Release My Soul : Story of Shinigami

Release My Soul : Story of Shinigami
Ryota lagi


__ADS_3

Persis seperti mimpi, Prilly terbangun diatas ranjangnya yang empuk tapi kali ini tak ada Alice yang membangunkannya. Ia bangun pukul 6 pagi dan ia tak percaya.


“Ini adalah rekor bangun pagi gue. Buset, mimpi ajaib gue bener-bener berkah.” Bisik Prilly pada dirinya sendiri. Prilly berangkat sekolah seperti biasa namun kali ini dengan berjalan kaki santai. Hanya saja ia lupa jika percakapan semalam dan pertemuannya dengan Ryota bukanlah sebuah mimpi tapi benar-benar takdir yang harus ia jalani sebagai seorang Shinigami.


“Selamat pagi Prilly.” Sapa Hana dengan nada sumringah luar biasa. Senyumnya mengembang seperti kerupunk yang dicemplung kedalam minyak panas. Ia tak percaya Prilly bangun pagi dan datang kesekolah tanpa terlambat.


“Tumben banget yah? Sehat lu?” Kevin meraba dahi Prilly lalu meletakkan tangan dipantatnya. Kevin berpikir sejenak.


“Angetnya sama.”


“Dasar sinting lu,” Prilly menepuk bahu Kevin.


“Ada yang aneh? Bangun telat protes, bangun pagi protes juga, maunya apa sih.” Ucap Prilly meruntuk kesal.


“Ya kan kamu nggak datang telat jadi harus disambit dengan meriah."


“Sambit pake sapu?”


“Pake senyumlah.” Kevin cengengesan.


“Itu doang?”


“Terus kamu maunya gimana? Kan jarang-jarang kamu masuk kelas gak pake lari-lari.”


“Terserah ah.” Prilly menguap lebar dan menjatuhkan kepala diatas meja. Sejak pelajaran mulai hingga selesai, Prilly tak nampak bersemangat, bukan karena mengantuk tapi karena energi paginya tidak nongol seperti biasa.


“Kak Alian mana sih? Biasanya lewat loh pas 23 detik sebelum bel masuk. Tapi ini udah pulang belum juga muncul-muncul.” Protes Prilly saat mereka berjalan menuju parkiran motor.

__ADS_1


“Dasar otak Alian. Udah pulang yuk.” Ajak Hana.


“Eh semalem kak Alian sms gua.”


“halah mimpi neng.” Ejek Kevin.


“yeee nggak. Beneran, SMS nya masih gue simpen. Nih.” Kevin dan Hana menatap layar ponsel Prilly.


“Alian imitasi tuh.” Ucap Kevin.


“eh jangan gitu dong.” Prilly mengerucutkan bibir.


“Eh tunggu-tunggu-tunggu!!! Ini bukan kerjaan lo berdua?” Kevin dan Hana saling pandang dan menggeleng. “Serius?”


“Ngapain juga ngerjain lo pake gituan.” Sahut Kevin.


“Alah paling tuh kerjaannya anak-anak. Udah jangan mimpi Alian pangeran sekolah itu sms lo.”


“Iya juga kali ya, padahalkan gue udah ngarep banget.” Kecewa Prilly.


“Yaudah gue pulang duluan ya.” Pamit Hana.


“Mau gue anter?” tawar Kevin.


“Hana mau elu apain? Lagian jurusan rumahnya beda tauk.” Prilly merajuk ingin diantar juga.


“Jangan judes gitu neng. Lagian gue mau sekalian pinjem catatan.”

__ADS_1


“Yaudah kita pulang duluan yah.” Hana naik keboncengan motor Kevin dan keduanya berlalu dari hadapan Prilly. Prilly berjalan kaki dengan setengah hati.


“Halo Prilly Hellvina!!! Siap ketemu pelatih kamu?” sapa Ryota dengan setelan santai, celana jeans dan jaket merah tua. Sepucuk headset putih terlihat menutupi sebelah telinganya.


“Siang Prilly-chan.”


“Heh kamu lagi. Orang aneh! Kamu ngapain sih disini.” Prilly mendorong tubuh Ryota agar menjauh dari area parkir.


“Motor aku disitu. Mau kemana sih Prilly-chan?”


“Udah kamu pulang sono. Aku juga mau pulang. Banyak peer. Stop panggil aku Prilly-chan, jangan sok akrab deh.”bentak Prilly galak.


“Kenapa, Prilly-chan? Kan kedengarannya lucu dan imut persis seperti kamu.”


Prilly berpikir sejenak. “Hah? Udah pulang sono. Hush hush.”


“Prilly sayang, kita ada jadwal latihan hari ini.” Rayu Ryota memegang dagu Prilly yang putih licin bak porselen.


“Nggak ada-nggak ada, pulang.” Bentak Prilly kesal.


“Kamu itu harus ikut aku. Anak-anak udah nunggu kamu. Mereka mau lihat anggota baru kita. Yaitu kamu. Kasian udah nunggu dari pagi tau. Ayo pergi.”


“Lo itu maksa banget ya, gue teriakin maling nih.” Ancam Prilly.


***


-chan: panggilan dalam bahasa Jepang untuk anak kecil atau orang yang dianggap akrab dan sudah saling kenal sejak lama.

__ADS_1


__ADS_2