang dimalam itu terlihat bersinar terang mulai menunjukkan dirinya di atas rumah Nava. Tapi lain kondisi dengan rumah mereka yang begitu gelap. Bahkan sekedar untuk melihat wajah adiknya yang masih menangis, dalam posisi masih dalam dekapan nya itu tidak tampak. Hingga sampai Nava mencium sesuatu yang sangat familiar, disertai suara langkah kaki yang berat dan terasa menakutkan membuat Nava sadar bahwa ayah nya telah datang.


“Kenapa disini sangat gelap?”. Ujar pria itu dan langsung mencari sesuatu untuk dibuat penerang. Untungnya saja dalam saku celana yang sedang dipakai nya ada korek api.


"Sreshht". Bunyi suara dari gesekan korek api itu. Dan tidak menunggu lama lagi api nya mulai menyala. Ayah dari Nava dan Ava itu perlahan mengendarkan pandangan nya dan mencari lilin yang bahkan sudah ada di meja didepannya seolah sudah disiapkan. Segera ia mengganti penerangan nya dengan lilin itu.


Saat pria itu hendak menyalakan lilin, langkah kaki yang ia seret hampir terjatuh, seolah ada seseorang yang sedang menjaili nya


Nava dan Ava yang terlihat sudah bisa mengontrol perasaan duka mereka, tidak menangis lagi. Sedari tadi hanya diam, untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan Ayah mereka itu sampai -sampai kakinya tersandung dengan kaki nya sendiri.


"Heee siapa itu,Jangan coba-coba mengerjai saya yah at-”. Kalimat dari Ayah Nava dan Ava itu terpotong, dengan menyalanya lilin itu.


“Dimana ibu kalian, dan kenapa kalian duduk di lantai hah?”. Tanya ayah mereka dengan tatapan bengis.


Ava tetap diam, bahkan Nava kakaknya itu yang ada di sebelah nya seolah tidak perduli dengan kehadiran Ayah mereka secara tiba-tiba.


“AKU TANYA DIMANA IBU KALIAN?!!” Tanya nya lagi, disertai bentakan yang tidak membuat kedua anak itu merasa kaget.


Nava mengangkat tangannya dan perlahan menunjuk kearah dapur, sebagai jawaban.


“Cuman didapur aja bikin banyak drama”. Gumam ayah mereka dengan rahang mengeras.


Ayah mereka perlahan berjalan kearah dapur, dan kemudian dia mendapati istrinya telah meninggal dengan keadaan gantung diri.


“Apa apaan ini? Aduhh kalau kau mati begitu saja nanti bagaimana aku bisa dapat uang”. Geram ayah mereka, kemudian segera mengambil pisau yang ada di dekatnya


“Setidaknya aku harus mengambil darahnya sebelum menjadi busuk”. Layaknya yang ada di depannya itu hanya seekor anak anjing, perlahan pria gila itu menyayat tangan ibu mereka yang masih tergantung. Tanpa sadar kalimat yang keluar dari mulutnya itu mengalir begitu saja, tapi membawa pengaruh yang besar bagi Nava dan Ava yang mendengarnya.

__ADS_1


Nava yang awalnya terkejut saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ayahnya itu merasa emosi seketika. Dia menoleh kearah dapur yang dimana pintu  dapur itu sengaja tidak tertutup, karna ayah mereka memang tidak menutupnya. Seolah sedang menunjukkan pemandangan yang indah, ayah mereka bahkan tidak segan-segan menyayat tangan ibu mereka di depan Nava dan Ava.


Dengan sigap Nava langsung melepas dekapan itu dari Ava, dan membiarkannya duduk sendiri dilantai. Nava berlari kencang untung menghentikan ayahnya, tapi Nava terlambat, ayahnya sudah mengiris lengan ibunya.


“APA YANG KAU LAKUKAN?!!”. Teriak Nava murka


Tapi dalam sedetik Nava dibuat terkejut, dengan ayahnya yang mengiris tangan ibunya. Bukan karena itu, tetapi ia kaget bukan darah yang keluar tapi air yang keluar dari luka sayatan dari ayahnya.


