Release My Soul : Story of Shinigami

Release My Soul : Story of Shinigami
Hijau


__ADS_3

Jiwa-jiwa yang dicuri itu sudah kembali kepada pemiliknya. Donny nampak senang dengan pekerjaan Alian dan Ryota meski keduanya tidak ditugaskan. Tapi disisi lain ia cemas pada Prilly. Kini semakin jelas jika Prilly tengah diincar.


“Kalian udah tau siapa tuh cewek?” tanya Donny pada Ryota dan Alian. Keduanya berdiri kaku di hadapan Donny. Hanya meja kerja yang menjadi batas diantara ketiganya.


“Cewek itu kabur Mas. Aku udah coba kejar tapi hilang di kawasan Tambora.” Ucap Ryota jujur.


“Yang jelasnya kita harus waspada sekarang. Gue yakin tuh cewek pasti anak buah raja iblis. Yang gue takutin kalo sampe mau ngambil paksa kekuatan Prilly. Prilly bisa mati.” Tandas Alian.


“Iya gue paham. Itulah tugas lu. lo harus terus ngelatih Prilly. Ini adalah misi utama lu. Selain jadi Shinigami, tugas pokok lo adalah ngelatih kekuatan Prilly. Sinar pelanginya perlu proses dan waktu untuk bisa keluar. Selama itu kita harus nunggu dan dia harus berlatih 7 elemen warna.” Pinta Donny.


“Dan lo, gue mau lo jagain Prilly.” Donny menatap Ryota. pemuda itu mengangguk. “Ini misi utama kalian. Ngerti?”


“Ngerti Mas.” Ryota dan Alian serempak. Keduanya beranjak keluar dari ruangan itu. Prilly tengah duduk di meja kerja Alian saat keduanya datang.


“Nggak disekolah, nggak disini, fansnya banyak.” Celetuk Prilly melihat tumpukan hadiah berbungkus kertas warna-warni yang diletakkan diatas meja Alian. Alian mengibaskan poni yang menutupi matanya.


“Ambil aja kalo mau.”

__ADS_1


“Ciyus nih? Tapikan ini buat lu. Ntar ada yang marah lagi.” Ucap Prilly ragu-ragu. Beberapa agen wanita Jigoku memang nampak memandangnya dengan tajam.


“Siapa yang mau marah? Itu hadiah buat gue kan? Berarti milik gue. Jadi suka-suka gue dong mau gue apain. gue buang kek, gue makan kek. Udah ambil aja kalo lo mau.” Ucap Alian cuek.


“Mas broh sudah bertitah. Yuk kita sikat.” Ajak Ryota mulai membuka hadiah yang ada diatas meja. Belum lama pergi, Alian kembali dan tau-tau menarik tangan Prilly di saat gadis itu tengah sibuk menjejalkan coklat milik Alian kedalam mulutnya.


“E..eh apaan sih?”


“Latihan. lo lupa ya. Sekarang gue udah jadi pelatih resmi. Bukan sementara.”


“Hah?” Prilly memiringkan kepalanya.


“Ya suka lah, pelatihnya ganteng badai!” Prilly berceloteh tak sadar dan tak percaya ia baru saja berujar demikian. Alian saja sampai tertegun dibuatnya.


“Ayo ke bukit.” Ajak Alian dengan isyarat kepalanya.


“Ryota, gue latihan dulu ya. Coklatnya jangan lo habisin.” Prilly menoleh pada Ryota yang sibuk membaca surat cinta. Ryota hanya mengangguk sambil tersenyum manis.

__ADS_1


“Heh! ayok.” Alian yang tadi berjalan duluan, kembali menarik tangan Prilly keluar ruangan. Keduanya menghilang di pintu lift.


“Sebel banget gue sama tuh anak baru.” Celoteh Reni, gadis Jigoku itu nampak gusar.


“Gua setuju. Baru juga sebentar di Jigoku, tapi lengket banget sama Alian. Bikin gue panas aja.” Sahut Sinta.


“Kalo panas masuk kulkas.” Celetuk Ryota cuek.


“Apa lo bilang?” runtuk sinta.


“Dasar tante-tante gosip. Kerja sono.” Cibir Ryota meninggalkan meja Alian yang berdekatan dengan keduanya. Sementara itu, Alian dan Prilly sudah sampai dibukit belakang sekolah.


“Sekarang latihan harus lebih serius lagi. Lo harus keluarin semua kemampuan lo.” Prilly mengangguk taksim mendengar perintah Ryota. seperti murid yang dimarahi oleh guru, Prilly hanya bisa diam mengangguk-angguk.


“Sekarang lo bayangin lo lagi memengang panah dan anak panah.” Pinta Alian. Prilly mengangguk, memejamkan mata membayangkan ia sedang memegang busur dan anak panah dalam posisi siap serang.


Cahaya kehijauan dari tangannya membentuk garis melengkung dan menyatu membentuk busur dan anak panah. Sinar hijau itu seperti air yang bergelombang. Prilly mengangkat busurnya dan mengarahkan pada batang pohon yang ada dihadapannya. Sebelah matanya menutup agar mata yang satunya dapat fokus pada titik sasaran. Wusssh!!! Terdengar bunyi desisan angin saat panah cahaya itu diluncurkan. Anak panah itu meleset kearah akar pohon. Alian menggeleng-geleng lemah. Entah mengapa mata Prilly berkilat kehijauan, ia sendiri tak mengira ada semacam aliran darah hangat yang mengalir dalam tubuhnya. Prilly merasa tubuhnya sangat kuat dan segar. Entah dari mana asalnya, akar pohon yang tadi terkenan tusukan cahaya mulai berwarna kehijauan dan dengan cepat muncullah daun dan akar. Padahal tadinya hanya sebatang kayu yang diambil Alian dihutan. Kayu itu seperti tumbuh. Sulur-sulur hijau muncul dari tanah menusuk batang pohon hingga hancur. Lalu dari bawah tumbuhlah sebatang pohon besar yang semakin tinggi menjulang. Alian menatap Prilly yang berdiri mematung menatap pohon yang semakin tinggi menjulang disela pepohonan bukit.

__ADS_1


***


__ADS_2