
Untuk beberapa lama Prilly terdiam merenung menatap bintang. Masih banyak hal yang belum ia capai hingga usia ini. Mengingat itu Prilly kembali menarik nafas panjang. Ia menatap bintang malam yang mendadak jatuh sebutir dari halimun malam yang kelam.
“Rasanya setiap ada bintang jatuh, aku selalu berdoa tapi tak ada satupun doa yang terkabul. Bintang itu pembohong.” Keluh Prilly kesal.
“Mungkin orang yang mempercayainya saja yang bodoh.” Ucap sebuah suara dari sebelah kanan Prilly.
Gadis itu mendadak beku, syarafnya mendadak kaku, keringat dingin mengalir disetiap pori-pori wajahnya. Yang menjadi ironis adalah, malam itu udara cukup dingin. Prilly tak berani menoleh. Ia mulai membayangkan sosok-sosok menyeramkan yang muncul di film horor. Tersengar desah nafas yang mampu didengar Prilly dari sebelah kanan tubuhnya. Tanpa disangka, sebuah uluran tangan menyentuh bahunya.
“Waaa!!! Ampun mbah, ampun-ampun, jangan culik saya mbah. Darah saya pahit mbah. Sumpah.” Prilly menjerit ketakutan. Mulutnya komat-kamit merapal doa-doa pengusir setan yang ia hapal. Tapi tangan itu masih mencengkaram erat bahunya justru semakin erat saja.
“Aduh mbah, lepasin saya mbah, please mbah darah saya pait. Sumpah deh pait. Ampun mbah ampun.” Prilly kembali menjerit ketakutan. Terdengar sebuah gelak tawa nyaring yang terdengar pelan tapi jelas bukan tawa Miss Kunti. Lebih tawa yang terdengar renyah dari seorang pemuda. Jelas saja setelah Prilly memutar kepala, ia menatap sosok pemuda yang sedang sibuk menertawakan tingkah Prilly yang seperti kesetanan.
“Elu kan....” belum sepat Prilly melanjutkan, pemuda itu menempelkan telunjuknya di bibir Prilly yang mungil dan merah muda.
“Sssst, jangan berisik, kita nikmati saja bintang ini. elu punya tempat strategis untuk menonton opera bintang. Eh minta popcornnya ya.” Pemuda itu dengan santai mengambil kantong popcorn utuh yang tergeletak disamping Prilly.
“Elu siapa?” tanya Prilly setelah berhasil meredam ketakutan dan keterkejutannya. Seorang pemuda berambut pirang dengan setelan jaket kulit tersenyum sumringah padanya.
“Gue? gue siapa ya?” pemuda itu menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal apa lagi kutuan. Ia tersenyum menatap bintang yang bertabur indah. Waktu menunjukkan pukul 01:00 am tengah malam.
“Mungkin elu harus bertanya, lo itu siapa.” Ucap pemuda itu menatap mata Prilly. Sepasang mata bening kecokelatan dengan bulu mata lentik yang bertahta indah seperti sebuah jendela galaksi yang menggambarkan sebuah nebula megah yang anggun dan manis. Pemuda itu untuk beberapa saat seperti terhipnotis pada keindahan itu. “Lo punya mata yang indah.” Pujinya.
Prilly tersenyum mendengar pujian itu. “Kenapa disetiap kecelakaan hari ini, elu muncul terus? Kenapa Hana,Kevin dan Mama nggak bisa melihat lo? lo siapa sih?” tanya Prilly kemudian.
__ADS_1
Pemuda itu tersenyum, lesung pipinya tercetak jelas dengan wajah tampan oriental, kulit putih, mata sipit, tinggi badan 175 cm dan rambut pirang yang dibiarkan panjang. Ia juga memakai tindik berbentuk bintang berwarna hitam.
“Karena gue bukan manusia biasa. ” ujarnya singkat.
“Berarti lo Superman dong.”
“Bukan.”
“saudaranya Spiderman atau sepupunya Hulk?” Tebak Prilly asal.
“Gua Ryota. Ryota O’lantern.”
