Release My Soul : Story of Shinigami

Release My Soul : Story of Shinigami
Gadis Di Depan Gerbang


__ADS_3

“Prilly sadar, berhenti.” Teriak Alian. Namun Prilly bergeming seolah terhipnotis. Pupil matanya yang kehijauan berkilat-kilat. Alian mendekati Prilly dan memeluk erat gadis itu. Prilly yang seolah kehilangan kesadaran mulai pulih. Ia menarik satu tarikan nafas panjang. Matanya tak lagi kehijauan. Pohon besar itu perlahan menyusut dan menghilang ke bawah tanah meninggalkan batang kayu yang sudah koyak dan hancur.


“Kamu nggak apa-apa?” Alian melepas pelukannya. Kekuatan Prilly terlalu besar. Ia jelas belum bisa mengendalikan sinar hijaunya. Terbayang oleh Alian jika panah cahaya itu diarahkan pada manusia, pasti tubuhnya akan tercerai berai seperti bayang kayu itu.


“Maaf, aku nggak bisa ngendaliin diri.” Bisik Prilly. Alian tersenyum manis.


“Nggak apa-apa. Lain kali harus lebih konsentrasi.” Ucap Alian menenangkan. Tak lama terdiam, terdengar suara seperti ranting patah yang terinjak. Sesosok tubuh muncul dibalik pohon sambil mengarahkan handycam kearah Prilly dan Alian.


“Luar biasa.” Teriak Jessie dengan senyuman sadisnya. Mata Prilly membelalak kaget begitupun Alian. Tangannya segera menurunkan handycam yang videonya sudah ia simpan. Ia tersenyum tajam kearah Prilly.


“Gue nggak bisa bayangin gimana reaksi semua orang kalo video ini gue upload ke youtube, pasti bakalan gempar se-Indonesia. Sebenarnya gue bingung, tapi ya, gue nggak peduli itu apa dan bagaimana. Atau lo makhluk apa, manusia atau bukan, gue nggak peduli.” Ucap Jessie sinis. Ia berjalan mendekati keduanya.


“Eh lo jangan macam-macam ya.” Bentak Prilly.


“Apa yang lo mau?” tanya Alian.

__ADS_1


Jessie tersenyum sinis. “kayaknya nggak perlu gue jelasin, lo juga tau kalo yang gue mau itu elo.” Bentak Jessie. “Video ini nggak akan gue sebar kok. Asal lo nurutin kemauan gua.” Jessie menepuk pipi Alian. Mata keduanya beradu. “Sampai ketemu besok.” Jessie beranjak meninggalkan keduanya dan menghilang di pepohonan bukit.


“Aduh mampu-mampus. Gimana dong Al? Mati deh mati.” Prilly terlonjak panik.


“Lu nggak usah pikirin masalah ini. Biar gue yang nyari cara. Gue yang bakal tanggung jawab. Lo bisa pulang sendiri kan?”


“Lu mau kemana?”


“Jessie pasti punya maksud. gue bakal ngomong baik-baik sama dia.”


“Heh bukannya itu emang kerjaan lu?” ejek Alian.


“Iiih Alian!!!” Prilly merajuk kesal.


***

__ADS_1


Prilly termenung sepanjang jalan. Alian sudah berlalu pergi beberapa menit yang lalu bersama mobil merahnya. Ia menatap gerbang sekolahnya yang masih setia terbuka lebar meski sekolah sudah selesai dari tadi. Matanya tertumbuk pada seorang gadis berseragam yang sedang berdiri didepan gerbang.


“Hmmm cari siapa ya?” tanya Prilly penuh selidik. Seragam merahnya sama seperti seragam Ryota. Pasti satu sekolah.


“Eh, aku nunggu temen.” Gadis berambut hitam panjang itu tersenyum manis. Matanya yang bulat nampak berbinar-binar.


“Ke situ yuk.” Ajak Prilly menunjuk kursi dibawah pohon yang tak jauh dari gerbang sekolah. Prilly dan gadis manis itu berjalan beriringan.


“Ohya kenalin gue Yoona.” Ucapnya mengulurkan tangan.


“Prilly.” Balas Prilly tersenyum menerima uluran tangan halus dan putih itu. “Kelas udah selesai dari tadi.” Ucap Prilly melihat jam di ponselnya. Memang bukan kebiasaan Prilly memakai jam tangan. Sudah pukul 16:20.


“Mmmm, gue telat.” Bisik gadis itu lembut. Bahasa tubuhnya jelas meninjukkan ia gadis berkelas yang anggun dan lembut. Bibirnya yang dibaluri pelembap bibir pink itu nampak imut dan lucu, menambah kesan manis dan cantik di wajah gadis itu. Tanpa sadar Prilly tersenyum iri. Kaga berani gue ngebandingin ama diri gue. Jauh banget. Bathin Prilly.


***

__ADS_1


__ADS_2