
“Kamu negerasa aneh nggak sih sama Prilly.” Tanya Hana pelan. Ia duduk bersama Kevin dibangku paling belakang. Dari arah sana ia bisa melihat Prilly tengah duduk dibangku depan memainkan ponselnya. Bermain game.
“Jadi diem banget. Terus sedih gitu. Tumben ya dia kaga mau cerita sama gue. Bisanya kalo ada apa-apa pasti curhat. Sampe gue bosen dengerin curhatannya. gue jadi nggak enak deh.” Hana terdunduk sedih tak mengerti mengapa belakangan ini Prilly seolah menjaga jarak dengannya.
“Mungkin gara-gara cowok SMU 45 itu loh.”
“Ryota?” tanya Kevin.
“Iya, kan dia suka gangguin Prilly tuh, sejak kenal dia Prilly jadi sibuk. Apa lagi kalo urusan Alian. Pas ngumpul makan rujak kemaren aja langsung ditinggal pas ada panggilan dari Alian. Aneh deh.”
“Jangan salah paham dulu Han, kali aja ada masalah sama bokapnya. Ya lo taukan?”
“Iya sih, kadang-kadang gue ngeliat Prilly itu complicated banget. Susah ditebak dan unik.” Hana tersenyum.
“Gua laper.” Teriak Prilly dari bangku depan. Ia tersenyum manis.
“Yaudah makan yuk.” Ajak Hana cepat. Ia menduga Prilly pasti menang gamenya. Makanya jadi ceria gitu.
“Maen game apa sih?” tanya Kevin.
“Banyak. Lupa namanya.” Ucap Prilly singkat.
__ADS_1
“Eits mau kemana lu?” Jessie mencegat ketiga sahabat itu.
“Apa?” Prilly menlotot galak.
“Urusan kita belom kelar. Asal lo tau ya, gue nggak akan nyerahin Alian gitu aja.” Tandas Jessie.
“Emang Alian barang.” Celetuk Kevin.
“Diem lu.” Bentak Vina.
“Mak lampir.” Desis Hana.
“Apa lo bilang.” Bentak Vina tak terima.
“Asal lo tau, gue eneg liat muka lu. Pengen muntah.” Jessie mendorong bahu Prilly.
“Masalah buat gue? Asal lo tau ya, gue sama Alian cuma temen doang. Oke? TEMEN DOANG! Gue juga nggak ngerasa saingan sama lo. Kalo emang lo suka sama Alian. Yaudah lo dapetin dia dengan cara sportif dong. Jangan pengecut dan keroyokan.” Tantang Prilly.
“Sok bijak.” Jessie melenggang pergi meninggalkan Prilly. Ia sengaja menabrak bahu Prilly hingga gadis itu terdorong kebelakang. Bekal makanan yang dari tadi dipegang Prilly jatuh berhambur dilantai. Prilly berjongkok membereskannya. Sedangkan Jessie menatap dengan tatapan mencibir.
“Lo nggak apa-apa?” Kevin menepuk bahu Prilly.
__ADS_1
Prilly tersenyum dan menggeleng pelan.
“Mental gue udah kebal sama orang kayak Jessie. Lagian gue itu cuma kagum sama Alian. Dia kan keren, pinter, cakep lagi. Cewek buta aja pasti kelepek-kelepek kalo dengar suaranya yang serak-serak becek itu. Dia salah paham aja sih. Kagum sama cinta itu beda loh.” Prilly cengengesan.
“Bedanya?” Kevin mengerutkan kening.
“Kalo lo kagum, lo punya banyak alasan, tapi kalo lo cinta, alasan sebanyak apapun nggak akan pernah cukup.” Prilly tersenyum melenggang pergi menuju kantin yang ramai.
“Lu kenapa sih Prill? Belakangan ini tuh aneh banget. gue ada salah ya sama lu?” Hana bertanya dengan hati-hati. Prilly yang sedang sibuk mengunyah baksonya mengangkat wajah dengan mulut menggembung penuh bakso. Kalau sedang marah, nafsu makan Prilly bisa meningkat tiga kali lipat dan makan seperti orang kesurupan.
“Maksud lo?” ucap Prilly dengan mulut penuh. Ia meraih gelas dan menenggak teh manisnya.
“Persahabatan itu nggak boleh dinodai dengan kebohongan.” Ucap Kevin serius.
“Gue nggak apa-apa kok guys. gue fine-fine aja. Sorry kalo belakangan ini gue aneh.” Prilly menatap Hana tajam. Pendar-pendar seperti asap yang keluar dari tubuh Hana nampak jelas terlihat olehnya, tapi Prilly sudah terbiasa, ia sudah menyiapkan mental untuk kemungkinan terburuk yang akan ia terima. Tapi sebelum itu, ia bersyukur Hana masih disisinya.
“Lo janji nggak akan aneh-aneh lagi kan Prill?” tanya Hana. Prilly tersenyum dan sangat bersyukur memiliki sahabat sebaik Hana.
“Nggak say. gue janji okeh?” Prilly mengulurkan jari kelingkingnya yang imut. Hana menautkan jari kelingkingnya sebagai bukti janji. Ketiganya tersenyum ceria.
“Tapi traktir gue ya.” Ucap Prilly serius.
__ADS_1
“Huuuu dasar lu, Ratu modus.” Ejek Hana.
***