Release My Soul : Story of Shinigami

Release My Soul : Story of Shinigami
Melihat Kematian


__ADS_3

Katanya, jika seseorang akan meninggal, maka orang itu atau orang terdekatnya merasakan firasat tertentu. Kematian sebenarnya bisa dilihat semua orang. Setiap manusia yang akan mati akan memancarkan aura pekat kehitaman seperti asap dari tubuhnya. Ia terlihat berbeda karena aura gelap itu menyelimutinya seperti kepompong.


Prilly duduk seharian diatas bukit belakang sekolah. Entah sejak kapan tempat itu menjadi tempat favoritnya. Latihannya hari ini tak begitu baik. Rasa tidak mood jelas mempengaruhi kekuatannya. Dan percuma Alian memarahinya bahkan menjitak kepalanya karena Prilly benar-benar keras kepala. Bukan hanya itu, ia tidak sepatahpun menjawab pertanyaan Alian. Kontan saja Alian merasa cemas dan perlu memanggil Ryota. Sedikit banyak ia sudah hapal bahwa Ryota pasti bisa membantu Prilly.


“Menurutmu dia kenapa?” tanya Alian sesaat setelah Ryota tiba. Keduanya beridiri santai dibawah pepohonan rimbun dan sejuk.


“Menurutmu dia melihat kematian?” tanya Ryota.


“Entahlah, dia pernah ketakutan saat melihat aura kematian. Tapi seiring berjalannya waktu ia mulai terbiasa. Lagi pula semua orang pasti mati kan? Manusia hidup untuk mati. Apa lagi coba?” tandas Alian.


“Ya. Biar aku bicara padanya. Kamu pulang aja.”


“Ngusir nih ceritanya?”


“Nggak-nggak tapi masak kamu mau jadi obat nyamuk sih.”


“Hah?”


“Yakin nih nggak cemburu?” goda Ryota memainkan alisnya.


“Dasar aneh. Udah ngomong sono. Aku mau balik. Capek marah-marah tapi nggak didengerin.” Ucap Alian beranjak pergi. Ryota menatap punggung Prilly yang duduk bersila memandang kota yang ada dibawahnya.

__ADS_1


“Prilly-chan, kau sudah makan?” tanya Ryota mengambil tempat disamping Prilly. Prilly menggeleng lesu.


“Sebenarnya ada apa?” Ryota mengacak rambut Prilly. Prilly tetap diam membisu tak tahu harus mulai dari mana ia mengatakan apa yang dilihatnya tadi pagi disekolah. “Mau liat pelangi nggak?” tanya Ryota.


“Apa?”


“Bentar ya.” Ryota berdiri dihadapan Prilly dan mengeluarkan kekuatan petirnya. Mendadak sebaris awan mendung muncul membentuk garus lurus dengan petir yang menyambar. Perlahan turun hujan rintik-rintik yang hanya membasahi rumput dihadapan Prilly. Lalu awan itu menghilang seolah menguap dan muncullah warna-warni indah yang berpendar samar. Sebongkah pelangi kecil muncul dengan sinar redup tapi indah. Prilly tak percaya dengan penglihatannya. Entah kapan terakhir kali ia melihat pelangi dan kini dihadapannya pelangi itu muncul seolah ia mampu menyentuhnya. Mata Prilly berbinar dan berseri-seri. Ia ingin sekali mengambil pelangi itu, menggigit sebongkah kecil untuk mencicipi rasa dan aroma dari 7 warna berpendar indah yang selalu disukainya itu.


“Yah ilang deh.” Ucap Ryota melihat pelagi itu pudar seiring teriknya mentari senja.


“Indah banget Ryota, makasih ya.” Prilly tersenyum senang.


“Apa?”


“Kita beri nama bukit pelangi. Kau suka?”


“Hmm ya.” Prilly mengangguk.


“Sekarang cerita dong.” Pinta Ryota. mendadak ia menyesal melontarkan pertanyaan itu karena wajah Prilly yang tadi ceria berubah suram lagi. Gadis itu kembali duduk melipat lutut memandang senja kemerahan.


“Aku melihat kematian lagi.” Ucapnya bergetar. Ryota duduk didekat Prilly memandang gadis itu dengan resah.

__ADS_1


“Kau melihat kematian siapa? Aku? Alian?” Prilly menggeleng. Matanya berkaca-kaca, betapa menyakitkannya kematian itu. Andai ia tak harus tahu, itu pasti lebih baik.


“Hana.” Ucap Prilly tak mampu membendung tangisnya. Ryota mendadak pilu. Ia tahu Hana adalah sahabat terdekat Prilly. Mereka berteman sejak TK, tumbuh besar bersama dan tidak pernah terpisahkan.


“Aku melihat kematian Hana. Aku melihat auranya berpendar kehitaman. Tapi ia tersenyum seperti biasa. Sebentar lagi dia akan mati kan?” Bibirnya bergetar karena tekanan dihatinya. Tak terbanyakan betapa sahabat yang ia cinta akan segera pergi untuk selamanya. Ryota menarik tubuh Prilly kedalam pelukannya.


“Prilly-chan, jangan nangis ya.” Bujuk Ryota mengusap rambut Prilly. “Aku nggak suka kamu nangis. Kita nggak bisa mengubah takdir Prill. Tapi ada hal yang bisa kamu lakukan kok.”


Prilly mengangkat kepala. Matanya yang basah beradu pandang dengan Ryota. membuat Ryota tersenyum mengusap sisa air mata yang membasahi pipinya. “Kita tak tahu kapan Hana akan pergi. Selama itu kamu bisa membuat kenangan bersama Hana. Kamu harus bikin Hana bahagia dan menjadi orang paling beruntung didunia ini.” Ucap Ryota tersenyum.


“Kamu nggak tau rasanya Ryota.” ucap Prilly bergetar.


“Memang aku nggak tahu tapi aku akan lakuin apa aja Prill, apa aja yang bisa buat kamu bahagia. Kamu harus yakin kalau selalu ada keajaiban didunia ini.”


“Aku nggak mau Hana mati. Aku nggak mau.” Prilly menggeleng pelan.


“Kelahiran maupun kematian itu pasti akan datang. Sejauh apapun kamu berlari dan sedalam apapun kamu sembunyi, kematian itu akan selalu datang pada waktunya. Nggak ada yang bisa kamu lakukin untuk mempercepatnya ataupun mencegahnya.” Ryota tersenyum menyetuh kedua pipi Prilly. “Jangan nangis ya.” Pintanya.


Prilly terdiam. Kembali menatap rerumpuntan yang terhampar kekuningan tertimpa cahaya senja indah sore itu. Angin semilir berbisik lembut disela harmonisasi alam dan nyanyian senja yang merdu mengalun menyambut langit menjelang malam.


***

__ADS_1


__ADS_2