“Hahah, labu halloween itu yah?”
“Ji, Jigo...apa? Jigong?”
“Jigoku!!!” tegas Ryota.
“Apa tuh? Aku nggak pernah dengar.”
“Sebuah klan rahasia yang dibentuk untuk menjaga stabilitas dua dunia.
“Dunia? gue nggak ngerti.”
__ADS_1
“Dunia nyata, dan dunia ghaib.”
“Hah? lo sinting ya? ” Prilly menempelkan punggung tangannya ke jidat Ryota.
“Didunia ini ada banyak sekali hal yang tidak diketahui oleh manusia kebanyakan. Atau mereka mungkin tahu tapi mereka pikir, semua itu hanya sebuah cerita fiktif, dongeng atau legenda. Vampir, drakula, atau monster, bagi banyak orang itu hanya dongeng pengantar tidur untuk menakut-nakuti anak-anak. Klan Jigoku bertugas untuk menjaga stabilitas itu. gue adalah seorang Shinigami alias dewa kematian. Setiap manusia punya batas waktu kadaluarsa dimana ia harus pergi dari dunia ini. Itulah yang disebut dengan kematian. Tak masalah kematian itu datang dengan cara apa, tapi tugas kami adalah mengatarkan roh itu ketempat mereka seharusnya berada. Surga dan neraka.”
“Lo pasti terlalu banyak mengirup udara malam. Atau gue ini sedang mengingau dikamar.” Prilly menggeleng tak percaya.
“Elu udah 17 tahun sekarang dan elu juga sama seperti gua. Elu punya kekuatan. Dan elu adalah Shinigami sama seperti gua. Kita adalah klan Jigoku.”
“Hah gue? Nggak-nggak, sorry gue nggak berminat menjadi malaikat maut. gue cuma seorang siswi kelas 1 SMA dan gue nggak tahu apa-apa soal ini.” Ucap Prilly menggeleng.
“Ini adalah takdir lu, seperti juga kelahiran dan kematian. Sejauh apapun lo berlari, sekeras apapun elu nolak, ini adalah jalan yang harus lo tempuh. Suka atau tidak suka.” Ryota menegaskan perkataannya. 'Dan lo dipersiapkan untuk tugas yang khusus. Lo lahir disaat yang langka dimana 7 planet saling membentuk garis lurus dengan bulan dan matahari dan lo mewarisi sebuah kekuatan besar dari klan Jigoku yang mengalir dalam darah lu. Lo harus menjaga semuanya, 2 dunia ada didalam genggamanmu. Mulai besok elo akan menjadi Shimigami seperti gua. Elu akan dilatih sebelum lo siap karena lo bukan hanya akan mengantar arwah itu dengan mudah. Terkadang, eh bukan, tapi sering kali roh-roh penghuni neraka berontak dan kekuatan jahat itu akan melawan dan melarikan diri dan keadaan bahaya banget kalo udah kejadian. Elu butuh latihan untuk mengadapi semuanya. Dan kekuatan lo juga masih redup.”
Mata Prilly berkunang-kunang, ia bingung sekali mendengarkan penjelasan Ryota yang tidak masuk akal. Gadis itu sepertinya hanya bisa melongo tak percaya. Bagi Prilly semua omongan Ryota hanyalah omong kosong.
Pemuda itu menyadari keraguan Prilly. Ryota meraih telapak tangan Prilly dan melihat larik kehijauan yang muncul redup dari balik garis-garis halus telapak tangan gadis itu.
“Ap..apa ini.” Prilly mengibas-ngibaskan tangannya tapi sinar kehijauann itu tak juga hilang. Larik-larik itu nampak jelas membentuk garis tangannya yang samar tapi kuat. Seperti sebuah peta kehidupan dan jagad raya yang luas dengan taburan bintang. Prilly memandangi telapak tangannya yang bercahaya. Ia tak percaya tapi takjub. Pupil matanya membesar seakan ia mampu mengenggam jagad raya.
Gue pasti mimpi. Gumamnya pasti.
__ADS_1
***