Release My Soul : Story of Shinigami

Release My Soul : Story of Shinigami
Debaran Hati


__ADS_3

“Ya ampun Prilly!!! Kotor banget sih.” Teriak Mama melihat penampakan Prilly yang persis onde-onde.


“Tadi salah sasaran ma. Tadi ada yang ulang tahun tapi akunya kena.” kilahnya



“Pril, salah sasaran apanya. Bau amis telor lagi. Ih jorok.” Omel Mama lagi.



“Busuk.” Si kecil Alice menutup hidung. Prilly dengan usil mengolesi pipi tembem Alice dengan seujung bulir tepung. Gadis kecil itu merenggut pergi dengan manja. Tinggallah Mama yang melotot kerah Prilly menuntut jawaban. Prilly harus memutar otak. Tak mungkin ia jujur jika kini ia membuat masalah disekolah.



“Mah, tadi emang salah sasaran. Jadi tuh si Dona ulang tahun tapi ya gitu deh rencananya gagal soalnya yang keluar kelas duluan itu aku mah. Kebelet pipis eh malah ketimpuk telor dan tepung deh.” Prilly cengengesan menertawakan kebohongannya yang masuk akal.



“Nggak ngompolkan?” Mama penuh celidik.



“Mamah, nggak lah. Pas kena timpuk kan pipisnya tertunda.” Kebohongan lain untuk menutupi kebohongan pertamanya tadi.



“Mama nggak mau kejadian kayak gini lagi. Ayo mandi.” Mendengar itu Prilly tersenyum lega dan segera ngacir menuju kamarnya.



“Ya ampun, untung nggak ketahuan. Slamet\-slamet.” Prilly bergegas mandi. Selepas mandi dan berpakaian, gadis itu dengan terburu\-buru segera meninggalkan rumah.



“Makan siang dulu sama\-sama.” Teriak mama. Alice dan papa sudah duduk sejak tadi.



“Mah Prilly udah telat. Nanti aja deh.”

__ADS_1



“Pril, kamu belum makan. Kalo sakit gimana?”



“Mamah, Prilly belum laper kok.



“Prilly ayok.” Tegas mama.



“Kalau dia nggak mau, ya jangan dipaksa.” Papa angkat bicara dengan suara tegasnya.


“Kalau lapar dia juga nanti makan. Sudah jangan berdebat sama dia. Alice sudah minta makan dari tadi.” Lanjut papa mengelus kepala si kecil Alice.


“Mah udah ya. Prilly udah telat. Bisa dihukum ntar. Da dah.” Prilly segera mengambil sepedanya dan bergegas pergi meninggalkan rumah. Tinggallah papa, Mama dan Alice yang saling berdiam diri.




“Papah cuma nurutin yang dia mau. Kamu juga harusnya gitu. Nggak usah ngelarang dia. Suka\-suka dia lah mau ngapain dia udah dewasa.”



“Pah Prilly masih 17 tahun.”



“Kamu yang telalu manjain dia. Biarin dia mandiri.”



“Papa yang kurang peduli.” Tandas mama.


Sementara Mama dan papa berdebat. Prilly melajukan sepedanya menuju sekolah. Berkali-kali gadis berambut pendek itu mengerdipkan matanya yang berkaca-kaca. Yang jelasnya bukan karena debu jalan kota Jakarta. Setelah memarkirkan sepedanya didekat mobil Alian, Prilly segera berlari menuju lapangan rumput. Nampak Alian duduk santai memainkan ponselnya.

__ADS_1


“Aduh sorry telat.”



“Kamu telat 1 jam.” Ucap Alian datar tanpa memandang Prilly.



“Ya maap. Tadi itu..hmmm ada urusan. Ya ada urusan.” Prilly cengengesan.



“Kita mulai sekarang. Kamu itu udah mubazir waktu.” Ucap Alian serius. Keduanya berjalan ketengah lapangan.


“Coba keluarkan kekuatanmu.” Pinta Alian.


Prilly mengulurkan tangannya mencoba berkonsentrasi. Setitik kecil cahaya kehijauan muncul. Warnanya samar tapi indah seperti kiauan batu zamrud yang disinari lampu. Prilly menatap tangannya dengan melotot mencoba konsetrasi. Tampang Prilly memang serius tapi ekspresinya persis seperti orang yang tidak BAB selama sebulan. Alian tersenyum mengejek sambil menggeleng-geleng.


“Salah-salah.” Alian memukul tangan Prilly. Cahaya itu menghilang. Prilly tersentak kaget dan memandang Alian dengan mimik serius.


“Pertama-tama berdiri tegak dengan sempurna. Lalu rilekskan tubuh dan konsentrasi. Pusatkan pikiran pada kedua telapak tanganmu dan bayangkan kau mengeluarkan kekuatan besar seperti yang kau lihat pada Ryota.”


Prilly mengangguk dan mulai mengikuti instruksi Alian. Perlahan tapi pasti rambut pendek Prilly mulai berderai seperti ombak yang diam-diam mulai mengamuk. Dari telapak tangannya keluar cahaya hijau pekat yang menyilaukan seperti lidah api yang menyulut bensin. Cahaya itu semakin kuat. Mendadak awan mendung menutupi suasana. Prilly membuka mata dan terkejut. Ia tak lagi memijak tanah. Ia melayang 65 cm dari permukaan rumput. Alian tersenyum bangga. Prilly panik dan tak siap.


“Aduh Al, kok melayang sih. Aduh-aduh.” Prilly panik.


“Konsentrasi Prill. Fokus-fokus.” Teriak Alian dari bawah.


“Aku nggak bisa Alian, aku takut. Aku nggak bisa."


“Jangan bilang nggak bisa. Kalau berkata tidak bisa, maka jadinya malah tidak bisa. Berfikir positif lebih baik. Fokus Prill, fokus.” Teriak Alian.


Prilly tak bisa, ketinggian ini membuat tubuhnya seperti lumpuh. Kakinya mendadak kesemutan. Tenaga dalamnya mendadak hilang dan ia terjun bebas hendak bersua mesra dengan rerumputan.


Alian dengan sigap berlari mendekat dan menyongsong tubuh Prilly. Gadis itu mendarat mulus dalam dekapan Alian. Prilly terkejut mengira ia terjatuh tapi saat membuka mata. Ia beradu pandang dengan Alian yang sudah menangkapnya.


Alian memeluk tubuh Prilly yang mungil. Prilly merasakan kehangatan dan kelembutan yang tiba-tiba mengalir seperti listrik kecik diujung kulitnya. ketika gadis itu membuka mata, hanya bebera senti saja jarak antara kedua matanya dengan mata Alian.


Wajahnya mendadak panas dan jantungnya berdentum kencang tak terkendali. Seperti roket yang disulut, meledak JEDDARRR!!!!. Wajah Prilly memerah tapi hatinya bertabur pelangi. Otaknya tak kalah mendendangkan lagu cinta.

__ADS_1


***


__ADS_2