
Ryota tiba-tiba menarik pinggang Prilly hingga keduanya berdekatan. Prilly jelas kaget dengan tindakan Ryota. Ryota mendekatkan wajahnya ke wajah Prilly hingga gadis itu gugup luar biasa. Ryota menempelkan pipinya pada pipi Prilly dan berbisik lembut pada telinga gadis itu. “Prilly-chan, aku bukan orang yang sabar loh.” Ucap Ryota lalu mengerdipkan mata pada Prilly yang tiba-tiba memerah wajahnya.
“Dasar mesum!!!” Teriak Prilly seraya meraih helm yang disodorkan Ryota dengan kasar.
Pemuda itu hanya tersenyum geli melihat tingkah Prilly. dan meluncurlah keduanya membelah kota Jakarta dengan kecepatan full. Bahkan kini mereka seolah berkendara diatas awan. Dan itu memang benar, semburat kebiruan muncul dari knalpot motor Ryota dan menerbangkan keduanya melesat diatas langit Jakarta dengan kecepatan penuh.
“Woi-woi apa-apaan nih, weehh kok kayak gini sih.” Prilly ketakutan melihat gedung bertingkat yang mereka lewati. Gerakan mereka seperti sebuah kilauan siluet ditengah bangunan kota Jakarta yang menjulang. Kencangnya angin menerbangkan rambut Prilly dan membuat Prilly terpaksa memeluk pinggang Ryota agar tidak terjatuh.
“Mampus nih gue!!!” teriak Prilly. Ia mendekap Ryota dengan erat sementara Ryota tersenyum mendengar omelan Prilly, lesung pipinya membayang jelas membuat wajah putihnya semakin tampan. Tampangnya dua belas-tiga belas dengan artis Korea.
“Hampir sampai.” Ucap Ryota melajukan motornya lebih kencang kearah kaca sebuah menara gedung yang cukup tinggi. Ryota melesat lincah menghindar membuat Prilly menjerit histeris. Motor supersonik itu terbang mendekati sebuah monumen berlidah api dari emas dipuncaknya. Dengan cepat dan tanpa disadari, muncullan sebuah gerbang diatas puncak Monumen nasional dan motor Ryota seperti tertelan oleh gerbang itu.
“Omegat-omegat-omegat. Mampus-mampus.” Prilly komat-kamit ketakutan.
“Udah sampe Prilly.” Ucap Ryota santai.
“Hah? Nggak jadi mati nih? Tadikan.. tadi tuh..” Prilly menunjuk-nujuk tak jelas.
__ADS_1
“Monas ini markas klan Jigoku.” Ucap Ryota tersenyum penuh arti melihat Prilly yang sibuk membetulkan rambut pendeknya yang awut-awutan tertiup angin.
“Ryota, sudah waktunya. Mereka sudah lama menunggu.” Ucap seorang pemuda yang lebih tua dari Ryota. Ryota tersenyum dan menggandeng Prilly kearah sebuah pintu kaca. Pintu itu menggeser dengan cepat saat Ryota membawa Prilly melewatinya. Nampak layar-layar komputer dengan lampu-lampu yang menyilaukan mata memenuhi setiap jengkal ruangan. Ryota membawa Prilly menuju sebuah tangga. Keduanya menanjaki tangga dan keluar disebuah balkon yang penuh dengan angin kencang.
“Ini puncak monas kan? Astaga keren banget disini. Aku cuma bisa sampe dimenara bawah loh.” Prilly terkagum disela hembusan kencang angin dipuncak monas. Dibelakangnya terdapat bongkahan emas legendaris.
“Lama banget sih.” Keluh sebuah suara yang berasal dari seorang pemuda yang duduk disalah satu sudut puncak monas.
“Sorry bos, si Prilly sekolah dulu. Lagian kayak lo nggak pernah makan bangku sekolahan aja.” Ucap Ryota mendorong tubuh Prilly dan memegang pundak gadis itu tepat didepan tubuhnya.
“Emang gue rayap? oh ini yang namanya Prilly. Bisa apa kamu?” tanya Joe salah satu senior Jigoku.
“Pokoknya Prilly sekarang butuh pelatih itu aja. Akukan ada banyak tugas beberapa bulan terakhir ini jadi Prilly mau aku titip sama senior dulu biar bisa dilatih jadi Shinigami. Lagian kan dia aset berharga.” Ryota mengusap kepala Prilly.
“Woi-woi ini apaan sih, tunggu dulu, main serah terimah aja, emang gue barang apa. Lo itu harus minta persetujuan dari gue. Enak aja lo.” Protes Prilly marah.
“Gue juga sibuk. Gue nggak bisa Ta, kerjaan gue aja masih banyak.” Ryota dan Joe tak mepedulikan protes Prilly.
__ADS_1
“Yah cuma sementara kok. Kalo kamu bisa gak?” tanya Ryota pada pemuda disebelah Joe. Prilly terbelalak kaget melihat sosok yang ada disebelah Joe. Ia rasanya pernah melihat sosok itu. Seorang pemuda nampak membaringkan tubuhnya dengan kacamata hitam sambil menatap langit biru yang luas.
“Ayolah, cuma sementara aja kok. Lagian kan kamu juga udah nggak banyak tugaskan?” pinta Ryota. Pemuda yang ditatap Ryota membangkitkan tubuhnya dan membuka kacamatanya.
“Kak… kak… kak… Alian.” Keluh Prilly gelagapan.
“Hah kalian saling kenal?” tanya Ryota bingung.
“Ng...nggak juga sih.” Prilly gugup, jantungnya berdetak cepat seperti dipompa dengan kecepatan penuh. Tangannya berkeringat dan darahnya berdesir.
“Oke tapi cuma sementara.” Ucap Alian melangkah mendekati keduanya. Ia berdiri tepat didepan Prilly dan mengamati wajah gadis itu.
Ya tuhan, mimpi apa aku semalam? Yang tadi di sekolah gak keliatan, sekarang dia ada didepanku. Aduh tolongin.
Jantung Prilly semakin berdetak kencang seolah ingin melompat dari rongganya. Gadis itu mengalihkan pandangannya kearah kota Jakarta yang ada dibawah sana.
“Oke, aku serahin Prilly sama kamu. Aku sekarang ada urusan.” Ucap Ryota pamit meninggalkan Prilly bersama Alian.
__ADS_1
“Ryota! Tunggu dulu! Ryota!!!” teriakan Prilly tak digubris pemuda yang sudah berlari menjauh.
***