
Benar kata beberapa siswa, pohon mangga didepan perpustakaan nampak sangat lain. Ada semacam aura dingin aneh yang menusuk tulang. Memang kata orang tempo dulu, pohon besar ada penunggunya tapi jarang menganggu kalau tidak diusik seperti merusaknya atau pipis sembarangan dibawahnya. Namun pohon yang satu ini kelihatan menyeramkan sekali. Daun-daunnya lebih gelap dan membuat bulu kuduk berdiri ngeri.
“Kamu yakin liat arwah itu masuk kedalam sini?” tanya Ryota masih berbalut seragam sekolahnya. Ryota memang merasa ada yang tidak beres dengan pohon ini. Matanya menatap awas seperti beradu pandang dengan sesosok makhluk tak kasat mata yang menghuni pohon sebesar dua pelukan tangan orang dewasa itu.
“Apa menurutmu ada hubungannya dengan orang yang jiwanya dicuri?” tanya Prilly.
“Entah, orang-orang kita menduga jiwa itu dicuri oleh Gendaruwock. Makhluk hitam besar yang menyeramkan.” Sahut Alian tenang saat Prilly menatapnya penuh tanda tanya.
“Gendaruwock itu akan keluar setelah gelap ya?” tanya Prilly spontan.
“Begitulah, tau dari mana?” tanya Alian.
“Ngasal aja.” Prilly cengengesan.
“Apa yang kamu liat?” tanya Ryota pada Prilly.
“Mmmm itu terlihat seperti pohon normal, tapi ada semacam pendar-pendar hitam yang keluar.” Ucap Prilly ragu-ragu.
__ADS_1
“Kamu denger sesuatu?” tanya Alian. Jelas terlihat dari wajah Prilly yang tak tenang berada disana. Ia bisa menduga pasti Prilly mendengar suara-suara ghaib.
“Ada sih.” Ucap Prilly pelan.
“Apa?” sergah Ryota mendekat.
Wajah Prilly sekarang nampak takut, semula dikira suara-suara itu hanya ilusi. “Seperti banyak orang yang berteriak minta tolong” Prilly memejamkan matanya. “Mereka menangis kesakitan.” Wajah Prilly semakin ketakutan, suara itu sangat menganggunya. Bibirnya bergetar saking takutnya mendengar jeritan memekik yang berasal dari pohon itu.
“Mereka minta tolong...” Prilly tercekat menyelesaikan kalimatnya.
“Udah Prill.” Pinta Alian cemas menatap wajah Prilly yang pucat pasi.
“Jangan seperti ini lagi. Kamu bikin aku takut.” Ucap Ryota marah. Mungkin baru kali ini Ryota bersikap tegas pada Prilly. Selama ini ia memang mewanti-wanti hal buruk yang akan menimpa gadis itu.
“Kita tunggu sampai malam.” Ucap Alian kemudian. Ryota dan Prilly mengangguk serentak.
“Tapi makan dulu ya. Laper.” Ucap Prilly.
__ADS_1
“Beres.” Ryota menggandeng tangan Prilly menuju motornya. Sedangkan Alian melenggang cuek kearah mobilnya. Mereka tiba disalah satu kafe dikawasan kelapa gading. Alian dan Ryota nampak punya selera yang sama, spagetti dan kopi arabica. sedangkan Prilly, selera makannya memang jumbo. Ia nampak bersemangat menghabiskan porsi kedua es krimnya setelah berhsil meluncurkan dua porsi ayam bakar. Mereka cuma mengeleng-geleng melihat aksi makan Prilly yang melebihi orang kesurupan.
“Hmmm enak.” Prilly tersenyum riang.
“Mau nambah?” tawar Ryota.
“Mau sih tapi takutnya nggak abis.” Ucap Prilly ragu. Ryota tersenyum menatap Alian.
“Kan Mas broh yang bayarin. Kapan lagi kita makan gratis.” Cerocos Ryota.
“Iya, tapi kalo sering-sering gini, bisa mengancam keuanganku. Lama-lama bisa bangkrut.” Protes Alian.
“Sekali-kali nggak apa-apa broh.” Ryota bangkit dan sesaat kemudian membawa semangkuk es krim tiga warna. Merah strawberry, kuning nangka dan hijau melon. Mata Prilly membelalak menelan ludah melihat cantiknya ketiga warna itu. Benar-benar menggoda iman dan perutnya. Ryota tersenyum dan menari kursi agar duduk berdekatan dengan Prilly.
“Ayo makan.” Ajak Ryota.
“Sayang lah, warnanya cantik gini.” Ucap Prilly meraih sendok. Alian menatap Prilly, menduga Prilly hanya menatap es krim yang menarik itu, tapi justru Prilly nampak bersemangat. Ryota dan Prilly nampak lucu. Sepiring berdua menikmati es krim dingin ditengah udara panas. Alian cuma bisa geleng-geleng. Dari dulu Ryota memang begitu, masih kekanak-kanakan padahal umur mereka cuma beda setahun. Dia 18 dan Ryota 17 seperti Prilly.
__ADS_1
Kapan sih tuh anak dewasanya. Batin Alian memainkan gedgetnya. Memeriksa kabar dari Jigoku.
***