
Halo guys.
Yami yang melihat situasi disana langsung menatap tajam kearah orang-orang itu.
....
“Ava apa kau tidak apa-apa?”. Tanya Nava khawatir sambil memegang kedua bahu Ava.
“ i-ia aku tidak apa-apa”. Jawab Ava dengan tubuh yang masih gemetaran.
“Apa kau tidak mau menunggu diluar?”.
“Tidak aku mau disini bersama kakak”. Jawab Ava sambil meremas baju kakaknya.
Nava yang melihat itu, hanya bisa mengiakannya.
“Baiklah, tapi kalau kamu ingin diluar bilang kakak yah?”.
Ava mengangukan kepalanya.
Nava pun mengangkat Ava dan mendudukannya di bangku dekat tempat mereka.
Raja Adolf sama sekali tidak melirik Nava tapi dia selalu memasang telinganya untuk mendengar apa yang dikatakan Nava.
“Jika mereka bertanya kepada kalian maka jawablah yang sebenarnya”. Ujar Yami yang berdiri disamping mereka berdua.
Nava mengigit bibirnya karna merasa kesal, sebab dari awal dia sudah mengatakan untuk merahasiakan dirinya dari siapapun.
Tapi Nava juga tidak bisa menyalahkan Yami sebab Nava juga memiliki maksud lain untuk datang ketempat itu.
....
Pengadilanpun dimulai, hakim sudah berada ditempatnya. Dia membawa dia dua barang dimasing-masing tangannya. Benda yang pertama yaitu timbangan kecil yang setengahnya berwarna putih dan yang sebelahnya berwarna hitam.
Dan benda yang kedua yaitu palu kecil yang diatasnya terdapat permata putih.
Nava pun diminta oleh Yami untuk duduk didepan bersama adiknya.
Tiba-tiba saat Nava berjalan kedepan, dia melihat pria dengan rambut dan mata berwarna hitam persis seperti rambut dan mata milik mereka.
Orang itu tidak lain adalah ayah mereka yang berjalan masuk mengenakan baju berwarna hitam dengan penampilan seperti mayat hidup dengan tangan kanan yang sudah hilang.
__ADS_1
Nava dan Ava langsung terdiam kaku saat melihat ayah mereka. Ava yang tidak bisa memalingkan wajahnya dari ayahnya itu langsung gemetaran sambil mengeluarkan air mata dengan ekspresi ketakutan.
Nava yang tadi terpaku pada ayahnya langsung mengeluarkan wajah datarnya.
“Baikalah kita akan memulainya”. Ucap hakim yang berada didepan.
Hakim mulai berbicara tentang apa saja yang telah dilakukan oleh para penjahat itu dan keterlibatan Julian( ayah Nava dan Ava) dengan anggota Tato snake.
Lima anggota tato snake yang sudah menjadi gila, kapten dan salah satu anggota yang sudah tidak bisa berkata apa-apa seperti sudah tidak memiliki nyawa.
Dan seorang yang terlihat masih waras tapi selalu menatap Nava dan Ava yang tidak lain orang itu bernama Seto yang telah menyiksa Ava waktu dikapal yang membuat Nava langsung hilang kendali. (Eps 15)
Lima penonton yang sudah termasuk Yami dan raja Adolf mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan oleh hakim.
“Kalau begitu saya meminta saudara Nava untuk berdiri dan memberikan saksi”. Ucap hakim yang berada disitu yang membuat Nava langsung pergi ketempat yang disediakan untuk bersaksi.
“Kalau begitu apa yang anda lihat saat berada dikapal”. Tanya hakim.
Saat mendengar pertanyaan itu, Nava melirik kedelapan orang itu dengan tatapan tajam kemudian langsung melihat kearah hakim kembali. “Aku melihat banyak anak-anak yang dikurung dalam kapal itu dan adikku yang disiksa oleh mereka”. Jawab Nava singkat.
Hakim yang berada disana heran dengan jawaban Nava yang sangat singkat. “Kalau begitu kenapa kalian berdua bisa berada disana”.
Nava menampakan wajah kesalnya, Nava tau bahwa hakim itu jelas-jelas sudah tau kalau dia dan adiknya telah dijual tapi masih saja menanyakannya. “Kami dijual”.
“Aku yang melakukannya untuk bertahan hidup”. Jawab Nava sekali lagi tanpa bertele-tele sekaligus untuk pembelaannya.
“Kalau begitu saudara Nava bisa kembali ketempatnya”.
