Release My Soul : Story of Shinigami

Release My Soul : Story of Shinigami
Siapa Ryota?


__ADS_3

BIP!!! BIP!!! Klakson motor terdengar dari arah pntu gerbang. Keduanya menoleh.


“Ryota!” Prilly melambaikan tangan. “Gua udah dijemput nih. gue duluan ya.” Pamit Prilly. Yonna berdiri menatap Prilly dengan senyumnya.


“Oke, kasian pacarmu nunggu.” Celetuknya manja.


“Hahah bukan pacar gue kok. Temen doang. Udah ya.” Prilly segera ngacir mendekati Ryota.


“Siapa tuh?”


“Yoona. Satu sekolah sama lu.” Ucap Prilly naik keatas motor. “Lu kenal gak?”


“Kagak.” Ujar Ryota singkat sambil menarik gas motornya melaju dijalanan kota. “Terbang yuk.”


“Ryota, gue kaga mau! Loncat nih gue.” Bentak Prilly mengancam.


“Iya iya, nggak pake judes kali.”


“Ngeri tauk. Kalo gue mati gimana?”


“Hahaha dasar lo lebay.” Ejek Ryota.


“Ryota, gue takut.” Bisik Prilly memeluk pinggang Ryota. Ryota memelankan motornya dan singgah disebuah terotoar sepi.


“Lu takut kenapa sih Prilly-chan?” Ryota turun dari motor. Ia menatap Prilly yang duduk menyamping disadel motornya.


“Gue kepikiran Hana. Lusa dia bakalan ke Palembang jengukin neneknya.


“Terus?”


“Semalem gue mimpi kecelakaan pesawat. Menurut lu?”


“Eh Prilly-chan bego.” Ryota menjitak kepala Prilly. Membuat gadis itu meringis mengusap kepalanya. “Mimpi itu cuma bunga tidur. Mana ada artinya sih? Lagian lo kaga penting banget mikirin mimpi kayak gitu.”


“Kayaknya besok gue nggak bisa nganter Hana deh. Kemaren dia nelpon gua, suruh dateng kerumahnya. Kalo itu terakhir kalinya gue liat Hana gimana?” hati Prilly kacau.


“Lu jangan mikir macem-macem gitu. Think positive aja. Lagian jangan mikirin kejadian yang belum terjadi apalagi mikirin hal buruk. Mending pikirin yang enak-enak ajah. Oleh-oleh misalnya. lo kan doyan makan.”

__ADS_1


“Iya juga yah.” Prilly menimbang-nimbang.


“Kalo makan aja langsung deh cepet. gue heran ya sama lu, makan banyak tapi tetep aja kecil.” Ryota mengacak rambut pendek Prilly.


“Kan gue nggak makan sendiri.”


“Terus?”


“Cacing piaraan gue juga ikutan.” Canda Prilly cengengesan sambil menepuk perutnya.


“Dasar aneh.” Ryota tersenyum lebar dengan mata berbinar menatap Prilly. Lesung pipinya yang selalu membuat Prilly iri itu membayang jelas dan membuat wajahnya semakin tampan. Prilly tertegun melihat wajah Ryota yang memang tak kalah dengan Alian.


Lagi sama Ryota kok mikir Alian sih. Bego. Bisik Prilly pada dirinya sendiri.


“Kenapa?”


“Ah nggak kok.”


Keeseokan harinya disekolah, Hana mendekati Prilly yang duduk bermain game di ponselnya.


“Belum tau.” Prilly tersenyum menatap ponselnya.


“Prill, lo pacaran sama Ryota?”


Prilly menangkat wajah menatap Hana dengan bingung. “Lo suka sama Ryota?”


“Ih Prilly, gue nanya serius.”


“Kagak.”


“Serius?”


“Limarius.”


“Tapi bener deh Kevin juga bilang kalo lo sama Ryota itu pacaran.”


“Gue udah bilang kagak. Ryota itu cuma temen gue. Oke?”

__ADS_1


“Menurut lo Ryota orangnya gimana?” tanya Kevin ikut nimbrung.


“Kok kayak polisi gini sih?” tanya Prilly.


“Karena kita sahabat lo. Selama ini juga lo nggak pernah cerita soal Ryota. Lo juga nggak pernah ngenalin dia sama kita.” Ungkap Hana.


“Oh jadi mau kenalan toh?”


“Nggak juga sih.” Sahut Kevin.


“Ryota orangnya baik, baik banget malah, lucu, sopan, manis, cakep pula.”


“Itu doang?” Kevin menyela.


“Iya, kenapa sih?”


“Manis? lo nggak pernah dikasarin sama dia?” tanya Hana penuh selidik.


“Pernah sih.”


“Lu diapain?” sosor Kevin penasaran.


“Dijitak, kalo gue ngomong bego ato aneh pasti dijitak. Tapi wajar kok. Lagian juga dia cuma bercanda.”


“Masa sih? Itu doang?” Kevin bertanya ragu.


“Gua heran sama lo berdua. Kenapa nggak percayaan gitu sih?”


“Lo tau gak, Ryota punya reputasi buruk di SMU 45. Bisa dibilang dia anak baru sama kayak kita tapi disana dia jagoan. Kalo ada tawuran pasti dia yang jadi komandan. Tapi cuma kasi komando dan nggak pernah ikutan berantem. Di sekolahnya dia dikenal sebagai preman tingkat tinggi. Senior kelas tiga aja nggak berani sama dia. Dia juga galak dan lebih cuek dari Alian.” Terang Kevin.


“Ah masa sih?”


Hana memajukan wajahnya menatap Prilly seolah berbisik. “Gue denger-denger sih dia di black list sama semua sekolah SMA se Jakarta gara-gara reputasi buruknya. Cuma kerena bokap nyokapnya itu kaya raya yang duitnya nggak abis 14 turunan, dia bisa diterima di SMU 45. Secara ya, keluarganya dia yang jadi pendiri tuh sekolah.”


“Lebay lo. Nggak mungkin.” Desis Prilly menelan ludahnya yang terasa pahit.


***

__ADS_1


__ADS_2