
KRUKKKK,KRYUKKKKK suara bunyi perut memecah suasana. Prilly meraba perutnya yang berdendang merdu minta setoran. Ia senyam-senyum malu menatap Alian. Ali menurunkan tubuh gadis itu.
“Belum makan?” tanya Alian.
“He eh. Tadi buru-buru sih.”
“Buru-buru tapi tetep telat.”
“Ya, kan sorry.”
“Yaudah kita cari makan aja. Pengantar logistikmu kan lagi sakit. Disuruh Mas Donny untuk istirahat.” Alian menuju mobilnya.
“Eh nggak usah, nanti aja lagi pula aku bawa sepeda.”
“Udah nggak usah sok deh. Kamukan jago makan.” Alian menarik tangan Prilly ke area parkir. Lagi-lagi Prilly deg-degan.
“Aku pake sepeda aja deh. Ntar ada yang nyolong kalo ditinggal. Bisa diomelin Mama.”
“Hmmm kita naik sepeda aja.” Alian mengunci mobilnya kembali. Ia mengambil alih setang sepeda dan duduk disadelnya dengan santai.
“Hah? Aduh Al, jangan deh.”
“Nggak apa-apa. Sekali-kali gowes nggak rugi. Ayok aku boncengin.”
“Yakin nih?”
“Iya. Ayo buruan. Katanya laper?”
“Yaudah deh.” Prilly pasrah dan berdiri dibelakang mencengkram kuat kedua bahu Alian. Keduanya mengarungi terotor Jakarta yang ramai. Saling tertawa bersama ditengah semilir angin, ditemani rimbunnya pepohonan yang menaungi, menimbulkan aroma sejuk yang mendadak mendinginkan hati Prilly. Lagu cinta itu kembali terdengar seperti nayanyian malaikat yang menggodanya dengan irama romantis. Udara panas mendadak sejuk, dingin dan manis.
***
Siang itu sepulang sekolah, Prilly kembali diserang sekelompok siswa. Tapi untungnya sebelum Prilly belepotan tepung dan telur, Alian bisa mencegah.
“Alian!!! Ngapain sih kamu belain anak ini. Kau tau, kemarin dia udah malu\-maluin aku.” Jessie merajuk manja.
“Aku nggak mau Prilly diganggu. Ngerti.”
__ADS_1
“Kenapa sih Al? Kamu suka sama dia?”
DEGG!!! Jantung Prilly rasanya mau copot ia menatap Alian dengan cemas. Ia penasaran akan jawaban pemuda itu.
“Aku cuma nggak suka ada keributan. Itu aja. Semuanya BUBAR!!!!” teriak Alian membubarkan kerumunan itu. Alian menoleh sekilas ke arah Prilly. Tak ada ekspresi diwajahnya.
ke esokan harinya pun aksi bully Jessica berlanjut.
“Heh, Alian kau peletin apa?” jessi menjambak rambut Prilly. Gadis itu menahan tangan Jessie yang menarik rambutnya hingga ia merasa perih dan sakit.
“Jess, lepasin Prilly.” Hana mencoba membela Prilly tapi Vina dan Ratu malah mendorongnnya hingga Hana terjembab dilantai. Lututnya lecet.
“Hana!!!” Prilly menatap Jessie dengan marah.
“Semakin Alian belain kamu, aku akan semakin sadis nyiksa kamu sampai kamu benar\-benar out dari sekolah ini. Aku sendiri yang akan nganterin kamu kegerbang depan. Tauk!!” Jessie, Vina dan Ratu melenggang pergi dengan sebaris senyum sinis.
“Jangan khawatirin aku Prill, kamu dalam masalah besar. Jessie nggak akan berhenti sebelum kamu benar\-benar keluar dari sekolah ini.”
“Han, kamu temen aku kan? aku mohon kamu janji sama aku.”
“kita ini sahabat Pril.”
“Apapun yang terjadi sama aku besok, atau lusa, kamu jangan ikut campur. Janji?”
__ADS_1
“Pril, aku sahabat kamu. Aku nggak akan diem ngeliat kamu disakitin. Dimana\-mana sahabat itu sehati, sejiwa dan saling merasakan. Kamu sakit aku juga sakit, kamu senang, aku juga senang. Kita sama\-sama selalu.”
“Nggak, aku nggak mau kamu berkorban karena aku. Aku nggak mau kamu disakitin seperti tadi. Kalo kamu sahabat aku, kamu harus janji Han. Jangan ikut campur.”
“Tapi Prill...”
“Janji aja Hana. Please.” Prilly memohon dengan setengah memaksa.
“Oke, aku akan berusaha.”
Hari itu berakhir dengan aman bagi Prilly tapi mungkin besok tidak. Jelas kejadian itu membuat pikiran Prilly kacau. Ia tak bisa berkonsentrasi pada latihannya. Omelan Alian dan jitakan dikepala yang didaratkan Alian jelas tak mampu membuat Prilly konsentrasi. Prilly bahkan jadi lebih diam dan sedikit bicara.
“Dia kenapa?” tanya Ryota setelah Prilly pulang dengan sepedanya. Alian mengangkat bahu tak mengerti.
“Gue nggak bisa pindah sekolah lagi sih. Coba bisa, gue mau deh sekolah disini. Bisa gak lo jagain Prilly?”
“Gue? Kan gue udah jadi pelatihnya, masa’ jadi bodyguardnya juga.”
“ayolah broh, jangan kayak gitu. Plis yah.” Ryota mengatupkan kedua tangannya didepan wajah.
__ADS_1
“gue usahain.” Ucap Alian cuek seraya berlalu meninggalkan Ryota.
***