
“Ini namanya penganiayaan. Kemaren lari 10 putaran, sit up 100 kali, masa sekarang angkat barbel sih. Nggak mau.” Prilly berkeras menolak.
“Kalau mau jadi anggota Jigoku harus mempunyai fisik yang kuat.” Ucap Alian dengan suara lembut tapi tegas. Lagi\-lagi Prilly tak bisa melawan tatapan mata Alian. Seperti dua hari yang lalu saat ia tak mampu menolak perintah sit up 100 kalinya. Kini ia mulai mengangkat barbel yang dipersipakan Alian dari gym sekolah. Gadis itu nampak kelelahan tapi ia masih bersemangat sampai peluh menetesi dahinya. Sementara Alian duduk santai sambil membaca sebuah buku tebal seperti eksiklopedia berbahasa inggris sambil sesekali melirik kearah Prilly.
“Awww!!!” Prilly menjatuhkan barbel dan nyaris menimpa kakinya jika saja ia tidak sigap mengindar. Alian segera mendekati Prilly yang sedang duduk memegang bahunya.
“Kenapa tidak hati\-hati.” Omelnya memeriksa bahu Prilly dengan menyampirkan seragam putih gadis itu.
“Dia kenapa?” tanya Ryota yang tiba\-tiba muncul tanpa diundang dan akan pergi tanpa pamit. Ia terlihat cemas mendorong tubuh Alian agar menjauh dari Prilly. Ryota memijat bahu Prilly sementara gadis itu meringis kesakitan.
“Salah urat.” Ucap Alian santai, melipat tangan didepan dada.
“Kau yang tidak becus melatihnya. Akukan memintamu untuk melatihnya bukan malah melukainya.” Ryota melegos kesal seraya memijat bahu gadis itu.
__ADS_1
“Saat pemanasan pasti main\-main.” Bantah Alian menolak disalahkan.
“Apa? Hei apa salahnya sih mengakui kalau kamu tidak mengawasinya. Kamu menyuruhnya ini dan itu tanpa memperhatikan apakah dia melakukannya dengan baik.” Ryota bangkit menantang Alian.
“Kau yang memintaku melatihnya. Begitulah caraku. Kalau kau ingin aku melakukannya, aku melakukannya dengan caraku.” Keduanya bertatapan tegang.
“Udah nggak apa\-apa kok Ryota, nanti di urut sama tukang pijit langganan Mama juga sembuh.”
“Ryota.” Ia merasa risih saat tangan Ryota terus memengang tangannya.
“Kenapa?”
__ADS_1
“Jangan terbang lagi yah, ngeri.” Pinta Prilly.
“Iya.” Ryota tersenyum manis mengacak rambut Prilly yang cuma sebahu. Sampai dirumah Prilly dimarahi mama. Bukan karena bahunya yang cedera tapi penampilannya yang selalu kumal dan dekil kala pulang sekolah belakangan ini.
“Kamu ngapain sih disekolah? Setiap pulang sekolah kok pakaiannya kayak gitu. Kotor penuh pasir, rambut kamu awut\-awutaan, mana baunya asem banget lagi.” Mama cerewet menyaksikan pemampilan Prilly yang mirip gembel berseragam sekolah.
“Mah, Prilly latihan ini.. aduh.. anu mah, mmm latihann..”
“Latihan apa?”
“Pokonya latihanlah. Mandi dulu ya.” Prilly segera ngacir kekamar tidurnya.
“Mama!!! Nanti panggilin tukang pijet ya.” Pinta Prilly dengan kepala terjulur keluar sebelum akhirnya ia bungkam karena Papa mendadak datang dari kantor. Ia kembali masuk kamar dan membersihkan diri.
__ADS_1
Dibawah pancuran air yang memancar dingin menyegarkan, Prilly melihat bercak membiru dibahunya. Ia membuka telapak tangannya mencoba berkonsentrasi dan ketika membuka mata, semburat hijau kembali memancar keluar dari tangan kanannya. Air pancuran nampak melayang diatas tangannya seperti sebuah mangkuk tak terlihat yang menampung air sehingga tertahan diatas tangannya. Prilly berdecak takjub tak percaya atas dirinya sendiri, atas kekuatan aneh yang memancar dari dirinya. Entah apa yang merasukinya, Prilly mengarahkan tangan kanannya menuju bahu kirinya yang cedera, secara ajaib memar kebiruan itu perlahan memudar dan hilang bersamaan dengan rasa nyerinya yang mendadak lenyap.
***