
Perlahan namun pasti, matahari bergeser kerarah barat. Meninggalkan jejek kemerahan dilangit Jakarta. Ryota dan Alian sudah nangkring dilantai dua didepan kelas dua. Kelas itu menghadap langsung dengan perpustakaan jadi pohon itu terlihat jelas dari sana. Prilly masih ogah-ogahan, berkali-kali mengeluh bosan. Berkali-kali pula Alian menceramahinya agar bersabar.
“Masih lama?” tanya Prilly. Ryota yang duduk disebelah Prilly cuma bisa senyum memamerkan lesung pipinya.
“Ryota, aku minta ya.” Ucap Prilly mengulurkan tangan.
“Ini?” Ryota mengangkat ponselnya.
“Bukan tapi itu.” Prilly menunjuk Ryota.
“Apa? Hati gue?” tanya Ryota ngawur.
__ADS_1
“Sinting!” omel Prilly dengan wajah panas.
“Apa dong?” Ryota mendekat.
“Lesung pipimu.” Prilly mencubit kedua pipin Ryota yang mulus seperti bintang iklan produk perawatan kulit wajah. Ryota tersenyum senang. Mungkin seperti itu Prilly menghilangkan rasa bosannya tapi tentu Ryota nampak senang.
“Dasar ngawur.” Ryota mengacak rambut Prilly hingga berantakan dan kusut. Wajah Prilly mengkerut sambil membereskan rambutnya yang berantakan.
“Abis bosen. Pulang aja yuk. Udah nunggu dari tadi nih.” Prilly menarik tangan Alian dan melihat jam menunjukkan pukul 7. Lampu-lampu sekolah yang disetel otomatis telah menyala dari tadi.
“Banyak nyamuk.” Protes Prilly menepuk kedua belah tangannya. Ryota melangkah mengambil teropong yang ada dalam genggaman Alian.
__ADS_1
“Lihat.” Ryota menunjuk dua cahaya kecil yang remang-remang.
“Kunang-kunang.” Seru Prilly.
“Kunang-kunang di kota? Aneh.” Ucap Alian. Serta merta keluarlah sosok besar setinggi lebih dari dua setengah meter. Matanya yang merah menyala. Mahluk itu seperti air yang melayang melawan gravitasi. Tubuhnya seperti agar-agar cair yang melayang.
“Itu gendaruwock?” Prilly memiringkan kepala. Tidak seperti yang dibayangkannya. Tidak hitam besar berbulu tapi tetap saja menyeramkan. Belum lagi teriakan dan lengkingan mengerikan itu membuat Prilly berjongkok menutup telinga. Ganderuwock mendekat menyerang dengan jarum hitam pekat. Ryota mengeluarkan pedang petirnya. Menangkis jarum jarum itu. Alian menarik tangan Prilly agar turun. Gadis itu tersentak kaget dan mengikuti langkah Alian menuruni tangga. Diantara kecemasannya, perlahan ia merasa perasaan hangat saat Alian berusaha melindunginya dan menggenggam jemarinya erat. Rasanya takut tapi juga deg-degan. Entah jantungya berdentum karena berlari atau karena Alian. Sejujurnya ia juga bingung. Ketiganya berlari menuju lapangan sekolah. Prilly berdiri mematung dihadapannya Alian dan Ryota sedang berdiri siaga.
“Ambil ini.” Ryota mengeluarkan benda bulat oranye dan melemparkannya pada Prilly. Entah darimana pula Ryota mengambil benda itu, yang jelas Prilly cukup terpesona. Bentuknya seperti labu hallowen yang terbuat dari kristal oranye yang indah. Bagian dalamnya gelap dengan sinar seperti api yang tersembur pelan seperti lentera. Kristal labu itu yang akan mengunci jiwa jahat, dan menjadi jalan menuju neraka. Agak berat tapi Prilly berusaha untuk tidak menjatuhkannya. Disisi lain Alian baru saja menyalakan api merahnya yang membara seperti matahari. Makhluk itu bergerak mendekat. Alian mengayunkan pedang mengincar lengan kanan makhluk mirip jelly berjalan itu. Larik-larik api menempel erat pada tubuh itu, gendaruwock itu mengerang marah. Mulutnya menganga mengeluarkan semburan cairan lava panas berwarna oranye. Tapi cairan itu bukan kearah Alian atau pun Ryota, tapi diarahkan kearah Prilly. Ryota dan Alian kecolongan, tidak menyangka makhluk itu menyerang Prilly. Entah apa yang merasuki Prilly saat itu. Ia hanya berusaha melindungi dirinya. Sebuah keanehan terjadi, cairan itu mendadak dingin setelah terkontaminasi cahaya hijau zambrud yang keluar dari telapak tangan Prilly. Prilly basah kuyup tapi tak terluka. “Aku baik-baik aja.” Ucap Prilly menggigil.
***
__ADS_1