Release My Soul : Story of Shinigami

Release My Soul : Story of Shinigami
Saingan


__ADS_3

Setiap kafilah yang berlalu pasti selalu diiringi dengan gonggongan anjing. Begitulah Prilly, kedekatannya pada pangeran sekolah itu membuatnya banyak digunjing seantero sekolah terutama oleh siswi-siswi. Baik seangkatan maupun senior.


“Make pelet apa sih tuh si Prilly. Alian sampe deket gitu sama tuh anak.” Protes Jessica kesal.



“Ditambah lagi sejak Alian sama Prilly deket, popularitas si pendek itu meningkat dan aku yakin posisi kamu sebagai cewek terseksi, tercantik dan terpopuler disekolah ini bakal segera gulung tikar. Cepet atau lambat pasti.” Tambah Vina.



“Cuma ya emang nyebelin sih. Secara kita sekelas Alian mestinya lebih deket dong. Ditambah lagi kamu naksir berat sama doi dari kelas 1.” Sahut Ratu, sahabat segengnya.



“Cinta mati jeng.” Ralat Vina.



“Udah\-udah, aku nggak suka ngomongin itu. Yang jelas pikirin cara biar si Prilly pendek itu jauh\-jauh dari calon pacarku.” Ujar Jessica.



“Ya keluarin aja dari sekolah. Kalo si pendek itu minggat dari sini ya otomatis kamu bisa pedekate lagi sama Alian.” Saran Ratu.


Jessica mengangguk mantap sembari membayangkan betapa selama ini Alian selalu kokoh seperti batu. Tak pernah sedikitpun melirik ke arahnya. Berbagai cara ia lakukan mulai dari mengirim hadiah sampai memberikan perhatian bahkan mengikuti pemuda itu kemanapun ia pergi. Tapi sayangnya Alian itu memang seperti batu permata. Kaku, dingin tapi mempesona. Bagaimanapun Alian menolak Jessie, begitu panggilan Jessica, gadis berambut panjang dengan hidung macung itu tetap kokoh tak menyerah.

__ADS_1


“Pinter juga kamu. Gimana cara ngusirnya ya?” Jessie berpikir sejenak.



“Iya yah. Nggak mungkin juga langsung minta sama kepala sekolah kan. Masuk disini itu susah, apalagi keluarnya lebih susah lagi.” Sahut Vina.



“Hmmm aku tau. Kita nggak ngusir dia dari sekolah ini, tapi dia yang akan mengundurkan diri.” Ucap Jessie dengan tatapan tajam penuh ambisi.



“Caranya?” tanya Vina dan Ratu serempak. Jessie tak menjawab tapi ia tersenyum penuh keyakinan ia bisa menjauhkan Prilly dari Alian.




“Loh kenapa? Kan aku sama Alian cuma temenan. Nggak salah dong.”



“Heh kamu nggak tau, Alian nggak pernah deket sama siapa pun sejak sekolah disini. Tapi sejak kenal kamu dia berubah cuek sama aku. Dia selalu deket sama kamu dan aku mewakili cewek\-cewek disekolah ini nggak suka kamu ada didekat Alian. Dasar parasit.”


__ADS_1


“Cewek murahan. Penggoda.” Tambah Ratu.



“Heh jangan asal ngomong ya. Jaga tuh mulut.” Prilly menggebrak meja. Ia kesal harga dirinya disinggung, mendadak dada Prilly serasa terbakar, bulu romanya berdiri saking marahnya ia.



“Emang benerkan? nggak usah munafik deh,udah jadi rahasia umum kalo kamu itu naksir berat sama Alian.” Bentak Vina.


“Semua orang punya hak untuk mencintai dan bukan hak kamu untuk ngelarang itu.” Bantah Prilly kesal.



“Jadi kamu berani sama kita? Hah berani kamu?” teriak Jessie mendekatkan wajahnya kewajah Prilly. Kedua mata tajam itu beradu dalam jarak dekat.



“Aku nggak takut sama kamu.” Ucap Prilly pasti. Meski dalam hati ia risau mengingat siapa Jessie. Ia menatap gadis dihadapannya itu. Rambutnya panjang pirang dibiarkan tergerai dihiasi bando berwarna hitam berenda putih, hidungnya macung, kulitnya putih, matanya biru, ia adalah keturunan Inggris\-Prancis, tubuhnya tinggi dan langsing. Ia adalah gadis yang sangat diperhitungakn disekolah ini. Kaya, ditakuti, pandai, cantik dan seksi. Pemuda manapun tidak akan menolak perhatiannya. Semua siswa akan berbaris di pinggir lapangan menyaksikan Jessie yang gemulai menendang bola saat pelajaran olah raga dan saling berebut mengantarkan handuk dan air minum. Semua siswa berebut mengawalnya saat turun dari mobil maupun pulang sekolah, dan siap melakukan apapun demi gadis ini. Ia memang seperti malaikat jika saja perangainya lebih halus. Tapi manusia tidak ada yang sempurna. Jessie adalah sosok cantik yang mampu membalut sikap sombong dan angkuhnya yang selangit. Meski begitu Alian beruntung jika mendapatkannya dan ia pasti mampu mengubah tingkah jessie yang sombongnya minta ampun, tapi entah mengapa pemuda itu menolak Jessie mentah\-mentah, membuat Prilly tak habis pikir.



“Beraninya kamu.” Jessi menarik kerah baju Prilly dengan kasar.


__ADS_1


***


__ADS_2