Nava pun beranjak dari tempat itu kemudian langsung duduk bersama adiknya yang terlihat masih ketakutan.
“Sekarang kita akan melihat hukuman apa yang akan diterima oleh orang-orang ini”. Ujar sang hakim sambil mengangkat timbangan yang berada ditangan kanannya.
Tiba-tiba timbangan itu mulai bergerak dan mengeluarkan cahaya hitam dan cahaya putih yang menyilaukan mata.
Timbangan yang berwarna hitam tiba-tiba langsung turun kebawah seperti ada yang menekan timbangan itu dan dari timbangan itu tertulis hukuman yang akan mereka alami. “ HUKUMAN MATI”. Begitulah yang tertulis.
Hakim itu melepaskan timbangan miliknya kemudian mengambil palu yang berada disebelah kirinya.
Tak tak
“Hukuman yang akan diterima oleh orang-orang ini yaitu hukuman mati atas tindak penculikan anak, kegiatan teror*sme, dan pembunuhan”. Ucap hakim itu.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, hakim itupun beranjak dari sana tapi tiba-tiba Nava berteriak. “Berikan aku waktu untuk berbicara dengan orang yang berada disana”. Kata Nava sambil menunjuk kearah ayahnya.
Hakim itu berbisik kesalah satu penjaga agar membiarkan Nava berbicara dengan ayahnya.
Akhirnya Nava dan ayahnya diberikan satu ruangan untuk mereka berbicara dan Ava dititipkan kepada Yami.
Nava mengunci ruangan itu lalu mendekat kearah ayahnya yang terlihat seperti sudah tidak memiliki jiwa.
Plak plak plak
Byurrr
Nava kemudian menampar ayahnya berkali-kali hingga ayahnya sadar lalu mengguyurnya dengan air.
“Na-Nava, itu kamu nak”. Ucap ayah Nava yang kini langsung sadar.
“Maafkan ayah nak, ayah sangat menyesal”. Lanjutnya dengan wajah seperti ingin menangis kemudian langsung berlutut dihadapan Nava. Hal itu membuat Nava merasa jijik.
“Menyesal katamu?”. Tanya Nava yang masih menampakan wajah jijiknya.
Mendengar hal itu ayah Nava mengangguk- anggukan kepalanya.
“Ada pepatah mengatakan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Mungkin karna itu aku juga sangat menyukai menyiksa orang seperti dirimu”.
Bohong, yang dikatakan Nava semuanya bohong. Dia tidak ingin menyakiti orang lain. Nava sangat membecinya tapi semua hal itu dipanksa oleh keadaan sehingga mau tidak mau Nava telah melakukannya.
”Coba aku pikir-pikir lagi apa yang sudah kau lakukan kepada kami dulunya”. Lanjut Nava dengan ekspresi berpikir.
“Kau biasanya mencambuk kami bukan? Lihatlah semua luka yang telah kau berikan mulai dari luka cambukan sampai luka dari benda tajam”. Kata Nava yang kemudian langsung merobek baju dibagian pergelangan tanganya untuk menunjukan semua luka yang dialami oleh Nava.
Ayahnya mulai merasa ketakutan, tangan dan kakinya gemetar dilantai.
Nava pun ikut tertawa kecil seperti meremehkan ayahnya “ pfft”.
“Karna aku sedamg berbaik hati, aku hanya akan mencambukmu selama lima menit dan mengiris perlahan-lahan pergelangan tangan mu seperti yang telah kau lakukan terhadap ibu. Danaku akan meminumkan mu racun agar kau tidak bisa bergerak dan tidak bisa meminta tolong”. Kata Nava yang kemudian langsung mengeluarkan cambuk yang terbuat dari angin yang terkumpul dan samar-samar terlihat seperti cambuk.
Perlahan Nava mendekat kearah ayahnya dengan ekspresi menakutkan. Mata Nava perlahan kembali menjadi biru dan rambutnyapun mulai berubah warna dari atas menjadi berwarna putih.
“Tenanglah, aku akan langsung menyembuhkanmu, seperti yang selalu ibu lakukan ketika kau selesai memukul kami”.
Tidak ada yang mengetahui bahwa Nava memiliki gangguan jiwa karna situasi yang dialaminya. Terkadang Nava bisa saja menjadi anak yang begitu polos seperti tidak ada apa -apa tapi dia bisa langsung berubah menjadi kejam kepada orang seseorang termasuk orang yang ia sukai.
__ADS_1
Thanks for reading guys.
Yang mau ayah Nava hidup angkat kaki.