
Prolog
Ada begitu banyak rahasia didunia ini. Aku hanya satu dari jutaan rahasia yang tersembunyi. Aku adalah sebuah sinar, harusnya berpendar indah seperti pelangi. Cinta, mampu mengubah warna kelabu menjadi pelagi yang cantik. Seseorang yang mengajarkanku tentang cinta, kekuatan dan harapan, dia yang menyinariku dengan cahaya kegelapan. Dia sudah pergi lama sekali. Tak banyak tersisa dari kami. Selain kerinduan yang terus menyiksaku tanpa ampun. Mengubah sinar itu menjadi pucat dan kelam. Aku masih menunggu di tempat ini, diatas bukit pelangi yang kehilangan cahayanya. Menanti ia kembali membawa pelangiku yang terbang bersama hatiku. Aku yakin dia pasti akan kembali. Aku hanya harus menunggu dengan sabar.
- Prilly Hellvina
****
Dua orang muda nampak duduk diatas puncak sebuah gedung sekolah. Keduanya nampak mengamati seseorang yang berlari dengan terburu-buru memasuki gedung sekolah.
“Lumayan juga.” Ucap pemuda lain yang berdiri tak jauh darinya.
“Jigoku tidak akan memilih sembarangan. Kau harus tahu posisimu dan tugasmu.” Tandas seorang gadis.
“Ambil yang ia miliki dan hancurkan dia. Aku sudah biasa melakukannya.” Pemuda itu tersenyum sinis sembari melemaskan ke sepuluh buku jari tangannya yang terasa kaku. Gemertak persendian terdengar tatkala ia melakukannya.
“Aku akan mengawasimu dan memastikan kau menjalankan semuanya dengan baik. Jangan sampai rencana ratusan tahun ini berakhir sia-sia.
__ADS_1
“Kau meragukanku?” pemuda itu merentangkan telapak tangan kanannya hingga keluarlah semburat jingga kebiruan dari bara api yang menyala liar seolah tangan itu terbakar. Tapi tidak, Pemuda itu tersenyum, bersama rekannya, ia bangkit dan berdiri di ujung gedung. Tubuh mereka nyaris terjatuh jika saja mereka mengambil 1 langkah kedepan. Angin menerbangkan pakaian hitam mereka juga rambut yang dibiarkan tergerai. Tapi mereka tidak juga melangkah. Mereka menunggu, menunggu semburat hitam keluar dari punggung mereka, sebuah sayap hitam pekat yang merekah seperti mawar, namun sayap ini jauh dari romantisme mawar. Sedetik kemudian keduanya berkelebat kelangit dan menghilang di cakrawala.
Seorang gadis yang baru saja akan masuk kedalam gedung sekolah, menoleh saat sekelebat angin menerbangkan rambutnya. Ia menengadah menatap langit biru dengan kumpulan awan putih yang samar.
*
Sebuah uluran tangan mungil bergerak menuju sebuah pintu kayu. Seorang gadis kecil berusia 8 tahun nampak berlari riang memasuki suasana kamar bernuansa pelangi yang remang-remang. Ia susah payah mendaki tempat tidur dengan sprai bermotif pelangi yang sudah kusut semrawut dan menaiki punggung seseorang tengah sibuk tertidur dan mengeluarkan dengkuran serak-serak banjir. Banjir kecil itu nampak nyata membasahi sarung bantal berwarna senada dengan selimut dan baju tidur bermotif pelangi.
“Kakak bangunn!!!” teriaknya menduduki punggung kakak perempuannya.
“Alice berhenti. Kakak masih ngantuk.” Ucapnya dengan nada dan perasaan setengah sadar.
“Prilly, bangun kamu mau telat sekolah? Udah mau setengah tujuh. Ayo mandi.” Ucap Mama seraya menggendong Alice agar turun dari tubuh Prilly.
Gadis berambut pendek itu duduk termenung sambil mengerjap-ngerjapkan kedua belah matanya yang dipenuhi kotoran. Belum lagi enzim di pipinya yang masih basah dan rambutnya yang awut-awutan. Sama sekali tidak bisa dikatakan kalau Prilly adalah gadis yang anggun. Lihatlah sekarang Prilly kelimpungan melihat jam meja yang nyaris menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.
“Nggak usah mandi deh.” Ucap Prilly menyambar pakaian putih abu-abunya.
__ADS_1
“Nggak ada. Kamu mandi. Masa anak gadis nggak mandi sih.” Protes Mama Prilly.
“Jorok.” Sahut Alice menutup hidungnya dengan jari telunjuk dan ibu jarinya yang mungil.
“Iya-iya, terpaksa deh mandi 3 S.” Begitulah Prilly, siram-sabun-siram dalam waktu 3 menit ia sudah selesai mandi, memakai seragam dan menarik ransel hitamnya menuruni tangga rumah.
Tampak Alice sedang disuapi oleh mamanya sedangkan papanya duduk menghadap meja makan seraya membaca koran pagi ditemani secangkir kopi panas. Pria itu tak sedikitpun menoleh kearah Prilly yang tersenyum sumringah berucap “Selamat pagi.”
Prilly duduk sejenak menikmati susu coklatnya denga tenang dan tak tergesa-gesa menikmati setiap tegukan manis yang membasahi kerongkongannya. Itu satu-satunya hal yang selalu dilakukan Prilly dengan pelan dan penuh perasaan sebelum ia pamit dan berlari menuju sekolah.
Dengan tergesa-gesa ia berlari-lari kecil menikung di sisi jalan yang ditumbuhi reumputan tanaman ivy. Tanpa sengaja ia menabrak benda keras hingga ia terjatuh.
“Aduh sory gue nggak sengaja. Lo nggak apa-apa kan?” tanya Prilly pada seorang pemuda yang tanpa sengaja ia tabrak.
“Prilly Hellvina?” tanya pemuda itu terkejut.
“Kok lo tau nama gue?” belum sempat menjawab, ponsel pemuda itu berbunyi, ia mendapat panggilan darurat.
__ADS_1
“Gua harus pergi, senang bisa ketemu sama lo.” Katanya tersenyum lalu dengan terburu-buru meninggalkan Prilly yang berdiri mematung sebelum sadar ia akan segera terlambat jika tidak berlari kesekolah.
*