Release My Soul : Story of Shinigami

Release My Soul : Story of Shinigami
Kerasukan


__ADS_3

Alian seperti biasa masuk ke dalam kelas. Bukan hari spesial baginya. Namun beberapa percakapan anak perempuan seperti mengusiknya. Ia menajamkan telinga mendengarkan percakapan pagi itu.


“Kemarin pas jam olahraga ada yang kesurupan loh.” Ucap Noni membuka percakapan.


“Iya, katanya sih setelah ngeliat penampakan terus teriak-teriak gitu. Serem deh.” Anisa bergidik.


“Wajar sih, sekolah kita katanya dulu bekas medan perang Belanda jadi banyak arwahnya.” Sahut Devi.


“Udah ah jangan ngomongin yang horor ditempat horor.” Cegah Noni, padahal jelas sekali ia yang memulai tadi.


“Kenapa?” tanya Devi.


“Katanya penunggunya bisa tersinggung dan marah. Kalo marah bisa ada yang kerasukan.” Suara Noni terdengar menakut-nakuti temannya.


“Ih Non, jangan nakut-nakutin ah.” Sergah Anisa bergidik mengusap tengkuknya.


“Tapi serius deh kalo lewat pohon mangga didepan ruang perpustakaan, aku merinding loh.” Lapor Devi.


“Huss jangan asal ngomong, perasaan pohon mangganya biasa aja. Bahkan sering kita bikin rujak. Ya gak.” Anisa menatap Sandra yang sedari tadi diam.

__ADS_1


“Nggak tertarik ngomongin ghaib.” Ucapnya tanpa mengalihkan bacaannya.


“Tapi aku setuju deh sama Devi. Beberapa hari bekangan itu aku juga ngerasa nggak enak loh kalo lewat situ. Apalagi abis dari toilet sendirian. Weits syerem.” Sahut Noni.


“Padahal dulu biasa aja tuh. Nggak ada yang aneh. Baru belakangan ini aja.” Ucap Devi lagi.


Beberapa saat mereka terdiam dalam pikiran masing-masing sebelum akhirnya Alian tersentak kaget mendengar jeritan dari arah koridor. Alian dan beberapa siswa berlari keluar kelas. Nampak didepan perpustakaan beberapa siswi perempuan terbaring lemah sambil berujar tak jelas.


“Ada apa?” tanya Alian pada Jessie yang berdiri tak jauh dari sana.


“Kerasukan.” Ucapnya tegang. Sementara Vina dan Ratu juga nampak was-was. Beberapa siswa yang ada diperpustakaan berhambur keluar termasuk Prilly yang sedang nyepi tak mau melihat Hana. Bukan karena ia benci tapi justru ia sayang pada Hana hingga tak mampu melepas dan menghadapi kenyataan Hana diliputi aura kematian. Sekitar tiga orang siswi yang kerasukan itu tergeletak dilantai, beberapa siswa mendekati dan berusaha menyadarkan termasuk seorang guru agama. Prilly yang merasa takut memutuskan mengungsi keluar dari perpustakaan.


Namun tiba-tiba, ketiga siswi yang tergeletak itu beringas seperti zombie yang mencium bau darah, ketiganya bangkit menyerang Prilly. Jelas sekali mereka mencekik leher Prilly. Alian terkejut dan segera berlari menembus kerumunan itu. Dibantu beberapa siswa, Alian berusaha melepaskan Prilly yang megap-megap kehabisan nafas. Bercak kemerahan dilehernya jelas terlihat. Prilly terjatuh kehabisan nafas ketika Alian menghujam punggung ketiga siswi itu. Alian tidak bisa melihatnya tapi Prilly terkejut melihat tiga cahaya seperti arwah hitam yang keluar dari sana dan terserap masuk kedalam pohon mangga yang berdiri kokoh didepan perpustakaan. Mata Prilly membelalak dengan nafas yang belum teratur.


“Nggak.” Prilly menggeleng lemah.


“Kita ke UKS.” Ajak Alian. Ketiganya berjalan menuju UKS sekolah. Disana jelas Alian melihat sorot kesedihan Prilly saat menatap Hana yang sangat cemas. Alian mulai bisa menduga kematian Hana yang cepat. Prilly mencoba tersenyum tapi getir saat Hana pamit hendak membeli minum untuknya.


“Sebentar lagi, dia akan pergi.” Titik bening jatuh dipelupuk mata Prilly.

__ADS_1


“Dia akan pergi? Kamu liat?”


“Ya, dan semakin dia seperti ini. Aku semakin sakit. Dia sahabat aku. Aku nggak mau kehilangan Hana. Kematian, aku benar-benar benci. Aku nggak mau Hana pergi.”


“Pasti berat melihat kematian setiap hari.” Sahut Alian sejujurnya ia cemas juga melihat Prilly. Prilly yang selalu ceria jadi terlihat murung dan pendiam akhir-akhir ini. “Kamu jadi lain Prill, jadi tidak seperti Prilly yang kukenal.” Ucap Alian membuat Prilly mengangkat wajahnya.


“Maksudnya?”


“Kamu jangan berubah dong, jangan putus asa. Apapun yang terjadi, kamu harus semangat. Jangan cepat putus asa. Kalau kamu sayang sama Hana. Kamu jangan seperti ini.”


“Aku emang keterlaluan nyuekin Hana. Harusnya aku nggak kayak gini. Tapi apa aku nggak bisa ngelakuin apa-apa?”


“Nggak ada yang bisa mencegah kematian selain kematian yang enggan datang.”


“Aku janji akan bikin Hana bahagia. Aku sayang sama Hana. Kamu pasti pernah atau punya sahabat kan? Kamu tau nggak rasanya jadi aku? Entah kapan Hana akan mati tapi yang jelas ngebayangin dia bakal pergi bikin hatiku sakit banget. Aku nggak bisa bayangin kalau dia benar-benar pergi selamanya. Dia yang selalu nemenin aku, bikin aku ketawa, dengerin curhatku sampe berantem sama aku. Aku sayang banget sama sahabatku yang satu itu. Nggak mudah buat ngedapet sahabat kayak dia. Mungkin banyak temen-temen yang lain tapi pasti rasanya nggak sama.”


“Jangan sedih. Kan ada aku.” Ucap Alian tersenyum manis memperlihatkan kawat giginya yang berjejer rapi seperti pagar yang memagari deretan gigi putihnya.


“Makasih ya. Lagian Hana masih ada disini kok. Aku bersyukur.” Prilly tersenyum manis.

__ADS_1


Entah mengapa Alian terhenyak memandang bias-bias matahari yang merambati jendela menyinari seraut wajah manis didepannya. Prilly jika dibandingkan Jessie memang bagai langit dan tanah. Tapi Prilly dalam kesederhanaannya, tanpa make up berlebih, dalam potongan rambut pendek dan poni tak beraturan, dengan jepitan rambut berbentuk pelangi kecil yang bertengger dirambut coklatnya, mata bening yang cemerlang, senyum menawan dan air muka ceria justru terlihat sangat manis. Tak heran Ryota begitu tergila-gila padanya. Alian tersenyum.


***


__ADS_2