Release My Soul : Story of Shinigami

Release My Soul : Story of Shinigami
Sebuah Janji


__ADS_3

Sebentar lagi bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Beberapa siswa yang tidak mendapatkan kelas pelajaran tampak duduk santai dikoridor sekolah. Bercengkrama sebagaimana murid sekolah pada umumnya.



KRINGGGG!!!!


Bunyi itu terdengar berdering keseantero sekolah diiringi bubarnya para siswa dari kelas masing-masing. Hana keluar sendirian berjalan santai tanpa Prilly. Beberapa siswa dengan ritual lemparan itu terkejut mendapati Prilly tak kunjung keluar bahkan kelas telah kosong. Mereka tak tahu jika Prilly bolos 1 mata pelajaran untuk menghindari kotor-kotoran itu. Prilly duduk ditaman sambil sesekali menatap waspada. Bel sekolah terdengar dari arah taman membuat Prilly tersenyum sumringah berhasil mengelabui pemburunya. Ia mengendap-endap dibalik pohon dan tembok memantau situasi. Beberapa siswa nampaknya memang mencarinya. Dalam waktu kurang dari sepekan saja, gadis berambut pendek itu sudah menyandang gelar most wanted girl. Prilly hanya harus melewati satu blok kelas untuk mencapai pintu gerbang.


“Dia disana!!!” teriak seorang siswi menunjuk Prilly yang bersembunyi. Gadis imut itu berlari memutari kelas. Sayangnya tepat dikoridor, Prilly terpojok diantara kepungan dua kelompok siswa. Prilly tak bisa lagi menghindar saat siswa itu melemparkan air, telur, tepung dan tomat kerahnya. Sebongkah tomat ceri merah yang segar menampar mesra pelipisnya. Menimbulkan memar dan percikan darah segar. Bukan hanya itu, bibir Prilly yang mungil meneteskan darah segar saat tomat ceri lain menghajarnya tanpa ampun. Perih, Prilly merasa pandangannya nyaris kabur dan bibirnya kelu. Ia terus berusaha menghindari lemparan itu.


“Apa-apaan nih?” sebuah suara menghentikan penganiayaan itu. Alian dan beberapa temannya nampak terkejut menyaksikan penyerangan ini.


“Kalian siswa atau preman sih?” Rafael, ketua OSIS merasa tingkah para murid sudah keterlaluan.


“Aku nggak mau lihat ada aksi seperti ini lagi. Ngerti? Kalian semua itu sudah dewasa, jangan main keroyokan. Dimataku kalian semua itu pengecut. Tidak pantas mengaku sebagai pelajar jika yang diandalkan adalah fisik dan emosi. Kalian tau yang kalian lakukan hah?” Alian bertanya emosi. “Dia manusia juga. Kalian bertindak seolah kalian tidak punya perasaan dan nurani. Masih bangga menganggap diri kalian manusia? Sikap kalian itu benar-benar seperti sampah.”


“Kamu kenapa sih ngebelain si pendek terus? Aku nggak suka ya.” Bentak Jessie tiba-tiba.


“Karena ini emang salah. Kalau ada masalah, ya selesaikan baik-baik. Bukan dengan kekerasan.” Bentak Alian.

__ADS_1


“Alian bener. Dan aku tahu kalian semua yang terlibat ini. Jangan salahkan aku kalau perbuatan ini aku laporkan pada kepala sekolah. Kalian pasti menyesal.” Ancam Rafael. Ancaman itu kontan membuat para siswa terbelalak kaget dan mundur teratur.


“Ini bukan urusan kamu Raf.” Bentak Ratu.


“Aku ketua OSIS dan ini kewenangan aku. Nggak suka?"


“Awas kamu ya, awas!!!” Jessie menunjuk-nunjuk Prilly yang sudah tak berdaya tak mampu berkata sepatahpun. Jessie menatap marah kerah Prilly dengan tatapan seperti ular berbisa yang siap memangsa korbannya.


“Kamu nggak apa-apa?” tanya Alian pada Prilly.


“Kamu apa-apaan sih? Ini bukan urusan kamu.” Bentak Prilly marah. Entah apa yang ada dipikirannya saat itu, Prilly juga tak tahu tapi ia tiba-tiba merasa marah dan tak suka atas pembelaan Alian. Alian menarik tangan Prilly ke lantai dua. Disana mereka berdiri berhadapan. Prilly menunduk tak tahu harus berkata apa. Matanya panas dan dadanya naik turun berusaha menahan rasa amarah yang tiba-tiba membuncah tak mampu ia kendalikan.


“Jangan seperti ini lagi.” Prilly menatap mata Alian, tajam dan berkilau kehijauan.


“Kenapa Prill? Aku cuma berusaha ngelindungin kamu. Aku nggak suka kamu diperlakukan kayak gini.”


“Tapi ini bukan urusan kamu Al. Ini urusan aku. Kamu tau, Jessie marah karena kita deket. Semakin kamu belain aku, maka semakin dia marah. Kamu nggak seharusnya ikut campur.”


“Tapi Prill...”

__ADS_1


“Jangan ikut campur lagi,” Potong Prilly kesal.


“Ini masalah aku, biar aku yang selesaiin semua masalah aku. Apapun yang terjadi sama aku, itu bukan urusan kamu. Jadi jangan ikut campur. Kamu harus janji.”


“Kamu kenapa sih, sensitif banget belakangan ini?”


“Udah lah Al, janji aja. Kalau kamu masih mau aku di Jigoku, kamu harus janji nggak akan campurin urusan pribadi aku.”


“Oke-oke fine. Apapun mau kamu, aku akan berusaha untuk turutin. Aku janji.” Prilly bergeming mendengarnya. Ia membalikkan tubuh ingin segera berlalu dari hadapan Alian. Rasanya ingin menceburkan diri dikali ciliwung agar panas emosi dan tepung-tepung yang membaluri tubuhnya itu segera luntur.


“Ada baiknya kita jangan terlalu dekat disekolah. Aku nggak mau semua siswa cemburu sama aku. Kamu harus tahu kalau mereka semua itu suka sama kamu. Dan aku, nggak pantes deket sama kamu.” Ucap Prilly berlari meninggalkan Alian dengan mata berkaca-kaca. Ia menarik nafas dalam dalam mencegah bulir air mata jatuh dari pelupuknya. Dengan tampilan Prilly yang amis, kotor dan berdarah, tak mungkin ia naik taksi. Ia pasti ditolak mentah-mentah.


“Prilly-chan? Kamu kenapa?” teriak Ryota dari atas motornya. Prilly tak mau bertemu Ryota, tidak untuk saat ini. Sudah cukup Alian membuatnya sedih, tak mau Ryota juga mencampuri urusannya. “Prilly-chan, tunggu!!!” Ryota menahan tangan Prilly. Tangan putih yang kotor dengan kuning telur yang mulai mengering.


“Lepasin aku Ryota. aku mau pulang.” Suara Prilly bergetr menahan tangis.


“Ya ampun, bibir dan kening kamu berdarah. Siapa yang ngelakuin ini?” Raut cemas bercampus marah terpampang diwajah pemuda bermata sipit itu.


****

__ADS_1


__ADS_2