
Happy reading guys
Mereka pun pergi meninggal kan Nava dan Ava didalam ruangan. “Yang mulia, bukannya pertanyaan tadi terlalu berlebihan untuk mereka apa lagi mereka baru mengalami hal yang begitu buruk”. Ucap wanita berambut kuning itu dengan begitu gelisa.
“Tenang lah Alma, kau tidak perlu mengkhawatirlan hal itu, karna mereka tidak lemah”. Ucap Yami sambil mengambil rokok yang ada disaku celananya.
“Kita harus mendapat kan kedua anak itu”. Kata kakek tua itu yang adalah Raja hunter Adolf Brown.
Mendangar perkataan raja nya itu, langsung membuat Yami meremas rokoknya dengan begitu kuat hingga hancur.
“Ngomong-ngomong kamu tadi berkeliaran dimana?”. Tanya kakek Adolf kepada Yami yang baru terlihat sekarang.
“Tadi aku tersesat”. Jawab Yami.
Mereka yang mendengarkan jawaban Yami langsung mengeleng-gelengkan kepala. “Kau memang tidak pernah berubah yah Yami”. Kata mereka bersamaan.
Yami yang mendengar perkataan dan tingkah laku mereka langsung pasrah dengan situasi.
“Untuk sekarang kita harus mengawasi anak-anak itu”. Perkataan kakek itu membuat suasana langsung berubah menjadi serius. “Alma, suru salah satu anggota mu untuk memgawasi kedua anak itu”.
“Baik yang mulia”. Jawab Alma sambil menundukan kepalanya dan langsung pergi dari situ dengan sangat cepat.
Walaupun Yami mengatakan kalau Nava dan Ava kuat, tapi dia tetap merasa khawatir dengan kondisi kedua anak itu. Yami pun sebenarnya tidak setuju dengan apa yang dikatakan rajanya itu, tapi dia tidak bisa menentang perkataannya.
....
Waktu berlalu dan malam pun tiba. Ava terbaring dikasur rumah sakit sambil menggenggam tangan Nava yang duduk disebelah tempat tidur itu.
“Damai, sangat damai, aku ingin terus seperti ini”. Pikir Nava sambil memejamkan matanya sambil menikmati suasana yang hening dan hanya cahaya bulan yang menyinari meraka.
Nava sengaja membuka jendela saat itu agar suasana hatinya bisa tenang, karna cahaya bulan mengingatkan dirinya tentang ibunya yang sudah meninggal.
__ADS_1
Nava membuka matanya dan melirik adiknya yang tidur didepannya itu “kali ini kita akan hidup bahagia”. Gumam Nava.
Saat Nava sedang menikmati masa tenangnya, tiba-tiba terdengar suara.
“Aku memang tak pernah salah memilih orang”. Ujar seorang pria berambut merah yang tengah duduk dijendela.
Nava yang mendengar perkataan itu pun langsung menoleh ketempat suara itu berasal, tapi saat Nava melihat kearah pria itu, tiba-tiba tubuhnya sudah tidak bisa digerakan lagi dan pandangannya hanya tertuju pada pria itu. “Ke-kenapa tubuh ku tidak bisa digerakan?”. Kata Nava dalam hatinya sambil mencoba menggerakan tubuhnya tapi tetap tidak bisa digerakan.
Perlahan pria itu mendekat, matanya yanh berwarna kuning nampak bersinar begitu terang “bu-bukan kah dia Soka ?”. Kata Nava dalam hatinya.
Soka Borchen adalah salah satu karakter yang disukai Nava tapi karakter Soka adalah karakter yang bisa dibilang berbahaya, dia bisa menjadi teman tapi dia bisa juga berubah menjadi musuh yang begitu berbahaya.
Soka pun sangat terobsesi dengan orang yang kuat, Soka bisa saja membuat orang yang kuat menjadi temannya tapi dia juga bisa langsung membunuh orang yang dia pernah anggap teman. Semua itu pun hanya tergantung dari moodnya.
Nava pernah berpikir jika dia tertemu dengan Soka, dia tidak ingin menarik perhatian orang tersebut agar Nava bisa tetap aman.
