Release My Soul : Story of Shinigami

Release My Soul : Story of Shinigami
Menjemput Kematian


__ADS_3

“Prill, mbak Doimah sudah ada nih, apanya yang mau diurut.” Teriak Mama dari lantai bawah.


“Nggak jadi mah, Prilly udah sembuh.”



“Prilly!!! Mbak udah disini masa disuruh pulang lagi sih.” Mama tersenyum malu kearah sang tukang pijit langganan.



“Mama aja yang dipijat. Kayak disalon gitu.” Ucap Prilly dengan santai membuka pintu kulkas.



“Yaudahlah, dari pada mubazir. Ayo mbak ke ruang tengah.” Pinta mama.



“Alice mana ma?” tanya Prilly duduk disamping mamanya yang sedang dipijat punggungnya.



“Dikolam sama papa.”



Mulut Prilly membentuk huruf O.



“Biip!!!Biiip!!!” klakson terdengar dari arah depan rumah.

__ADS_1



“Buka Prill, ada tamu.”



Prilly dengan malas membuka pintu rumah dan melihat seseorang yang dikenalnya sedang duduk dibalik setir mobil merah maroon yang mengkilap.



“Ayo masuk.”



“Hah kemana?” Tanya Prilly bingung.




“Mamah, Prilly maen sama temen dulu ya.” Teriaknya dengan suara anak\-anaknya yang sangat khas. Manja.



“Siapa? Cowok atau cewek?” teriak Mama dari dalam.



“Cowok.”


“Oh yaudah tapi pulangnya jangan malem-malem ya.”

__ADS_1


“Iya.” Prilly mengambil sepatu bot hitamnya dan melangkah masuk ke mobil Alian. “Nggak pake terbang-terbang ya.” Pintanya memasang sabuk pengaman.


Mobil itu meluncur ke sebuah rumah sakit ternama di Jakarta. Gedungnya berlantai 20 dengan suasana nyaman dan full AC. Dengan setelan jas hitam dan kacamata hitam, Alian keluar dari mobil. Ia membuka mobil dan menggandeng tangan Prilly masuk kedalam rumah sakit. Jantung Prilly serasa menggelepar saat jari Alian menggenggam erat jemarinya yang mungil. Ia hanya bisa bungkam meski bingung atas sikap Alian yang mendadak mengajaknya kerumah sakit ini.


“Disini nggak ada yang bisa lihat kita.” Ucapnya melepaskan genggamannya. Prilly bingung namun benar saja tak ada yang mempedulikannya saat ia berusaha menyapa suster dan beberapa pasien rumah sakit, mereka seolah tak melihat keberadaan Prilly. Prilly melihat kamar-kamar dan pasien lalu-lalang dengan tatapan bingung.


“itu asap apa?” tunjuk Prilly pada seorang pasien yang terbaring dengan alat bantu pernafasan dan monitor pemantau denyut jantung.


“Melihat asap hitam yang menyelimuti pasien dan orang-orang itu?” Kalian terkejut.


Prilly mengangguk karena ia memang melihat warna hitam yang berpendar seolah keluar dari tubuh mereka.


“Sebentar lagi mereka akan dijemput kematian.”


“Apa?”


“Mereka akan mati dalam waktu dekat. Kita akan menjemput mereka setelah roh itu terlepas dari tubuh. Jika roh itu melawan, itulah namanya perburuan. Jangan sampai roh jahat itu berkumpul di atmosfir dan membangkitkan raja iblis.”


“Tapi tidak banyak yang bisa melihat pendar-pendar kematian. Kemampuanmu langka, Aku, Ryota juga yang lainnya tidak bisa melihat aura hitam kematian itu. Untuk mengetahuinya kami membutuhkan kacamata khusus ini. Lagi pula itu sebuah ironi. Karena kau akan tahu kematian seseorang tapi kau terikat aturan untuk tidak memberi tahunya.”


“Kenapa begitu?”


“Kelahiran, kematian, semuanya sudah jadi takdir. Kau tidak bisa menawar dan mencegahnya sebagaimana keras pun kau mencoba.”


“Lalu bagaimana kau bisa tahu kemana kau akan melakukan tugas sebagai Shinigami?”


“Kami punya radar di markas. Teknologi tinggi yang canggih luar bisa. Dijelaskan pun, kau juga tidak mengerti. Intinya markas akan mengirim data lokasi ke ponsel ini. ” Alian mengangkat ponsel layar sentuhnya. “Lagi pula roh jahat itu harus segera di kirim ke neraka sebelum membangkitkan raja iblis. Mengerti?” Prilly mengangguk membayangkan sosok Raja iblis, membayangkan sosok bertanduk, berbulu hitam dan bertubuh besar, jelek dan menyeramkan sekali. Prilly menggeleng-geleng membayangkannya.


Prilly berjalan mendekati Alian menuju sebuah ruangan ICU, tampak seorang pria tua tengah duduk termenung dengan mata sembab dan bengkak habis menangis. Ia duduk memandang lantai tapi tatapannya seolah menerawang jauh.


***

__ADS_1


__ADS_2