Release My Soul : Story of Shinigami

Release My Soul : Story of Shinigami
Pekerjaan Selanjutnya


__ADS_3

Kontan Prilly meraih botol jus jeruknya dan menyiram wajah cantik Jessie dengan cairan oranye itu hingga rambut dan wajahnya basah. Jessie shock tak mampu berkata-kata tapi jelas dari pancaran matanya ia marah sekali. Matanya merah dan bibirnya bergetar menahan hinaan yang siap ia lontarkan untuk Prilly. Tak ada seorangpun yang pernah berani padanya bahkan menyiramnya dengan sebotol jus jeruk 5000-an seperti itu. Jelas Jessie tak terima ia beranjak keluar kelas tanpa kata apapun sembari mengelap rambutnya yang lengket.


“Mati kamu.” Desis Ratu menatap Prilly dengan pandangan sinisnya. Baru setelah ketiganya berlalu, Prilly mendesah penuh sesal. Mengapa sebodoh itu ia bertindak.



“Jadi kamu nyiram Jessie pake jus jeruk? Gila kamu Prill. Gila.” Cerocos Hana tak percaya ketika keduanya berjalan kaki keluar sekolah.



“Dia duluan sih, masa narik kerah baju aku, ya aku kagetlah.”



“Hebat banget kamu. Aku bangga sama kamu.” Hana memeluk leher Prilly seolah Prilly baru saja melakukan prestasi luar bisa dalam hidupnya.



“Ya ampuh Han, aku nggak nagapa\-ngapain bahkan sekarang jadi ngeri ngeliat matanya yang kayak buaya kelaperan. Aduh besok aku ijin sakit deh.”



“Hah? Kenapa? Harus tanggung jawab dong. Lari dari kenyataan itu adalah sikap seorang pengecut dan memalukan. Hadapi hidup Prill. Jangan lari atau sembunyi. Nggak baik.”



“Iya sih tapi ngeri ah.”



“Aku ada buat kamu Prill.”



“Makasih ya Han.” Prilly mengantar Hana hingga parkiran. Setelah Hana berlalu dengan motornya, Prilly kembali risau.



“kamu kenapa sih?” tanya Ryota saat melihat Prilly berlatih dengan ogah\-ogahan. Ryota memang orang yang baik, ia sibuk tapi selalu ada waktu untuk melihat Prilly berlatih. Walaupaun sebenarnya baru latihan fisik bukan latihan yang sebenarnya tapi ia selalu perhatian.

__ADS_1



“Nggak apa\-apa.” Ucap Prilly menenggak minuman dingin yang diberikan Ryota.



“Lari 11 putaran kamu pasrah banget. Kan biasanya protes dulu kek, apa kek.”



“Nggak mood aja mo protes ujung\-ujungnya malah dimarahin Alian.” Ucap Prilly melirik Alian yang duduk dibawah pohon sambil memainkan ponselnya.



“Kamu ada masalah?” tanya Ryota penuh selidik.



Prilly tersenyum paksa dan menggeleng. Siap untuk temenin aku tugas gak? Tapi rada ekstrim sih. Kalo Alian kan tugasnya enteng pake angin dingin. Kalo aku beda lagi.”



“Tugas malaikat maut juga?”




“Ya kan sama ajah.”



“Iya deh terserah kamu mo nyebut apa. Yuk, masih kuat kan?”



Prilly berpikir sejenak, daripada bingung dan galau memikirkan esok, mungkin lebih baik ia ikut Ryota siapa tahu ia bisa lupa kejadian menyebalkan hari ini. Prilly mengangguk mengikuti Ryota.


__ADS_1


“Kita pergi dulu ya.” Pamit Ryota pada Alian. Pemuda itu melirik sekilas pada Prilly lalu mengangguk cuek. Lagi\-lagi Prilly harus meminta Ryota untuk mengendarai motor seperti biasa manusia kebanyakan. Ia masih trauma tempo hari Ryota menerbangkan motornya seperti kesurupan. Mau tak mau Ryota harus menurut.



Motor itu berhenti disebuah rumah sepi dipinggir kota. Rumahnya sudah tua dan ditumbuhi tanaman liar dipekarangannya. Beberapa orang nampak berkumpul diteras depan seolah menanti sesuatu.



“Namanya Ki Jorobo. Dia salah satu dukun sakti disekitaran sini. Sebentar lagi ia harus diantar keneraka.”



“Neraka?”



“Bersekutu dengan setan adalah yang selalu ia lakukan. Jika rohnya sampai mencapai atmosfir, kau tahu yang akan terjadikan?” Prilly mengangguk paham. Keduanya hanya berdiri diluar. Ryota menggenggam tangan Prilly erat. Mengalirkan larik putih menutupi seluruh tubuh gadis itu. Kini keduanya tak bisa dilihat manusia biasa.



“Tidak masuk?” tanya Prilly teringat Alian yang menunggui pasien didalam kamar.



“Bahaya jika rohya keluar dan kita terlalu dekat.”



“Perasanku nggak enak nih. Nggak panggil anggota Jigoku yang lain aja?”



“Nggak apa\-apa, rasanya aku bisa selesaiin sendiri. Kamu liat aja tapi jangan deket\-deket. Aku nggak mau kamu kenapa\-kenapa. Oke?”



“Oke.” Prilly menyatukan jari telunjuk ke ibu jarinya. Berselang beberapa menit kemudian datanglah awan mendung menutupi daerah itu berbarengan dengan angin yang mendadak berhembus liar tak terkendali menggerakkan setiap dahan dan batang bambu yang banyak tumbuh menimbulkan nada horor yang membuat bulu kuduk berdiri.


__ADS_1


“Sudah waktunya.” Ucap Ryota dengan nada serius memandang pondok reot itu. Orang\-orang yang tadi berkumpul sudah masuk kedalam sambil meneriakkan kematian si Mbah.


***


__ADS_2