Release My Soul : Story of Shinigami

Release My Soul : Story of Shinigami
Pria Misterius


__ADS_3

 


“Dasar ratu telat.” Komplain Kevin sahabat dekat Prilly. Pemuda berpostur tinggi, rambut hitam dan wajah tampan berkacamata itu selalu saja mengerutu atas kebiasaan buruk Prilly.


“Maaf pak, telat bangun.” Ucap Prilly santai.


“Lo kan tiap hari telat bangun. Udah kayak kebo yang semedi.” Protes Hana. Gadis cantik blasteran Indonesia-Jepang, kulitnya kuning langsat dengan mata sipit dan rambut hitam yang digelung keatas dilengkapi poni membuatnya tampak manis. Ia adalah salah satu sahabat Prilly. Ketiga orang itu sudah berteman sejak duduk di bangku SD.


 


“Bawel ah.” Prilly menutup telinganya dengan kedua tangannya. Namun tiba-tiba ia ingat sesuatu, “Dia udah lewat belom?” tanya Prilly antusias.


“Belom.” Ucap Hana santai. Siapa lagi kalau bukan kakak kelas super cool, ganteng dan paling diem seantero sekolah. Kakak kelas yang menjadi incaran Prilly sejak masuk disekolah itu satu bulan yang lalu. Prilly memang masih kelas 1 SMA di SMA Nusantara.


“Dasar cewek freak.” Gerutu Kevin. “Ngeliat yang ganteng aja sampe ngiler kayak gitu. Aneh lu.”


“Eh emangnya lo kagak aneh? Padahal diam-diam lo kagumkan?” ejek Prilly.


“Eh siapa bilang? Enak aja.” Kevin mengelak.


“Dateng-dateng.” Kata Oxa teman sekelah Prilly yang juga mengagumi kakak kelas itu.

__ADS_1


Memang bukan hanya Prilly atau Oxa, hampir semua siswi dikelas bahkan di sekolah itu mengagumi sosok Alian Dovrizachiev, yang akrab disapa Alian. Begitu berkarisma dengan aura pesona yang terpancar luar dalam. Tapi sesempurnanya Alian, tetap tak bisa dikatakan sempurna secara total. Alian adalah cowok paling pendiam, dingin dan tidak pernah menaruh perhatian pada siswi-siswi yang nyata-nyata tersihir sampai kelepek-kelepek seperti mujair keluar dari air, oleh pesonanya yang kasat mata. Sudah banyak yang mendekati cowok ganteng, kaya dan cerdas itu namun Alian seperti batu karang yang tangguh ia bergeming tak peduli.


“Cool pake banget nget Na.” Ucap Prilly pelan. Sementara Hana menggangguk setuju tanpa mampu berkata-kata.


Prilly mendongak ke daun pintu selepas Kalian lewat. Dia mengipas-ngipas udara didepan dengan telapak tangannya.


"Hmmmm, Wangi malaikat." ujar Prilly menghirup udara dalam-dalam.


"Woi bagi!" Oxa dan sekelompok gadis dikelas merangsek maju dan menghirup udara didepan pintu dengan dalam dan penuh perasaan sembari menatap kagum pada sosok yg berjalan kedepan.


Rambut pemuda itu kecoklatan agak panjang berponi, alisnya yang hitam, matanya yang tajam, hidungnya yang mancung, kawat gigi yang memagari gigi putihnya, telinga sebelah kiri diberi tindikan kecil berwarna perak berbentuk bintang, tinggi badannya yang atletis dengan gaya berjalan yang sangat anggun sekaligus angkuh. Waktu seakan berhenti saat pemuda itu melintas didepan kelas Prilly. Seolah menghipnotis gadis itu dalam karismanya yang memancar.


“Eh Pril, jadi ketoko buku kan?” tanya Hana memecah kebekuan membuat Prilly tersentak setelah gadis itu diam membeku beberapa saat oleh pesona Alian.


***


Sepulang sekolah ketiga sahabat itu berjalan kaki menuju toko buku yang tak jauh dari sekolah. Ketiganya duduk tenang menikmati AC yang terpampang dan menjadi penyelamat mereka.


“Aku cari buku dulu ya.” Ucap Hana menarik Kevin. Prilly mengangguk dan memandang jalanan. Nampak bias-bias panas merambati kota metropolitan Jakarta. Sinarnya menimbulkan fatamorgana diatas aspal yang panas mendidih. Entah mengapa pandangannya tertuju pada sesosok tubuh yang berdiri santai diujung terotoar sambil berlindung dibawah sepucuk payung hitam.


Itukan cowok tadi pagi. Ngapain berdiri disitu.

__ADS_1


Mata Prilly terus memandang pemuda berkulit putih yang sedari tadi memandang mobil yang ada didepan toko buku. Prilly akhirnya bosan karena pemuda itu terus berdiri selama lima belas menit tanpa beranjak. Tambahan lima menit lagi, Prilly masih menatap aneh kearah pemuda misterius itu sebelum Hana menepuk punggungnya dan menunjukkan sumringah lebar atas sekatong buku yang sudah ia bayar dikasir.


“Ketemu.” Ucapnya dengan senyum memperlihatkan kawat giginya yang terpasang rapi. Sementara Kevin merenggut kesal karena harus membawakan belanjaan buku Hana yang seabrek


“Pulang yuk.” Ajak Prilly sambil mengarahkan pandangannya kerah pemuda misterius yang masih teguh berdiri. Mereka beranjak keluar dari toko buku.


“Cowok aneh.” Desis Prilly.


“Yang mana?” Hana mengernyitkan dahi kebingungan.


“Tuh.” Prilly menunjuk pemuda itu.


“Yang mana sih?” Hana bingung tak melihat pemuda yang selurus dengan telunjuk Prilly.


“Yang mana sih Prill?” Kevin ikut penasaran.


“Itu yang pake payung.”


“Nggak ada. Mana sih?” tanya Hana penasaran.


Belum sempat Prilly menjawab, sebuah suara mendentum terdengar di balik punggung mereka. Tepat beberapa meter dari keduanya, sebuah bus Trans Jakarta baru saja menabrak sedan hitam yang terparkir didepan toko buku. Mobil itu terbakar dan bisa dipastikan pengemudinya tidak akan selamat. Tapi bukan mobil itu saja yang menarik perhatian tapi sosok pemuda nampak berjalan santai ditengah kepanikan para pejalan kaki dan pengendara motor yang menyaksikan kecelakaan tragis itu. Pemuda itu berjalan santai mendekati mobil yang terbakar. Seolah tak ada yang melihat bahkan memperdulikannya, ia cuek berjalan diantara kerumunan orang-orang yang panik. Tak lama, entah dari mana, Prilly melihat sebuah siluet putih menembus mobil terbakar, sosok pria pengendara mobil yang tadi duduk santai dibelakang kemudi sebelum mobil itu tertabrak. Pria itu tubuhnya seperti transparan dan berjalan menembus kerumunan orang-orang dengan bingung.

__ADS_1


“Astaga.” Kevin berseru kaget.


***


__ADS_2