
“Nggak apa-apa. Aku harus pulang.” Prilly meronta tapi Ryota mencekal tangannya begitu kuat.
“Prilly-chan, kamu nggak bisa pulang dengan keadaan kayak gini. Mama kamu akan bilang apa nanti? Prill, kita ke tempatku aja. Kita obati lukamu. Okey?” tawar Ryota dengan tatapan teduh.
“Nggak usah Ryota, aku nggak mau ngerepotin kamu. Lepasin aku.” Pinta Prilly berurai air mata. Bulir bening itu jatuh begitu saja. Hatinya sakit sekali. Ia tak tahu mengapa, tapi harinya sangat buruk dan hatinya juga lebih sakit.
“Prilly-chan.” Keluh Ryota mendekap tubuh mungil Prilly. Ia mengelus rambut pendek Prilly yang kotor. Tangis Prilly tak terbendung lagi. Air matanya jatuh dalam pelukan Ryota. Tubuhnya bergetar menahan sakit, bukan hanya fisik tapi juga hatinya.
Ryota mengajak Prilly kerumahnya. Prilly tak menyangka rumah Ryota sedemikian besarnya. Ryota tinggal diperumahan mewah. Dia tinggal sendirian bersama beberapa pembantu, supir dan tukang kebun.
“Mbak, bersihkan bajunya ya.” Perintah Ryota. wanita paruh baya itu mengangguk menarik tangan Prilly.
“Kamu mandi dulu, ikut sama mbak minah.” Ucap Ryota. Prilly mengangguk lesu tak bisa protes. Prilly menggosok rambutnya dengan handuk. Kemeja hitam milik Ryota nampak kedodoran ditubuhnya. Mau bagaimana lagi, Ryota lebih suka Prilly memakai bajunya dari pada harus meminjam baju milik pembantu wanita. Prilly mendekati ruang keluarga dimana Ryota tengah menonton televisi. Prilly mengambil tempat didekat Ryota sambil menatap layar televisi yang volume suaranya dikecilkan.
“Sini kita obati lukamu dulu.” Ucap Ryota menungangkan larutan yodium pada sebuah cawan kecil. Ia telaten mengobati pelipis Prilly yang sakit dan membalutnya dengan plaster luka. Begitu juga ujung bibir Prilly yang memar dan memerah.
Prilly duduk terdiam tak tahu, pikirannya kacau. Ia diam menatap mata Ryota yang pelahan-lahan mendekati wajahnya. Udara dingin tiba-tiba menyergapnya, membuat tubuhnya mengigil. Jantungnya berdetak seperti popcorn yang meletup tak terkendali. Wajah Ryota semakin dekat, membuat Prilly diam kaku tak tahu harus berbuat apa. Ryota hampir saja menciumnya jika saja bel rumah tidak membuat Prilly terlonjak kaget.
“Akan aku lihat.” Ucap Ryota mengusap rambut Prilly. Prilly bernafas lega sambil mengatur jantungnya yang tiba-tiba berdebar tak menentu. Ryota membuka pintu, nampak sesosok pria tengah berdiri
membelakanginya. Pria itu menoleh sesaat setelah Ryota membuka pintu.
__ADS_1
“Alian?”
“Bagaimana dia?”
“Harusnya aku tanya, apa yang kamu lakukan disekolah?” suara Ryota meninggi.
“Dia mencegahku ikut campur. Apa yang bisa kulakukan?”
“Apa yang bisa kau lakukan? Apa? Dirumah sakit waktu itu, kau marah dan mau membunuhku, tapi melihat dia disakiti kau diam saja? Hah? Kalau kau tidak peduli, jangan berpura-pura peduli.”
“Sudah kukatakan dia yang melarangku membantunya.” Alian menarik kerah baju Ryota. “Jangan katakan aku tidak peduli. Dia marah dan mengancam keluar dari Jigoku. Aku bisa apa? Kau mau dia keluar?” Ryota mengambil nafas dan melepaskan tangan Ali.
“Kalau begitu aku pulang. Setidaknya dia ada ditempat yang tepat.” Ucap Alian berlalu meninggalkan rumah Ryota, mobil merahnya meluncur meninggalkan deru ringan. Ryota menutup pintu. Nampak Prilly sedang asyik memindah-mindahkan channel televisi.
“Kau tidak tanya siapa yang datang?” Ryota duduk disebeleh Prilly.
Prilly mnggeleng pelan. “Bukan urusanku.”
“Siapa yang melakukan ini padamu?” Ryota meraih remote dan mengecilkan volume suara televisi. Prilly bergeming tak mengalihkan pandangan dari layar televisi.
“Haruskah aku datang ke sekolahmu dan memberi mereka pelajaran?”
__ADS_1
“Jangan!” Sergah Prilly cepat.
“Kenapa? Kau tidak dendam? Mereka menyakitimu.
“Dendam? Kalau pun aku dendam dan bisa membalasnya, aku tetap tidak akan merasa lebih baik. Membalas dendam tidak akan menyelesaikan masalah. Jangan ikut campur Ryota.” Prilly tak percaya, sudah berapa kali permohonan semacam itu meluncur dari bibirnya.
“Kenapa?” Ryota meraih kedua telapak tangan Prilly. Pemuda itu menatap cemas kearah Prilly. Nampak binar keresahan dimatanya.
“Ini urusanku. biar aku selesaikan sendiri.” Pinta Prilly.
“Tapi aku tidak suka kau disakiti seperti ini Prilly-chan.” Suara Ryota melunak.
“Tidak, apapun yang terjadi, jangan ikut campur. Aku tidak suka melibatkan kau ataupun orang lain.”
“Aku mengerti. aku akan membuatkanmu susu hangat.” Ryota berjalan menuju dapur. Namun saat ia kembali ia terkejut.
“Dasar keras kepala.” Desis Ryota. ia menarik selimut menutupi tubuh Prilly yang tertidur di ruang tengahnya. Ia tahu, percuma mengajak Prilly berdebat. Gadis itu memang keras kepala. Ryota tersenyum melihat wajah Prilly yang tertidur pulas. Ia tampak, mempesona. Ryota tersenyum dan duduk dihadapan Prilly. Wajahnya mendekat hendak mencium bibir tipis itu. Tapi Ryota berhenti seolah ada yang mencegahnya, ia ragu dan kembali mengangkat wajah, memandang seraut wajah tenang dihadapannya. Ia mengusap rambut yang menutupi pipi Prilly. Untuk kesekian kalinya Ryota tersenyum dan mengecup kening Prilly.
Ryota beranjak mendekati jendela. Seolah ada rasa yang menggelitik diperutnya. Membuat otot pipinya tertarik ketas menyunggingkan sebuah senyum. Perasaan aneh tapi indah, rumit tapi bahagia. Seperti sebuah simfoni indah mengalun dari dalam kepalanya membentuk sebuah lagu cinta yang berpusing disekelilingnya.
***
__ADS_1