Release My Soul : Story of Shinigami

Release My Soul : Story of Shinigami
Perundungan


__ADS_3

Prilly berjalan memasuki sekolah dengan santai. Dua hari ijin sakit mampu membuatnya tenang. Teringat mamanya yang marah besar pada Alian saat Prilly diantar pulang. Padahal bukan salah Alian.


“Mah, Prilly jatuh dari sepeda waktu main sama Hana. Bukan salahnya Alian kok.”



“Tapi Prill, kamu aja jalannya sampe pincang\-pincang gitu.”



“Makanya ijin sakit sama sekolah yah.” Pinta Prilly memelas sambil sesekali mengaduh manja meski lukanya itu tidak parah\-parah amat. Mama Prilly hanya menggeleng\-geleng melihat ulah manja Prilly yang kambuh. Tapi ya biar bagaimanapun Prilly tetap putri kesayangannya.



“Pril, udah sehat?” sapa Hana memarkirkan motornya.



“Udah dong. Kan anggota... eh Prilly gitu loh.”



“Anggota? Anggota apaan?”



“Anu ituh, hmmm anggota arisan kompleks.” Prilly asal.



“Serius dong.”


__ADS_1


“Hihihih.”



“Dasar sableng.” Hana mencubit pipi Prilly dengan gemas.



“Mereka ngeliatin apa sih?” tanya Prilly saat menyadari banyak siswa yang memperhatikannya sambil berbisik.



“Belom mandi kali.” Celetuk Hana.



“Enak aja, walaupun aku mandi kayak ikan mas, tetep pake sabun ditambah parfum.” Prilly mengendus dirinya.




“Yaudah ayok.” Prilly melenggang santai menuju kelas. Tak tahu jika nasib buruk akan menimpanya. Benar saja tepat bel pulang sekolah beberapa murid menunggunya didepan pintu.



“Eh misi ya, saya mau pulang.” Ucap Prilly sopan dengan tatapan aneh. Tanpa disangka seseorang menceplokkan sebutir telur kearah rambutnya.



“Eh apa\-apaan nih.” Protesnya jijik.


__ADS_1


“Eh bubar sono.” Bentak Hana galak. Bukannya pergi justru Prilly diserang dengan lemparan telur dan tepung hingga tubuh gadis itu kotor putih\-putih persis kue putri salju. Prilly berjongkok menutupi kepalanya dengan tangannya. Beberapa menit kemudian lemparan itu berhenti dan Prilly mencoba mengangkat kepalanya. Nampak Jessie dan kedua temannya berdiri dengan sunggingan senyum puas ke arah Prilly. Melihat sahabatnya dianiaya, Hana tak mampu berbuat banyak, ia tahu reputasi Jessie dan tak berani menantang gadis itu.



“Hahah, liat sekarang akibat kamu menantang aku. Enakkan? Tinggal panggang aja dioven.” Ledek Jessie tertawa puas.


“Sekarang aku mau kamu berlutut dan minta maaf. Kalo nggak kamu akan ngerasain yang lebih dari pada ini.” Ancam Jessie.


“Dasar gila.” Bentak Prilly dadanya turun naik saking marahnya. Wajahnya yang putih akibat tepung mendadak panas dan matanya melotot seperti hendak menerkam Jessie hidup\-hidup.



“Udah minta maaf aja Prill. Jangan bikin suasana runyam.” Nasihat Hana.



“Udah berlutut.” Vina mendorong bahu Prilly hingga gadis itu berlutut paksa.



“Ampun Jessie, aku ngaku salah sama kamu. Aku emang hina dan murahan. Ayo bilang seperti itu.” Perintah Jessie galak.



“Je.. Jessie.. aku... ak... aku..” Prilly terbata\-bata mencoba meminta maaf. “aku minta KAMU UNTUK BERHENTI GANGGUIN AKU!!!” teriak Prilly bangkit dan memeluk Jessie juga mengolesi wajah cantik Jessie dengan tepung yang menempeli tubuhnya. Jessie terlonjak kaget. Wajahnya yang cantik belepotan tepung dan telur. Pemerah pipinya tak nampak, maskaranya luntur juga bulu mata palsunya yang sebelah kiri copot dan menggantung nakal dipelupuknya. Mata Jessie melotot marah membersihkan wajahnya yang kotor.



“Dasar cewek nggak tau diri!!!” Ratu marah dan mendorong tubuh Prilly. Prilly dengan sigap menghindar dan memasang kuda\-kuda ajaran Alian tempo hari. Prilly menepalkan kedua tinjunya menunggu kemungkinan diserang ketiga gadis seksi itu.



“Kamu bakal nyesel udah ngelakuin ini ke aku. Kamu bakal nyesel!!!” mata Jessie berkaca\-kaca karena marah. Tak pernah sekalipun ia diperlakukan demikian hinanya. Orang tuanya selalu memanjakannya. Tak pernah sekalipun keinginannya dibantah. Tidak pernah. Dan kali ini tepat dihadapannya ia dibantah dan wajahnya diacak\-acak oleh gadis biasa, juniornya pula. Sungguh keterlaluan, Jessie malu atas harga dirinya yang serasa diinjak\-injak, marah atas pembangkangan Prilly. Ia benar\-benar dendam dan tidak berpikir untuk mengampuni.

__ADS_1


Prilly menelan ludah tahu resiko perbuatannya tapi ia juga tak terima dihina demikian bahkan oleh seorang Jessica. Ia juga punya perasaan dan harga diri. Prilly tak tahu bahaya apa yang akan menimpanya akibat perbuatannya ini.


****


__ADS_2