....
Nava melirik kearah adiknya yang masih tertidur pulas, seakan-akan aura yang menekan dia dikhususkan hanya untuk menekan dirinya seorang. “Tenang lah, adik mu tidak akan bangun”. Ujar Soka sambil menunjukan senyumannya yang licik dan menakutkan selayaknya penjahat.
Soka berdiri didepan Nava yang masih dalam posisi duduk, dia meletakan jari telunjuknya didagu Nava dan mengangkatnya agar dapat melihat wajah Nava dengan lebih jelas.
“Ha ha, ternyata aku memang tidak pernah salah memilih”. Soka memalingkan wajahnya dan tertawa sambil menutupi wajahnya dengan tangannya yang satunya, tapi matanya tetap melirik kearah Nava yang tampak begitu takut dengan kehadiran Soka saat itu.
Nava berpikir jika dia memperlihatkan wajahnya yang takut akan membuat Soka menjadi tidak tertarik lagi dengannya.
Soka yang melihat ekspresi Nava pun langsung membuat wajah datar dengan bola mata yang melihat kearah atas samping seperti sedang memikirkan sesuatu. “Berhasil, dia tidak tertarik lagi pada ku”. Pikir Nava sambil melihat ekspresi Soka.
Tapi saat Nava sudah berpikir demikian, Soka langsung melihat kearah Nava lagi dengan senyum yang lebih menakutkan seakan-akan dia telah berhasil mengecoh Nava, yang membuat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Soka.
“Aku akan menunggu sampai buah ini matang dengan sempurna”. Ujar Soka sambil berjalan mundur mendekati jendela kemudian langsung menjatuhkan dirinya kebawah dengan posisi berbalik.
__ADS_1
Saat Soka jatuh, tubuh Nava sudah bisa digerakan kembali. Nava pun langsung berlari mendekati jendela untuk melihat Soka yang jatuh dari kamarnya yang berada dilantai 5 rumah sakit.
Tapi saat Nava melihat kebawah, Soka terlihat sedang berjalan santai keluar dari wilayah rumah sakit.
.....
Beberapa hari kemudian saat Nava dan Ava akan keluar dari rumah sakit.
“Akhirnya aku keluar dari tempat itu”. Kata Nava dalam hatinya sambil menghirup dalam-dalam udara segar diluar rumah sakit.
“Kak apa yang akan kita lakukan?”. Tanya Ava.
“Hal pertama yang harus kita lakukan adalah...” jawab Nava dengan begitu semangatnya.
Gggrrrrrr
Tiba-tiba perut Nava dan Ava berbunyi secara bersamaan.
“Mencari uang, itu yang harus kita cari he he”.
“Pft ha ha ha”. Ava langsung tertawa begitu kencang karna merasa lucu dengan situasi mereka saat itu, sebab saat mereka keluar dari rumah sakit, mereka belum makan. Apa lagi saat ini mereka tidak membawa uang sepeserpun.
Nava pun ikut tersenyum senang karna melihat adiknya bisa tertawa kembali hingga membuat Nava ikut tersenyum lebar. “Pokoknya kita berdua jalan saja dulu, mungkin saja kita bisa menemukan pekerjaan untuk anak kecil”.
“Yah mana mungkin ada pekerjaan untuk anak umur 7 tahun”. Pikir Nava.
Ava menganggukan kepalanya dengan ekspresi wajah senang sambil memegang tangan kakaknya itu.
Nava dan Ava mulai menelusuri seisi kota. Disana terlihat persis seperti apa yang dikatakan oleh novel yang Nava baca.
Pemandangan perkotaan seperti saat zaman-zaman kerajaan di inggris, rumah dua tingkat yang menggunakan batu bata abu-abu besar berjejeran dipinggir jalan tanpa menggunakan cat. Tiang lampu-lampu lentera yang berbaris rapi dipinggiran jalan, dan orang-orang yang menggunakan pakaian ala-ala era viltoria berjalan disekeliling mereka. Hal itu membuat Nava dan Ava menjadi terkagum-kagum dengan pemandangan itu.
__ADS_1
Jangan lupa like, comennya yah.😁