
Indah sedang bekerja dikantor bersama Syifa mengurusi gaji karyawan untuk cuti 1 bulan kedepan dibulan ramadhan ini. Sesekali Indah menguap didepan monitor yah seperti yang kalian tau bumil satu ini suka tidur bukan.
“mending teteh tidur aja deh.. kasian tuh.. ponakan aku juga ngantuk kali teh” ujar Syifa gemas karna kakak iparnya yang mati-matian menahan kantuk.
“heum.. kita kerjain dikamar teteh aja yuk Fa.. biar bisa tiduran juga” ajak Indah dan Syifa meng iakan. Ummah dan Abah sudah kembali ke Aceh setelah 15 hari tinggal bersama mereka.
“kerjaian dikasur aja yuk” ucap Indah. Sekolah tempat ia mengajar juga sudah libur jadi selama ia mengajar Syifa yang hendle semua sesekali saja ia mengecek. Dan sekarang ia turun tangan untuk mengurusi hal penting.
(kamar dan ruang kerja).
Dan benar saja belum 5 menit Indah sudah terlelap membuat Syifa terkekeh.
“heum.. tadi aja pura-pura kuat nih teteh.. ummi kalian ini lucu ya sayang” uajrnya seraya terkekeh kecil sesekali mengusap gemas perut tetehnya dan entah kenapa Syifa merasa Indah semakin nyaman.
Ia menyelimuti kakak iparnya itu dan tangannya yang menganggur dibuat mengusap perut Indah. Syifa memang sayang dengan kakak iparnya yang sifatnya tidak jauh beda dengannya namun pemikirannya cukup dewasa rasa sayang Indah padanya juga tidak ada maksud benar-benar tulus. Indah juga mampu membuat orang lain nyaman dengannya.
__ADS_1
Seperti Sofia hanya saja Sofia lebih ke dewasa mungkin dia tertua jadi seperti keibuan bagi Zain, Syifa dan Indah. Hingga usapan Syifa pada perut Indah tehenti saat dering ponsel terdengar yang tak lain milik kakaknya.
“assalamu’alaikum Bang kenapa?”
“kalian dimana, kakak diruangan kalian tapi gak ada” jawab Zain, yap yang menelfon Zain.
“oh ini lagi nemenin bumil yang lagi bobok, dikamar. Taukan kamar teteh” jelasnya dan Zain langsung mematikan sambungan telfon membuat Syifa jengkel. Walau jengkel abangnya ini sosok pelindung kedua dan penyayang dirinya.
“ assalamu’alaikum” salam Zain lirih
“waalaikumsalam” Syifa yang mengerti langsung turun dari tangga menyalami kakaknya.
“ia bang.. yaudah aku keluar dulu mau ngurus parsel udah datang soalnya” ijinnya
“heum.. kalo ada apa-apa langsung hubungi kakak loh ya” pesan Zain dan diangguki oleh Syifa.
Zain menaiki tangga dan tersenyum melihat istrinya yang bergelung nyaman diatas kasur dan dibawah selimut. Membuka sepatu dan ikut menaiki kasur lalu merengkuh istrinya dari belakang dengan tangan mengusap sayang perutnya.
“assalamu’alaikum baby biya pulang” sapa Zain, dan mendapatkan balasan dengan tendangan yang sangat kerasa ditangannya membuat Zain terkekeh.
__ADS_1
“kangen biya ya” tanyanya pada sang cabang bayi dan lagi ia merasakan tendangan itu. Dan membuat si ibu yang berbaring miring kini terlentang membuat Zain lebih leluasa mengajak si twins mengobrol
“he..he.. sama sayang biya juga.. udah bubuk lagi ya.. kasian ummi takut keganggu” tendangan itu berbalas dengan kecil dan pelan dan kini perut itu mulai tenang “ pinter mujahid-mujahid kecilnya Biya dan ummi. Selamat tidur” ucap Zain seraya mencium dalam perut itu.
++++++
Sore hari seperti biasa Zain dan Indah akan berjalan\-jalan, lebih tepatnya berjalan kaki sekalian olah raga dan mencari jajanan takjil untuk berbuka. Putri dengan Syifa sudah berjalan didepan, memlih yang mereka mau asalkan tidak berlebihan itu pesan Zain sedangkan dirumah ada Mbk Sin dan bibi yang memasak makanan untuk berbuka. Zain dan Indah mengajak mereka namun tak mau kali ini mereka ingin masak dan Zain meng iakan saja. Saat dikedai bubur sumsum. Ada seorang gadis yap yang tak lain adalah Nasila.
“hey assalamu’alaikum A’ Malik” sapanya seraya tersenyum manis dan benar jika sudah ketemu Zain hanya Zain yang terlihat yang lainnya tak kasat mata.
“eh.. Indah ikut juga ya” sapa Nasila ‘ jadi aku udah terlihat” batinnya.
“waalaikumsalam” jawab keduanya.
“kok kakak beli disekitar perumahan ini.. rumah kakak disini ya?” Tanya Indah
“ia.. kalian tinggal disini?” Tanya Sila dengan berbinar sepertinya Zain tak selasa untuk menjawab atau mengobrol entahlah, mengingat Indah dibuat nangis karna kelalainnya dan itu berujung trauma ya trauma menyakitkan saat membuat Indah menangis.
Hal yang paling Zain hindari sungguh cukup sekali membuat istrinya itu memangis yang efeknya luar biasa menyakitkan di hati dan jantungnya.
__ADS_1
Terimakasih....😊😊😊