Release My Soul : Story of Shinigami

Release My Soul : Story of Shinigami
Pencuri Jiwa


__ADS_3

Seorang pria nampak sedang sibuk menyiapkan peralatan persawahannya. Subuh hari ia harus berangkat kesawah. Tapi entah mengapa anak perempuannya yang masih balita nampak menangis sejak dari subuh seperti memberi sebuah pertanda pada sang bapak. Memang kata orang anak kecil itu masih murni dan bisa merasakan firasat buruk.


Tapi hal itu dienyahkan dari pikiran si bapak ia lebih berkonsentrasi menyiapkan senter. Meski subuh sudah lewat tapi matahari masih malu-lamu bersembunyi dibalik perbukitan. Ia harus melewati hutan dan perkebunan teh sebelum bisa menuju sawahnya. Setelah pamit si bapak segera menyalakan senter. Namun entah mengapa ia merasa tidak enak sesaat meninggalkan rumah. Terutama melewati hamparan kebun teh yang masih sepi.


Perlahan ditengah samarnya sinar mentari ia melihat kunang-kunang, memang wajar kunang-kunang muncul dipedesaan tapi anehnya kunang-kunang muncul saat malam bukan subuh hari seperti ini. Kunang-kunang itu berpendar merah seolah menghipnotis si bapak. Cahayanya membuat bulu kuduk merinding. Si bapak ingin segera berlari saat menatap sesosok siluet hitam besar mirip kingkong berdiri dihadapannya.


Namun apa daya, rasa takut membuat kakinya kelu tak mampu diajak kompromi. Ia berdiri mematung dengan suara tercekat. Sosok itu mendekat dan meraih tubuh kurus si bapak dengan kedua tangan mengangkat tubuh itu tinggi-tinggi hingga sejajar dengan makhluk hitam besar itu. Makhluk itu mengangga dengan mata merah jalang.


Lalu muncullah asap putih dari mulut si bapak yang mengangga. Asap itu seperti tersedot dengan paksa membuat si bapak merintih pelan sebelum tubuhnya terkapar dengan denyut nadi nyaris berhenti. Sosok hitam itu menghilang bersamaan dengan munculnya fajar pagi. Tubuh lemah si bapak ditemukan oleh pekerja perkebunan yang akan memetik teh.


**"

__ADS_1


Angin bertiup agak cepat, dahan bergerak liar seolah diguncang. Alian berdiri memandang langit. Prilly dengan pakaian olah raga biru tuanya nampak melayang satu meter dari rerumputan, sesekali naik lebih tinggi lalu turun perlahan lalu naik lagi, begitu seterusnya latihan Prilly disebuah bukit belakang sekolah. Tangannya merentang seolah ia akan terjatuh.


“Konsentrasi” teriak Alian pada Prilly yang masih oleng seperti ilalang yang goyah tertiup angin.


“Bagaimana menurutmu?” tanya Alian menatap Ryota yang duduk santai dibawah sebatang pohon. Pemuda itu duduk bersila sambil mengarahkan kamera ponselnya pada Prilly.


“Semakin baik. Sinarnya, apakah belum bertambah warna?”


“Belum.” Alian menghela nafas pelan. “Baru sinar hijau zambrud. kata Donny, dia punya sinar pelangi.”


“Bagaimana aku?”

__ADS_1


“Lumayan.” Alian ikut terlentang, tak tahu jika Ryota memandang kesal kearahnya. Baru saja Ryota akan bergabung, Alian mendapatkan panggilan darurat dari Jigoku.


***


Markas Jigoku lebih sibuk dari biasanya, ada banyak laporan tentang warga yang mendadak menghilang. Sebuah kasus aneh yang belum pernah terjadi. Puluhan agen nampak sibuk mengutak atik keyboard dan berjalan hilir mudik. Helaian kertas berserakan dimana-mana. Donny, pria 29 tahunan yang merupakan senior di sana tak mampu meredakan kecemasannya. Tatapannya tertuju pada foto-foto beberapa orang yang terbaring koma disebuah ruangan serba putih.


“Ada apa ini?” Alian tiba dengan wajah tak kalah panik.


“Mereka koma. Jiwa mereka dicuri.”


“Dicuri?”

__ADS_1


“Ya. Apa yang harus kita lakukan? Sudah beberapa yang mencari tahu tapi tak ada informasi yang pasti.”


***


__ADS_2