“Apa apaan ini?, kenapa yang keluar hanya air”. Kata ayahnya yang kemudian tetap mengiris lengan ibunya untuk mencari darah tapi tetap saja tak menemukannya.


Cukup dengan keterkejutan tadi. Nava langsung dibuat marah kembali dengan tingkah pria itu, matanya yang semula berwarna hitam, seketika berubah warna menjadi warna biru menyala, seperti mata ibu mereka.


Ketika pria itu sedang mengiris tangan istrinya lagi, tanpa dia sadari Nava telah berada di belakangnya sambil memegang es yang beberapa detik yang lalu sempat ia buat menjadi berbentuk pisau.


“Jika kau tidak berhenti sekarang, maka lehermu akan putus”. Dengan nada suara yang mengerikan Nava menggertak ayahnya itu, tapi jika fakta bahwa ayahnya itu bodoh, sehingga hanya berpikir bahwa itu hanyalah gertakan lucu yang keluar dari mulut Nava.


“Coba saja kalau kau bisa he”. Ejek ayahnya.


Amarah telah menguasai Nava, sehingga perlahan membawa pisau yang terbuat dari es nya itu semakin menekan leher ayahnya. Ayah Nava mulai merasa takut karna sensasi benda tajam yang perlahan menggerogoti lehernya. Tapi dia mencoba untuk melawan Nava.


“Dia hanyalah anak kecil, bagaimana mungkin dia dapat membunuh ku”. Pikir nya meremehkan Nava.


Seketika dia langsung mendorong tangan Nava yang berada dilehernya dan mencoba menusuk Nava dengan pisau yang tengah dipegangnya sedari tadi. Tapi Saat dia mencoba menusuk Nava, Nava telah melindungi perutnya dengan es sehingga pisau itu tidak dapat melukai Nava.


“Apa hanya ini yang bisa kau lakuakan  ha?” Tanya Nava sambil melihat ayahnya dengan tatapan dingin sambil melihat kearah tangan ayahnya.


“Tak”


Tiba tiba tangan ayahnya yang tadi memegang pisau, akhirnya jatuh kelantai, dengan darah segar yang mulai keluar begitu banyak seperti air mancur, hingga membuat baju Nava yang berwarna putih terkena cipratan sedikit dengan noda darah Ayahnya itu.


Ayah Nava yang melihat tangannya putus, langsung berteriak dengan kencangnya hingga air matanya mulai turun ”AARRGGHHHHH”. Teriaknya kesakitan sambil memeganga pergelangan tanganya yang putus.


“Seharusnya kau melakukan dengan lebih baik dan menusuk ku dengan benar, agar tangan mu itu tidak putus”. Ujar Nava dengan ekspresi yang sulit dibaca lewat matanya yang bahkan sudah terlihat berwarna biru pucat seperti orang mati.


Ayah Nava melihat kearah Nava dengan tatapan penuh amarah akan kebencian dan penuh dendam, tetapi ia akui bahwa ia takut dengan tatapan anaknya itu. Dia merasa kalau dia akan mati jika melawan anaknya itu. Karna perasaan takut lebih mendominasi dari perasaan yang lain nya, hingga membuat dia memutuskan untuk kabur dari rumah itu.


Disisi lain Nava hanya melihat dan membiarkan ayahnya kabur begitu saja dan tak mengejarnya. Melirik sebentar ke arah bajunya itu yang sedikit terkena darah Ayahnya itu, akhirnya memilih melepaskan bajunya dan hanya menyisakan kaus dalam karna dia merasa bahwa bajunya telah dikotori oleh darah dari seseorang yang begitu dia benci.

__ADS_1


Nava melirik kearah ibunya yang tergantung disana dengan ekspresi yang sulit ditebak. Kemudian dia langsung pergi ketempat Ava berada agar tak ada seorang pun yang dapat memisahkan mereka.


__ADS_2