
بسم الله الرحمن الر حيم
Pagi ini Zain tidak serapi seperti biasanya saat pergi kekantor, tubuh dan hatinya lelah walau allah beri ia waktu untuk istirahat dimalam hari namun tetap saja matanya tak mau terpejam memikirkan perkataannya yang menyakiti Indah, seseorang memasuki ruangannya tanpa diketuk Zain menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dengan mata terpejam ia tau siapa yang masuk keruangannya tanpa sopan santun.
“assalamu’alaikum.. yaallah akhi.. itu muka ente kenapa, terus kok ente awut awutan gini sih Zain.. matanya lagi, ente kenapa galau masalah cinta eh?” tebakannya benar tak melese sepertinya.
“bisa diem dulu gak si Ril.. gue leleh duduk sana” titahnya
“jawab salam dulu lah Zain”
“sudah dalam hati. Huft” hembusan nafas frustasi terdengar diindra pendengaran Aril yang duduk dikursi hadapannya.
“mau berbagi Zain?” lama berfikir akhirnya Zain mengangguk setuju ia mulai menceritakan akar pemasalahan yang diabutanya sendiri.
“wah parah ente cemburunya keterlaluan, apalagi perkataan si akhwat itu bener ente dan dia gak ada hubungan apa-apa jadi ente gak ada hak menghakimi apalagi tanpa tau yang sebenarnya, tu jadinya fitnah”
“terus gue harus ngapain Ril”
“entahlah, Zain kamu taukan Zain cinta sebelum sah itu ujian.. jika ente beneran serius sama anak gadis orang datangin kedua orang tuanya, dan sebelum itu diskusikanlah dulu sama allah dan satu lagi minta maaflah sama dia setelahnya ente jangan sering temuin dia dosa Zain” nasehat Aril sahabat seperjuangannya dari kuliah hingga berjuang membangun perusahaannya sendiri itulah kenapa Zain memberikan jabatan Direktur padanya.
__ADS_1
“huft baiklah, aku pulang dulu ya.. jika ada meeting client tolong kamu yang handle kepalaku pening” ucapnya lirih, Aril dengan sigap bangun dari duduknya mendekati Zain yang sudah bangun menempelkan punggung tangannya pada dahinya dan benar kulit Zain anget.
“udah sana pulang.. hati-hati ya, atau mau aku antar Zain”
“tak perlu ril.. aku masih mampu, udah ane pamit assalamu’alaikum”
“waalaikumsalam warahmah." jawab Aril seraya mengantarkan kepergian Zain, hingga Zain hilan dibalik pintu.
#####
Zain benar-benar sakit 5 hari ia sudah tidak kekantor, rencana setelah mendapat nasehat dari Aril akan meminta maaf pada Indah namun tidak jadi alasannya karna ia terlalu takut untuk kesana, takut membuat Indah terluka lagi, kedua kondisi badannya yang tiba-tiba menurun, kondisinya lemah, ia menggapai ponsel dinakas samping tempat tidurnya hingga berhasil dengan berat ia membuka ponsel mencari no. dipenyimpanan telfonnya.
“ tolong kesini.. aku lemes kepalaku pening banget” ucap Zain dengan suara lemah kepada seseorang diujung telfon sana. Setelahnya ia tidak tau lagi karna pening yang mendera membuatnya tidak sadarkan diri.
“mau kemana neng?” Tanya mbk Sin melihat Indah yang panic.
“keapartemen Mas Zain mbk.. sepertinya dia sakit” jawab Indah “ pak minta tolong lebih cepat ya” pintanya pada taxi, Indah tau alamat apartement Zain karna Zain pernah mengajaknya kesana hanya sekedar mengganti bajunya tapi Indah tidak ikut kemasuk ia menunggu diluar pintu apartemen Zain. Diam-diam Mbk Sin tersenyum melihat kekawatiran Indah.
Sesampainya didepan pintu apartemen Zain Indah sedang berfikir tentang kunci sandi apartemennya ia mengingat saat ia ikut Zain
__ADS_1
( flash back ON)
“kunci apartemen ini adalah sebuah sejarah”
“sejarah?” Tanya Indah heran
“heum… angkanya no belakang ponsel kamu dan aku” jawabnya namun saat itu Indah tak menggubrisnya ia pikir Zain tengah bercanda padanya.
(OFF)
Indah mencobanya dan memang benar buktinya pintu terbuka ‘ aku pikir dia hanya bercanda’ batinnya. Indah masuk ke apartemen seorang lelaki yang didominan berwarna hitam mix abu-abu bersih dan terawat mbk Sinpun tercengang karna saking mewah dan bersihnya rumah yang Indah sebut aparmen katanya.
“ayo mbk, putri kita ke kamar Zain” ajak Indah
“memang neng tau?”
“gak sih, tapi sepertinya dilantai dua itu deh” ucapnya, mereka pergi sesuai insting Indah.
Dengan hati-hati Indah membuka pintu dan benar saja terlihat disana Zain yang terbaring lemah diatas kasur dan tubuhnya terlilit selimut. Mbk Sin yang mengambil tindakan sesuai intruksi Indah dengan menyuruh Mbk sin mengompres. Sedangkan Indah mengambil kotak p3k mencari salonpas penurun panas dan ketemu ia kembali kekamar Zain dan menempelkan salonpas penurun panas itu kedahinya.
__ADS_1
“panasnya 38 derajat, cukup tinggi” ucapnya, Indah mengambil ponsel Zain mencari no seorang dokter karna Indah yakin orang kaya pasti punya dokter pribadi dan benar saja ada dokter akan datang sebentar lagi.
Terimakasih.... 😊😊