Release My Soul : Story of Shinigami

Release My Soul : Story of Shinigami
Malam Manis


__ADS_3

“Sudah waktunya. gue harus masuk. Lo tunggu dan lihat aja.” Ucap Alian membuka pintu. Dibagian bilik paling pojok, tertutup tirai putih, nampak seorang wanita berumur setengah abad terbaring kaku dengan lilitan kabel yang terhubung pada berbagai monitor diatas meja disebelahnya. Alat pendeteksi detak jantung itu sudah berbunyi panjang tanda tak ada lagi kehidupan. Selimut putih sudah ditutup diatas wajah pucat itu. Seorang pria tua masuk kedalam dan terpekur sedih disamping jasad wanita itu. Ia pasti suaminya. Pria itu menyingkap selimut dan memandang wajah istrinya yang ia kasihi. Air matanya meleleh disertai desauan nafasnya yang berat. Jelas sekali nampak bahwa kematian tertalu sulit untuk mereka yang memiliki kehidupan.


Dari balik jendela kamar, Prilly melihat sebuah asap putih keluar dari celah bibir wanita itu. Perlahan asap itu turun menyentuh lantai membentu siluet seorang wanita. Wanita yang ada diatas tempat tidur. Wanita itu tersenyum dan mengusap kepala suaminya dengan penuh kasih meski tangan itu tak mampu lagi menyentuh seolah ia hanya menyentuh angin.


“Waktunya sudah tiba. Saatnya kamu pergi.” Ucap Alian berjalan keluar kamar. Wanita itu mengekor dibelakangnya. Kakinya terlihat melayang tak menapaki lantai seperti manusia kebanyakan.


Ternyata bener kata orang. Hantu itu kakinya nggak napak ditanah. Prilly bergidik ngeri dan segera berlindung dibalik punggung Alian.


Alian mengarahkan tangan kanannya ke arah tembok kosong rumah sakit. Nampak sebuah lubang kecil yang perlahan membesar. Sebuah udara dingin mendadak keluar bersamaan cahaya putih yang keluar dari lubang itu.


Rambut Prilly nampak bergerak ditiup gelombang angin dingin nan sejuk itu. Wanita itu seolah sudah tahu kemana ia harus pergi. Tubuhnya melayang pelan menuju lubang penuh cahaya putih menyilaukan itu. Dan sedetik seolah menelan wanita itu, cahaya itu hilang tanpa bekas dan udara dingin pun hilang seolah semua itu tak pernah terjadi. Prilly segera berdiri mendekati tembok. Gadis itu mendekatkan pipinya memeluk tembok kosong itu.


“Keren.”


“Ayo pulang. Tugasku selesai. Yang lainnya akan mengurus jika masih ada tugas semacam ini.” Alian berjalan santai meninggalkan Prilly. Gadis itu masih tertegun bingung sebelum akhirnya mengikuti langkah Alian.


“Aku bisa buat lubang itu juga?” tanyanya berusaha mensejajarkan langkah dengan Alian, mereka lantas masuk kedalam mobil.


“Ya kalau sudah naik level tinggi."


“Sekarang levelku berapa?”


“Kalau diibaratkan rantai makanan, kamu itu ibarat plankton.”


“Rendah banget dong ya.

__ADS_1


“Iyap.” Prilly mendengus seraya bergumam tak jelas. Tiba-tiba ponselnya berbunyi.


“Kamu dimana Prilly-chan?” teriak Ryota setelah Prilly mengangkat telponnya.


“Nggak tau, ini pindah-pindah.”


“Maksudnya?”


“Lagi dijalan. Tadi abis itu.. namanya apa Al?” Prilly berbisik kearah Alian.


“Mengantar roh.” Sahut Alian dengan tatap masih ke arah jalanan.


“Eh ia mengantar roh. Ngeliat malaikat maut kerja.” Ucap Prilly pada Ryota.


“sama Alian?”


“Mau kemana setelah itu?” tanya Ryota lagi


“Nggak tau. Tadi dijemput dadakan masa’ langsung pulang sih. Kan mau minta komisi dulu sama Mas bos. Minta dijajanin es krim.” Celetuk Prilly membuat Alian menoleh sejenak kearah Prilly.


“Yaudah hati-hati ya Prilly-chan aku ada tugas. Bye.”


“Oke kamu juga. Bye.” Klik, telpon ditutup dan Prilly kembali menekuri jalanan.


Alian melajukan mobilnya kearah sebuah kafe bernuansa hijau. Prilly tersenyum senang, rupanya Alian mendengar celotehannya tadi.

__ADS_1


Rejeki-rejeki. Pada hal tadi cuma bercanda eh malah dijajanin beneran. Asik. Batin Prilly sambil menelan es krim cokelatnya yang ketiga.


Sementara Alian cuma bisa geleng-geleng melihat nafsu makan Prilly yang jumbo itu. Alian saja cuma memesan secangkir kopi arabica itu pun belum ludes diseruput.


“Bisa bangkrut gue.” Celetuk Alian menyeruput kopinya.


“Nggak mau? Enak loh. Aku suka banget sama es krim cokelat. Hmm enak. Coba deh,” Prilly menyodorkan sesendok kearah Alian. Pemuda itu menggeleng. “Kan kamu yang beliin, tiga porsi lagi, masa nggak nyicip sih.” Paksanya. Prilly tetap menggantung tangannya.


“Nggak baik buat gigi.” Ucap Alian.


“Sesendok doang.”


“Nggak.”


“Ayo dong.”


“Nggak.”


“Alian ayo dong. Please.


“Nggak.” Ucapnya tegas. Prilly akhirnya memasukkan es krim itu kemulutnya dengan kesal. Mulutnya mengerucut. Padahal ia sudah bisa membayang adegan romantis saat Alian menerima untuk disuapi es krim. Apalagi ditambah lagu romantis.


Selepas berterimakasih atas traktirannya, Prilly beranjak masuk kedalam rumah. Dilihatnya papa dan mamanya sedang nonton berdua. Alice pasti sudah tidur. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul setengah 9 malam. Gadis itu segera berlari menuju kamarnya. Ia duduk menyandari pintu sambil tersenyum-senyum seperti orang bodoh mengingat saat Alian menggandeng tangannya kedalam rumah sakit. Padahal Prilly tahu, Alian melakukan itu untuk menyembunyikan auranya agar tak terlihat oleh manusia kebanyakan.


Bodo amat dah. hmmm masih ada wanginya.

__ADS_1


besok kalo mandi tangannya mau dibungkus plastik ah. biar wanginya abadi.


***


__ADS_2