
Pemandangan perkotaan seperti saat zaman-zaman kerajaan di inggris, rumah dua tingkat yang menggunakan batu bata abu-abu besar berjejeran dipinggir jalan tanpa menggunakan cat. Tiang lampu-lampu lentera yang berbaris rapi dipinggiran jalan, dan orang-orang yang menggunakan pakaian ala-ala era viltoria berjalan disekeliling mereka.
Hal itu membuat Nava dan Ava menjadi terkagum-kagum dengan pemandangan itu. Sampai-sampai mereka berdua sudah tidak memperhatikan langkah mereka dengan benar, hingga akhirnya Ava menabrak seorang nona bangsawan yang tengah berjalan disana juga.
BRAKK
“Apa yang kalian lakukan, kenapa jalan gk pakai mat...aaa..”. Saat nona bangsawan itu ingin marah kepada Nava dan Ava, perkataannya langsung terhenti dan dikejutkan oleh wajah kedua anak itu yang begitu imut.
“Maafkan adikku nona” ucap Nava sambil memperlihatkan wajahnya yang merasa bersalah. “Ayo minta maaf Ava”. Bisik Nava kepada Ava yang tengah menunduk dan memainkan jarinya sebab Ava merasa takut dan gelisah.
Ava berjalan perlahan mendekati nona bangasawan yang nampak begitu cantik parasnya. “Nona, maafkan aku”. Ujar Ava melihat kearah wanita itu dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Semua orang yang berada disitu langsung terpukau dengan keimutan anak laki-laki tersebut hingga membuat wajah mereka memerah, begitu pula dengan nona bangsawan tersebut. “Imutnya”. Pikir semua orang yang ada disana secara bersamaan.
Nona bangsawan itu langsung menghela napasnya dengan wajah yang masih memerah. “Kalian kemarilah”. Ucap nona bangsawan itu dengan lembut. “Nak, kalau jalan hati-hati jangan sampai menabrak orang sembarang. Lihat, bajuku robek dibagian bawah karna aku minganjaknya saat kamu menabrakku”. Ucap nona bangsawan itu sambil merendahkan lututnya agar bisa menyesuaikan tingginya dengan kedua anak itu, sambil mengusap-usap kepala Ava.
Nava dan Ava pun menganggukan kepala mereka. “Kalau begitu aku pergi dulu”. Ucap nona bangsawan itu lalu segera beranjak dari sana.
Setelah melihat nona bangsawan itu pergi, Nava dan Ava pun langsung pergi juga kearah berlawanan dari jalan yang dilewati nona bangsawan itu.
Mereka berjalan terus menerus hingga mereka mencium sesuatu yang begitu harum dan enak, yang tidak lain adalah roti yang baru selesai dipanggang.
Tanpa sadar mereka berdua mengikuti bau dari roti itu, dan mereka berakhir disebuah pasar yang berderetan menjual berbagai macam makanan yang begitu beragam.
Hal itu membuat air liur mereka tergantung disisi bibir mereka masing-masing.
Gggrrr
Tiba-tiba suara perut Ava langsung terdengar, Nava merasa begitu bersalah tapi dia juga tidak bisa melakukan apapun sehingga mereka hanya berjalan melewati pasar itu dengan perut lapar.
Saat mereka berjalan, terlihat banyak orang yang berkumpul dilorong jalan yang mereka lalui. Terlihat begitu banyak laki-laki yang sangat besar dan memiliki banyak tato dan otot yang besar.
Mereka terlihat seperti sedang mengelilingi sesuatu.
__ADS_1
Tak kalah pun ada beberapa wanita yang terlihat menggunkan baju yang terbuka seperti hanya menggunakan kaus dalam berwarna hitam, badan mereka juga dipenuhi oleh tato-tato.
Teriakan mereka begitu kencang seperti sedang menyoraki sesuatu.
“Kak, kenapa disana banyak sekali orang”. Tanya Ava penasaran.
“Kakak juga gk tau, ayo kita lihat”. Karna Nava dan Ava begitu penasaran, mereka pun pergi kesana dan melihat dua orang yang sedang bertarung didalam ring yang bisa dibilang cukup besar.
