
بسم الله الرحمن الر حيم
Setiap ibu pasti akan melakukan hal yang sama setiap pagi yaitu berkutat didapur menyiapkan sarapan untuk keluarga tercinta.
“aa…. Mei…” suara pekikan cempreng dengan suara imutnya itu berteriak histeris dengan seseorang dibelakangnya yang mengejar, sesekali pemilik suara yang tadi berteriak itu tertawa histeris lalu berlarian menuju sang ummia yang kini dipeluk erat oleh seorang gadis mungil dengan rambut sebahunya yang tebal berwarna coklat legam yang kata Zain mirip dengan rambut Abahnya, beda dengan rambut Zain yang memang berwarna hitam tebal.
“a.. mei.. ada monstel.. kejal adek..” ia bersembunyi dibalik tubuh indah dan memeluk pahanya erat.
“dimana anak kecil cantik itu.. mau aku makan ha..ha…” suara Zain yang datang dari tangga yang kini semakin dekat kedapur membuat sang putri melompat-lompat antara takut, cemas dan senang kini Zain tepat berada didapur ia tersenyum mengembang saat melihat tangan putri kecilnya yang memeluk paha ibunya, Zain melangkah mendekat namun dicegat oleh seorang lelaki mungil imut dan lucu membawa pedang plastiknya dan menggunakan jilbab segi empat sang ibu yang berwarna merah ia ikat dileher membentuk sayap superman, Zain berusaha menahan tawa karna kerudung sang ibu yang jadi sasaran objek kostum sang anak.
Dengan kolor sepaha berwarna merah dan kaos dengan lengan setali bergambar superman didepannya.
“belhenti angan mendekat” cegatnya lantang dan berkacak pinggang
“mau apa kau anak kecil”
“anan anggu mei dan dedek laksasa jelek” Indah tergelak mendengar ledekan sang putra pada ayahnya, yang memang selalu bersaing dan narsis dengan tak mau kalah mengaku tampan dan paling tampan.
__ADS_1
“ck.. lebih jelek kaulah” sanggah Zain tak terima , nah kan
“moh….. aku anteng ata Mei.. kamu elek.. wlee…” lagi Indah tertawa, Zain yang gemas dengan putranya ini yang kopian banget dia hanya rambutnya yang mengikuti sang Abah berwarna coklat dan bibir persis sang ibu. Zain merengkuh lalu menggelitiki perut endut putranya itu yang gembul.
“ha..ha.. udah Biya ha..ha.. eli..” pintanya
“gak mau bilang Biya tampan dulu harus!”
“moh.. aban ampan biya elek.. Mei antic.. dedek antic” jawabnya disela tawa Zain yang gemas menggelitiki putranya lagi. Hingga suara nafas lelah dan memburu terdengar ditelinga Zain anaknya lelah.
“udah By.. kasian anaknya..” saat berbalik Indah terjengit kaget akan sayap yang digunakan putranya.
“he..he.. apet di.. kelanjang cucian di luang cuci Mei” jawabnya polos, dan Indah hanya mampu menghela nafas. Orion yang melihat itu meminta turun dari gendongan Zain lalu memeluk paha ibunya yang dirinya memang setinggi itu.
“Mei malah ya..” tanyanya memelas
“leh.. Mei malah tuh ban.. awas loh ental Mei ebih ayang dedek.” Ledek Oriana, Dan si putra itu kini meloncat-loncat merajuk
__ADS_1
“anan malah Mei.. anji gak akal gini lagi” jawabnya bibirnya melengkung kebawah hendak menangis namun urung saat sang ibu tersenyum lembut mensejajarkan tingginya.
“gak papa nak.. gak masalah kok.. yang panting kerudung Mei gak dirusakin ya.. oh ya nanti kalo sama abang udah gak dipakek dikembalikan ketempatnya lagi ya” jelas Indah dengan lembut, dan Orion mengangguk patuh
“Mei adek ugak engen ium” pintanya dan kini bibir mungil itu dimonyongin minta dicium Indah yang gemas mencium gemas bibir mungil itu dengan bibirnya lalu Oriana menciumi seluruh wajah ibunya bergantian dengan si abang.
Pemandangan yang indah dan menakjubkan bagi Zain. Beginilah setiap pagi sebelum kekantor Zain menyempatkan bermain dengan putra dan putrinya yang kini berumur 5 tahun yang kini sudah sekolah sd kelas 1 walau sempat dilarang oleh Indah dan Zain namun guru pembimbingnya mengatakan jika putra dan putri mereka mampu. Memang sikembar tergolong anak yang cerdas dan mudah mengingat bahkan kini mereka hampir menyelesaikan hafalan al-qur’annya.
++++++++
Sebelum dzuhur Indah sudah bersiap dengan gamis berwarna pink soft dan khimar bergo senada yang menjuntai hingga kepaha. Ia keluar kamar karna sudah siap mendatangi kamar sikembar yang masih sekamar baru nanti setelah berumur 6 tahun Zain akan memisahkan kamar mereka.
“udah siap malaikat-malaikt kecil Mei?” Tanya Indah setelah membuka pintu menampilkan dua mujahid kecil yang tersenyum manis kepadanya, si abang menggunakan hem berwarna pink dengan celana seperempat berwarna putih dari bahan katun yang tebal, dan sikecil juga sudah siap dengan gamis anak-anak dan kerudung bergo rempel seperti sang ummi yang juga berwarna pink mereka selaras kompak dengan warna baju yang sama. Baju dari koleksi produksi baju Indah.
“ayo..” ajak Indah, kedua bocah embul itu memang sudah bisa mengenakan baju sendiri sedari umur 4 tahun, walau terkadang masih juga dibantu oleh Indah. Mereka berencana mendatangi kantor sang ayah,
mumpung ia dan kedua bocahnya libur.
__ADS_1
Terimakasih....😉😉😉