Release My Soul : Story of Shinigami

Release My Soul : Story of Shinigami
Latihan Pertama


__ADS_3

“Tadi kak Alian nengok loh.” Goda Hana sesaat setelah bel istirahat berbunyi nyaring.


“Tau ah.” Prilly malu-malu meong padahal ia juga sempat grogi dan jantungnya berpacu.


“Eh, mau kemana?” sapa seseorang dibelakang punggung kedua gadis itu. Hana membetulkan letak kacamatanya , melihat sosok yang barusan menyapa mereka. Alian.


“Itu… anu… mau kekantin.” Prilly gelagapan mengangkat bekal makan siangnya. Gadis itu memang bisa dibilang kolot, dikantin sudah ada penjaja makanan yang siap menyediakan kebutuhan logistik untuk perutnya tapi ia tetap ngotot membawa bekal meski Hana terkadang menyindirnya dengan sebutan anak SD. Toh Prilly tak peduli, sejak kecil mamanya selalu menanamkan kebiasaan itu dari Prilly SD dan karena senang dengan makanan rumahan, Prilly justru keterusan sampai SMA tapi bedanya kini Prilly memasaknya sendiri bukan lagi mamanya. Prilly tumbuh menjadi mandiri dan pandai memasak.


“Boleh aku pinjam Prilly sebentar?” tanya Alian pada Hana yang dijawab anggukan kaku penuh keheranan gadis itu. Sementara Prilly kembali bergidik, darahnya berdesir seirama dengan nafasnya yang mendadak memburu. Jantungnya kembali berpacu kencang seperti kuda yang sedang berlaga. Perutnya mendadak aneh seperti ada kupu-kupu yang menari disana, seolah mengejek sikap Prilly yang tidak bisa mengendalikan diri dihadapan orang yang ia kagumi ini.


Dasar Prilly norak. Runtuknya dalam hati.

__ADS_1


“Duduk disana yuk.” Ajak Alian melangkah mendahului Prilly kearah sebuah bangku yang diapit dua buah pohon ketapang yang tingginya menjulang menghadap lapangan bola yang dipenuhi rumput hijau dan siswa yang sedang masuk kelas olahraga. Prilly berjalan kaku seperti robot menyusul Alian dan dengan ragu mengambil tempat tepat disamping pemuda karismatik itu.


“Ini.” Prilly menawari Alian bekal makan siangnya. Sandwich keju dan pastel goreng. Alian tanpa ragu mencomot sebuah sandwich dan mengunyahnya pelan. Ia mengeluarkan dua buah jus jeruk dari jas sekolahnya. Prilly suka sekali jeruk, ia tersenyum menerima sodoran itu. “Thanks.” Ucapnya lirih.


“Pulang sekolah kita mulai latihan fisik.” Ucap Alian tegas tanpa basa-basi. Sekolah memang selalu sepi saat jam pulang. Dan akan kembali ramai pada sabtu minggu karena jadwal ekstrakurikuler


Hah latihan fisik? Kan aku masih mau berduaan dulu. Ah nggak asik. Prilly meruntuk kesal. Meski begitu ia tetap semangat karena Alian selalu jadi energinya. Namun Prilly salah, latihan jauh lebih berat. Bayangkan saja ia harus berkeliling lapangan sekolah 10 kali yang seluas lapangan sepak bola .


“Itu baru 3 kali putaran. Ayo terus.” Teriak Alian galak. Ia nampak santai dibawah pohon melihat Prilly berlari.


Baru 2 putaran Prilly sudah loyo. Ia tidak sanggup lagi berlari. Tenaganya habis menguap karena kecapaian meski siang itu langit Jakarta mendadak mendung. Prilly berbaring lemas diatas rumput, mengatur nafas dan detak jantungnya. 2 putaran mengelilingi lapang seluas lapangan sepak bola saja sudah membuat jantungnya serasa mau copot apalagi 10. Bisa-bisa mati mendadak cuma karena ini.

__ADS_1


Prilly merasa ada aliran dingin membasahi wajah dan rambutnya. Sebuah handuk putih basah telah mendarat mulus diwajahnya yang keringatan dan dipenuhi bulir pasir. Gadis itu bangkit dari pembaringan dan menatap sosok tubuh yang telah berdiri disampingnya.


“Ryota!!!” serunya kaget. “Astaga Ryota aku hampir mati karena harus mengelilingi lapangan ini sepuluh kali. Kamu tidak bilang latihannya akan ekstrim seperti ini.”


“Hahah ini kan hari pertama, lagi pula ini baru tahap awal Prilly-chan.”


“Ya ampun Ryota nafasku mau putus.”


“Sudah jangan mengeluh. lanjutkan sampai sepuluh.” Ryota mengacak rambut Prilly seraya memamerkan senyum termanisnya pada gadis itu.


Prilly membelalakkan mata. “Apa!!!”

__ADS_1


***


__ADS_2