Napak ada dua orang yang bertarung disana, salah satunya wanita dan satunya pria. Pria itu nampak sangat meremehkan lawannya yang hanya seorang wanita kecil. Tapi ditubuhnya yang kecil itu, terdapat banyak sekali tato hingga membuat kulitnya yang asli hampir tidak kelihatan, kecuali dibagian wajah.
Pertarungan pun dimulai, Nava dan Ava mencoba terus masuk kedalam kerumunan itu melalui sela-sela kaki orang dewasa.
Saat itu Nava terkagum-kagum saat melihat pertarungan tersebut hingga matanya berlihat begitu antusias dan berbinar-binar saat memandang pertarungan itu.
...
“Pertarungan dimulai”. Ucap seorang wasit.
Laki-laki itu hanya tersenyum sinis dan menyuruh wanita itu untuk maju duluan. Wanita itu pun langsung merasa geram saat dirinya diremehkan.
Lalu tiba-tiba terdengar suara sengatan listrik yang begitu kuat hingga menyebabkan pria itu pingsan dalam posisi berdiri karna terkena setruman dari wanita tersebut.
Wanita itu pun pergi keluar dari ring itu dan langsung pergi kemeja yang disana nampak dua kotak diatas meja.
“Aku akan membawa ini”. Ucapnya kemudian langsung mengambil salah satu kotak tersebut yang berisikan uang hasil pertaruhan orang-orang disana.
Uang dikotak satunya pun dibagikan kepada pemenang pertaruhan.
Pemandangan dari pertarungan wanita tersebut membuat Nava menjadi begitu berapi-api, sekaligus itu bisa menjadi kesempatan baginya untuk mendapatkan uang.
“Kalau begitu siapa yang ingin bertarung?, jika ingin bertaruh letakan uang kalian didalam kotak ini”. Kata seorang wanita yang langsung meletakan dua kotak lagi diatas meja sebagai tempat untuk menaruh uang pertaruhan.
Nava ingin mencoba bertarung tapi dia tidak ingin wajahnya diketahui, sehingga dia mencari sesuatu untuk menutupi wajahnya.
__ADS_1
“Yaa, sudah ada satu peserta.” Kata seorang pria yang tadi menjadi wasit.
Nava pun mulai mengedarkan pandanganya ditempat yang sempit itu, hingga dia melihat ada dua topeng yang satunya masih utu dan satunya sudah patah dibagian mulut.
Nava pun langsung mencoba mengambil kedua topeng yang berwarna biru hitam itu yang terletak didekat tempat sampah.
Yang masih utuh dipakaikannya diwajah Ava dan yang sudah rusak dipakai oleh Nava.
“Aku ingin mendaftar”. Kata Nava sambil mengangkat satu tangan.
Orang-orang yang berada disana langsung melihat Nava yang begitu kecil kemuan tertawa.
“Ha ha ha ha” tawa orang-orang yang ada disana.
“Maaf nak, ini bukan permainan. Kamu bisa terluka”. Ujar salah seorang wanita.
“Aku tidak bermain-main, aku akan bertarung”. Ucap Nava dengan serius.
“Kak, jangan bertarung nanti kakak terluka”. Kata Ava dengan suara pelan sambil menarik-narik baju Nava.
“Tidak apa-apa, kali ini kakak tidak akan terluka”. Kata Nava untuk menenangkan hati Ava.
“Hei nak, lihat adik mu mau menangis karna tidak mau kau terluka”. Ejek seorang pria berotot disebelah kanan Nava. Tapi sayangnya perkataan pria itu tidak dihiraukan oleh Nava dan membuatnya begitu kesal.
“Aku ingin ikut”. Ucap Nava berkeras hati.
“Apa tidak ada yang lain yang ingin ikut”. Teriak wasit yang ada disitu agar membuat Nava tidak bisa mengikuti pertarungan tersebut.
Tapi sayangnya semua orang yang berada disana hanya terdiam karna orang yang tadi telah mendaftar adalah orang terkuat yang tidak ada seorangpun yang bisa mengalahkannya sebab dia adalah orang terkuat diwilayah itu.
Jangan lupa like
Comen
__ADS_1
Vote and gift